Beberapa waktu lalu, perhatian publik sempat tertuju pada Global Sumud Flotilla 2.0 setelah kapal misi kemanusiaan itu dicegat militer Israel di perairan internasional. Insiden tersebut berujung pada penahanan ratusan aktivis dan jurnalis dari berbagai negara yang terlibat dalam misi kemanusiaan untuk Palestina. Sembilan orang di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI), terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis.
Para relawan yang sempat ditahan kini telah dibebaskan dan dipulangkan ke negara masing-masing, termasuk para WNI yang sudah tiba kembali di Indonesia. Namun, deportasi tersebut juga membuat mereka tidak dapat melanjutkan misi kemanusiaan menuju Palestina.
Kabar ini kemudian ramai dibicarakan di media sosial, termasuk di komunitas musik Indonesia. Sejumlah musisi ikut membagikan perkembangan situasi serta menyuarakan solidaritas untuk para relawan dan warga Palestina.
Eka Annash dari The Brandals menjadi salah satu yang aktif membagikan perkembangan terkait flotilla melalui media sosialnya. Ia juga mengunggah poster gerakan “Release the Hostages” dari Aksi Kamisan sebagai bentuk dukungan terhadap para relawan yang ditahan. Sementara itu, Chiki Fawzi turut menyuarakan dukungannya lewat unggahan yang menyoroti aspek kemanusiaan dari konflik yang masih berlangsung. Musisi lain seperti Kareem Soenharjo atau BAP. juga terlihat membagikan perhatian mereka terhadap sembilan WNI yang sempat ditahan dalam misi tersebut.

Respons semacam ini sebenarnya bukan hal baru di skena musik Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak musisi yang secara terbuka menunjukkan perhatian mereka terhadap isu-isu kemanusiaan, termasuk Palestina. Media sosial pun membuat peran musisi ikut berubah. Platform yang sebelumnya lebih sering digunakan untuk mempromosikan karya kini juga menjadi ruang solidaritas dan distribusi informasi. Ketika isu kemanusiaan bergerak cepat di internet, suara dari figur publik, termasuk musisi, ikut berperan menjaga perhatian publik agar tidak cepat bergeser.
Global Sumud Flotilla sendiri merupakan misi kemanusiaan internasional yang membawa bantuan untuk warga Palestina. Di tengah akses bantuan yang semakin terbatas akibat blokade dan konflik berkepanjangan, misi seperti ini menjadi salah satu jalur distribusi bantuan yang terus diupayakan oleh kelompok solidaritas internasional.
Meski begitu, solidaritas tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar atau perjalanan langsung menuju wilayah konflik. Tidak semua orang bisa ikut dalam misi kemanusiaan seperti flotilla, tetapi bukan berarti dukungan hanya berhenti di media sosial. Ada banyak cara lain untuk menunjukkan solidaritas, mulai dari menyebarkan informasi, berdonasi, hingga membantu distribusi bantuan dari jarak jauh.
Salah satunya seperti program Baitulmaal Muamalat (BMM) yang membuka distribusi kurban untuk Palestina dalam berbagai bentuk yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Selain distribusi daging segar, bantuan juga disalurkan dalam bentuk frozen food dan rendang kaleng agar lebih mudah menjangkau wilayah dengan akses distribusi yang terbatas.
Skema seperti ini menjadi salah satu cara agar bantuan pangan tetap dapat diterima warga di tengah situasi konflik dan keterbatasan logistik yang masih berlangsung.
Pada akhirnya, solidaritas mungkin memang tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada yang memilih turun langsung lewat misi kemanusiaan, ada pula yang menjaga perhatian publik lewat karya dan media sosial. Namun dari sini, bantuan tetap bisa bergerak lewat langkah-langkah yang lebih dekat dengan keseharian.




