Setiap 27 Mei, gue tidak perlu membuka kalender untuk tahu tanggal berapa hari ini. Cukup buka sosmed, dan timeline sudah menjawab sendiri. Tidak ada penjelasan, tidak ada konteks, hanya rentetan “kami dari” yang muncul berulang seperti salam pagi yang sudah semua orang hafal cara membalasnya.
Gue pertama kali tahu lagu ini dari Instagram story seorang teman, bukan dari versi aslinya, tapi dari versi kadal joget. Dari situ gue langsung berusaha mencari dokslinya karena gue perlu tahu lagu apa ini dan kenapa seekor kadal joget menjadi pintu masuk gue ke sana. Itu pertanda bahwa sebuah lagu sudah bekerja dengan baik: ia menarik perhatian bahkan sebelum lo tahu ia ada.
Untuk yang belum tahu, ini dia:
Kami dari 27 bulan Mei (bulan Mei) / Ayo dong bantai kami (ayo dong bang) / Kalau elo punya nyali (kalau punya nyali ye) / Tongkrongan kami bukan tongkrongan pecundang (pecundang pecundang)
Maka dengan rasa hormat yang sebesar-besarnya, hari ini gue akan mengulas “Tongkrongan Kami Sopan” dari Brother PBSU 275.
Tentang Lagu Ini
Lagu ini pertama kali diunggah ke YouTube pada 2017 melalui kanal Fonni Cungkring, dan untuk beberapa tahun lamanya ia hidup dengan tenang, tidak banyak dikenal, tidak banyak diganggu. Baru pada 2022, TikTok memutuskan bahwa sudah waktunya dunia tahu. Sejak saat itu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Secara sonik, “Tongkrongan Kami Sopan” berdiri di atas fondasi kentrung atau ukulele, dan suaranya terasa rapi dengan cara yang tidak dibuat-buat. Seperti lagu yang lahir di tongkrongan yang asik, sambil main gaple dan ngudud, lalu seseorang bilang “eh ayo bikin lagu” dan semua orang langsung oke. Tidak ada yang memikirkan legacy. Tidak ada yang membayangkan bahwa 27 Mei akan jadi hari raya. Mereka hanya main, dan itu terasa.
Soal lirik, gue tidak akan berpura-pura bahwa “kami dari 27 bulan Mei, ayo dong bantai kami” adalah baris yang lahir dari proses penulisan yang panjang dan penuh pergulatan. Tapi justru di situlah menariknya. Setiap kali baris itu muncul, respons pertama gue selalu ketawa, lalu melanjutkannya dengan “ayo dong baaaang” seperti sahutan yang sudah terinstal di suatu tempat dalam diri gue tanpa izin. Tahun ini, kebetulan kosmik menjadikan baris itu lebih lucu dari sebelumnya karena 27 Mei 2026 jatuh bersamaan dengan Idul Adha. Gue tidak bisa tidak membayangkan kambing dan sapi ikut menyanyi.
Soal Tanggal
Ini bagian yang menurut gue paling tidak mendapat perhatian yang layak dari diskursus musik Indonesia.
Coba pikir: berapa banyak lagu yang bisa menjamin dirinya didengar secara serentak oleh ribuan orang pada tanggal yang sama setiap tahun? Bukan karena ada label yang mengatur ulang rilis, bukan karena ada algoritma yang mendorongnya, bukan karena ada campaign iklan yang dipersiapkan tiga bulan sebelumnya. “Tongkrongan Kami Sopan” melakukannya murni karena ia kebetulan menyebut tanggal 27 Mei di liriknya, dan internet Indonesia memutuskan untuk menjadikan itu hari raya.
Ini adalah bentuk konsistensi rilis yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh strategi marketing manapun. Konsistensi yang lahir bukan dari disiplin, tapi dari afeksi kolektif yang tidak ada yang memimpin dan tidak ada yang merencanakan.
Kemarin gue uninstall Twitter, jadi gue buka timeline agak telat. Tapi bahkan telat pun, yang gue temukan tetap sama: tweet tentang 27 Mei dalam berbagai bentuk, berbagai adaptasi, berbagai persona akun yang masing-masing menginterpretasikan momen ini dengan caranya sendiri. Tidak ada yang persis sama, tapi semuanya lucu. Itu bukan kebetulan. Itu budaya.
Adaptasi sebagai Bentuk Hiburan
Tidak banyak lagu yang punya versi Spongebob dan Patrick main ukulele di episode camping, lalu versi itu beredar luas dan orang-orang menganggapnya sebagai tribute yang sah.
Tapi versi Spongebob ini memang layak mendapat pengakuan tersendiri. Sinkronisasinya parah, dalam artian yang baik: visual Spongebob dan Patrick sedang berkemah sambil main kentrung itu bertemu dengan sound “kami dari 27 bulan Mei” dengan presisi yang tidak masuk akal. Tidak ada yang memaksanya untuk cocok, tapi ia cocok, dan itu menjadikannya kocak dengan cara yang sulit dijelaskan tapi langsung dirasakan semua orang yang menontonnya.
Fenomena adaptasi ini, kalau mau dibaca serius, adalah bukti bahwa sebuah lagu sudah melampaui dirinya sendiri. Ia tidak lagi milik PBSU 275 sepenuhnya. Ia milik siapapun yang pada 27 Mei memutuskan untuk ikut merayakan sesuatu yang tidak jelas apa sebenarnya yang dirayakan. Dan justru ketidakjelasan itu yang membuatnya inklusif dengan cara yang aneh.
Orang yang tidak tahu lirik lengkapnya tetap bisa ikut. Orang yang baru pertama kali tahu lagunya hari ini tetap bisa ikut. Yang dibutuhkan hanya dua kata: “kami dari.”
Gue tidak akan bilang bahwa “Tongkrongan Kami Sopan” adalah lagu terbaik yang pernah gue dengar. Itu bohong, dan lo tahu itu bohong.
Tapi gue juga tidak bisa menyebut banyak lagu yang berhasil menciptakan momen kolektif setepat ini, setepat waktu, tanpa usaha. Kebanyakan lagu yang ingin dikenang harus bekerja keras untuk itu. Lagu ini hanya perlu menunggu sampai kalender menunjukkan angka yang benar.
Gue sering lupa tanggal. Tapi gue tidak akan lupa bernyanyi tiap 27 bulan Mei.
Artikel ini paling baik dibaca pada 27 Mei. Namun jika lo membacanya di hari lain, PBSU 275 tidak bertanggung jawab atas disorientasi temporal yang mungkin lo alami.




