Tidak banyak hal yang spesial di 2025. Pemerintah yang semakin hari semakin membuat suasana muram, banyaknya bencana, meninggalnya banyak orang dan demokrasi, berdiri tegaknya oligarki, lalu SPBU swasta yang disuruh jualan es dan jadi tukang pijat selamanya; serta bermacam suasana politis membuat tahun ini bak neraka dan apinya yang menjilat kemana-mana. Kelesuan industri musik cukup terasa, banyaknya program atau festival yang mengubah format, tipu menipu di antara promotor dan event organizer musik (ya, ujungnya penonton yang dirugikan), bahkan salah satu festival yang nelangsa minta dana ke opresor dan berbuntut ditinggalkan sebagian besar line-upnya. Semua itu dapat terpantau lewat linimasa yang tak henti menyajikan berita menyebalkan dan opini yang tak diminta. Album terbaik 2025? Bingung. Tidak sempat mendengarkan semuanya.
Nyaris sulit untuk dapat menemukan berita mengenai rilisan musik yang prima, berkat noise alias bisingnya berita negatif. Mungkin banyak musisi yang mandek bikin sesuatu, ada juga yang tetap berusaha bikin-bikin. Ada juga musisi-musisi baru yang bikin karyanya diada-adain untuk memenuhi kepuasan warga menggulirkan FYP. Dan tentu saja, hal-hal tersebut tidak memuaskan kami.
Kami tidak bilang bahwa sudah tidak ada musik bagus tahun 2025 ini. Daftar berikut merupakan album-album terpilih versi kami yang susah payah kami kurasi dari sekian banyaknya daftar musik ‘terbaik’ dan juga awards yang berbasis viralitas. Daftar kami bukanlah acuan sahih untuk menentukan kamu mau mendengarkan apa, tapi setidaknya, izinkan kami memilih album-album kesukaan kami.
Puti Cinintya Arie Safitri, Editor-in-Chief Intro Magz.
Jason Ranti, Dongker – Jason Ranti = I Don’t Know and I Dongker

Jason Ranti = I Don’t Know and I Dongker, sebuah kolaborasi kejutan antara Dongker dengan Jason Ranti. Sungguh perpaduan yang sangat mengherankan karena Dongker yang beraliran Punk dan Jason Ranti yang beraliran Folk, ibarat air dan api bukan? Namun, itulah uniknya. Ibarat film Elemental, Dongker seperti Ember yang berapi-api, penuh semangat dan distorsi. Sementara Jason Ranti adalah Wade yang tenang dan santai. Seperti di film, perpaduan mereka berdua juga sesuatu yang tidak diduga akan menghasilkan sesuatu yang unik.
Mereka mempunyai kesamaan yaitu berantakan tapi rapi, kontradiktif? Mudahnya, musik mereka seperti asal-asalan tapi sangat terkonsep dengan baik. Itu juga yang tersaji di album ini. 9 track yang dimulai dengan “Salah Display”, di sinilah kalian bisa menemukan “berantakan tapi rapi” dan agak Dongker-sentris karena lumayan “berisik”. Sementara track sisanya lumayan Jason Ranti sentris karena lebih “ngepop” dibanding musik Dongker, tapi tidak “berisik” apabila dibandingkan dengan musik Jason Ranti. Pembahasan yang ada di album ini juga tidak begitu berat karena hanya membahas sehari-hari dan lugas karena liriknya yang sangat sesuai dengan judulnya. Mudah dimengerti, mudah dinikmati. Selain itu juga ada track yang mengcover lagu dari Sisir Tanah yang berjudul Konservasi Konflik dan Hal-hal Lain. Pada track ini hanya Jejeboy yang mengisinya, ditaruh sebagai track penutup, layaknya khotbah untuk mengakhiri sebuah sesi.
Menurut gue sendiri, album ini memberitahu bahwa kolaborasi itu tidak ada batasnya. Api dengan Air, Punk dengan Folk, Dongker dengan Jason Ranti. Kenapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana bisa mereka saling melengkapi? Jawabannya ada di judul album itu sendiri. I Don’t Know and I Dongker!
Rrag – Langit

Bogor memang mempunyai daya tarik tersendiri pada kancah musik rock. Entah mengapa lagi dan lagi stereotip yang tertanam di kepala saya jika mendengar “band ini asalnya dari Bogor” pasti reflek berkata “wah indie rock nih”. Album yang berangkat dari beberapa fenomena sehari-hari, dekat dengan kehidupan nyata, serta memuat pengalaman personal masing-masing punggawa mereka. Hal ini lah menurut saya pribadi sekali dengar langsung “tunein” dengan seluruh isi trek di albumnya.
Mempunyai 12 trek, 3 diantaranya rilis lebih awal dengan format single ke platform digital seperti “Kristal, Landai, dan Sebentar” lalu 9 lainnya “Empat Pagi, Kemarau Panjang, Rona, Jaring, Garis Lampu, Resin, Samar, Rantai, Langit dan Menjadi Laut”. Nuansa musik rock kental sekali, akan tetapi unsur dari genre lain pun ditambahkan tanpa menghilangkan esensi dari tema secara keseluruhan.
Album Langit tidak mengusung album harus berkonsep bercerita seperti apa, setiap lagu berkaitan atau engga, mereka benar-benar terlihat acak namun seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi. Dibalik penulisan liriknya yang terdengar sederhana, justru hal itu melahirkan sentuhan yang mendalam. Rrag sangat bisa melakukan eksperimen di musiknya, akan tetapi pada album ini mereka memilih terlihat jujur apa adanya.
BATDD – Tamasya Dibuka

Seperti yang disampaikan pada kalimat pembuka, negeri ini serasa terus-menerus menyebarkan nuansa muram durja. Kesedihan, kekecewaan, bahkan kehilangan hadir silih berganti. Walau begitu, rasanya tak salah mengajak diri kita untuk sesekali datang ke sebuah tamasya. Pada 21 Maret 2025, grup baroque pop asal Tangerang, BATDD, membuka “tamasya” itu. Melalui mini album Tamasya Dibuka, BATDD (Bimbingan Anak Tersiap Di Dunia) memberikan ruang tamasya sebagai tempat bermain ditengah derasnya kemuram-durjaan.
Dalam mini album ini, BATDD adalah representasi anak kecil yang sedang berada di sebuah tamasya. Dibuka dengan track “Tamasya Dibuka” yang terdengar sebagai “gerbang” sebuah tamasya penuh suka. Ragam bunyi yang saling bersahutan dalam lagu ini menggambarkan suasana tamasya yang riuh— tidak bersumber pada satu suara. Dan keriuhan tamasya itu berlanjut pada track berikutnya pada mini album ini; “Bersin Gajah”, “Anjing Yang Damai”, “Mendingan Jangan”, dan “Ini Lagu Terakhir”, yang sama-sama menghadirkan kesan “berisik”, seperti dalam sebuah tamasya.
Lebih dari sekedar kumpulan lagu, buat gue Tamasya Dibuka adalah seperti ruang bermain anak kecil yang jauh dari belenggu pemikiran dewasa. Dan layaknya ruang bermain anak kecil, album ini terdengar arbitrer, namun tetap menyenangkan dan mudah untuk dinikmati. Album ini juga memiliki sentuhan emosi yang cukup kuat. Latar musikal personil sepertinya mempengaruhi sentuhan tersebut. Latar belakang vokalis Andrea Kurniadi yang belajar tentang terapi musik, membuat Tamasya Dibuka memiliki daya emosi yang bermakna untuk para pendengarnya.
Melalui mini album ini, BATDD sukses menjadi perbincangan dalam kancah musik. Konten kreator Haris Franky bahkan beberapa kali menyebut BATDD sebagai band yang patut disimak selama tahun 2025. Dan menurut gue, mereka memang layak untuk mendapat rekognisi yang lebih luas. Melalui Tamasya Dibuka, BATDD berhasil membuka ruang tamasya yang arbitrer namun tetap indah dengan sentuhan jiwa yang kuat bagi siapapun yang dengar. Pada akhirnya, lewat narasi “representasi anak kecil” dari grup ini, muncul satu pertanyaan di benak: akankah BATDD kemudian akan beranjak dewasa? We’ll see.
Lomba Sihir – Obrolan Jam Tiga Pagi

Album Obrolan Jam Tiga Pagi terasa seperti pintu yang dibuka pelan-pelan ke ruang paling sunyi dalam kepala Lomba Sihir. Jika rilisan mereka sebelumnya sering memotret kegelisahan hidup urban dengan nada sinis dan humor getir, album tahun 2025 ini terdengar lebih intim, lebih pelan, dan—dalam banyak momen—lebih jujur tanpa perlu berisik.
Judulnya tidak sekadar metafora. Obrolan Jam Tiga Pagi menangkap momen ketika manusia berhenti berpura-pura, saat layar ponsel masih menyala, kopi sudah dingin, dan pikiran berjalan tanpa sensor. Album ini seperti kumpulan percakapan internal—tentang hubungan yang menggantung, ketakutan akan masa depan, rasa bersalah yang datang tiba-tiba, sampai kelelahan emosional yang sering disembunyikan di siang hari.
Secara musikal, Lomba Sihir terdengar lebih terkendali. Aransemen tidak lagi mengejar punchline cepat atau hook yang langsung mencolok, melainkan memberi ruang pada dinamika kecil, denting synth yang muram, tempo yang cenderung menahan diri, dan vokal yang terasa lebih dekat ke telinga. Pendekatan ini membuat setiap lagu terasa personal, seolah pendengar sedang duduk berhadapan dengan band dalam satu ruangan gelap yang tenang.
Kehadiran album ini adalah respons terhadap fase hidup yang lebih reflektif. Setelah melalui hiruk-pikuk ekspektasi, pencapaian, dan kecemasan kolektif pascapandemi, Lomba Sihir memilih berhenti sejenak—bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk merawat pertanyaan. Album ini tidak menawarkan solusi, hanya pengakuan bahwa merasa bingung, lelah, dan ragu adalah bagian dari menjadi manusia dewasa.
Sebagai album, Obrolan Jam Tiga Pagi mungkin bukan rilisan paling “ramai” dari Lomba Sihir. Kekuatannya adalah menemani, bukan menggurui. Sebuah karya yang pantas masuk Album Lokal Pilihan Intro Magz 2025 karena keberaniannya untuk diam, mendengar, dan berbicara jujur di jam ketika dunia lain sudah tertidur.
Sajama Cut – COWABUNGA

Marcel Thee kembali membuktikan bahwa stagnasi adalah musuh abadi. Di tahun 2025, Sajama Cut melempar bom molotov musikal bertajuk “COWABUNGA”. Tidak ada basa-basi, album ini adalah selebrasi kekacauan yang indah.
Sound yang menampar. Lupakan produksi yang terlalu polished. “Cowabunga” terdengar mentah, kotor, dan berbahaya. Hook pop yang manis ditenggelamkan dalam lautan fuzz dan feedback gitar yang agresif. Trek pembukanya langsung menghajar gendang telinga dengan energi lo-fi 90-an yang diberi steroid. Ini adalah noise yang bisa bikin lo semua berdansa bak naik mobil jeep berdua barengan Dian Sastrowardoyo.
Musisi kelahiran 80an memang terkenal jenius yang “sakit”. Seperti biasa, Marcel bersama Sajama Cut menyajikan lirik surealis yang tajam. Doi memadukan humor gelap, referensi budaya pop yang obscure, dan romantisme yang retak. Vokalnya terdengar santai namun intimidatif, seolah bernyanyi di tengah gedung yang sedang runtuh, tuh kan yang tadinya naik mobil berdua bareng Dian Sastro, terus tiba-tiba berdiri sendiri ditengah gedung runtuh, woaah baru runtuh lo ini belum kebakaran.
“COWABUNGA” bukan album yang menawarkan janji-janji, bahkan sejak admin menulis sampe jatuh tempo rilis berita ini, Sajama Cut terus menelurkan karya monumental di tiap album tanpa kompromi. Ini adalah soundtrack untuk mereka yang merayakan ketidaksempurnaan. Buat lo semua yang mau mendengarkan, tiap “kurikulum” Cowabunga – Sajama Cut bisa jadi alternatif yang hadir tidak sekadar kembali; mereka datang untuk menendang pintu depan industri musik indie.
Honorable mentions
Bin Idris – III

Bin Idris kembali lewat III, album yang bergerak pelan dan nyaris tak mencari sorotan. Setelah hampir satu dekade tanpa album penuh, Haikal Azizi hadir dengan karya yang lahir dari fase hidup yang berbeda: menjadi suami, ayah, dan individu yang belajar berdamai dengan perubahan. III dibangun dengan pendekatan minimalis dan atmosferik yang menempatkan keheningan sebagai elemen penting, bukan sekadar jeda, tapi bagian dari cerita itu sendiri.
Setiap lagu terasa seperti potongan fragmen kehidupan yang intim. “Menara” menjadi ruang untuk menegaskan ulang posisi diri, sementara “Merak” hadir sebagai gestur personal yang hangat. Lirik liriknya merekam rutinitas yang melelahkan, kegagalan yang membentuk, hingga kecemasan akan kehilangan arah dan relevansi. Alih alih tampil dramatik, III memilih bahasa yang jujur dan tenang, seolah mengajak pendengarnya duduk sejenak dan mendengarkan tanpa distraksi.
Sebagai honorable mention, III berada di wilayah yang membuat redaksi cukup lama ragu untuk menentukan posisinya. Bukan karena kualitasnya yang lemah, melainkan karena pendekatan album ini yang sangat personal dan subtil, nyaris menolak standar penilaian yang biasa digunakan. III tidak hadir sebagai pernyataan besar atau penanda tren, tapi sebagai karya yang bekerja secara perlahan dan mengendap. Pada akhirnya, album ini layak disebut karena kekuatannya justru ada pada ketenangan itu, sebuah kejujuran yang mungkin tidak langsung terasa, tapi sulit diabaikan.
Reruntuh – Nyala Langit Jingga

Sebagai proyek yang sejak awal tumbuh dari kesunyian dan permenungan, Reruntuh kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu penulis lagu folk yang jujur di lanskap musik independen Indonesia lewat album penuh ketiganya, Nyala Langit Jingga. Dirilis pada 20 Juni 2025, album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan arsip emosional yang ditata rapi—tentang keluarga, kehilangan, dan usaha panjang merawat harapan di tengah hidup yang kerap terasa rapuh dan kusut. Dari trek pembuka “Laut”, Reruntuh langsung membawa pendengar ke ruang batin yang dingin dan luas. Lagu instrumental ini, remix dari “the way of the water” (2021) oleh F.A. Poetra ‘Uta’ Tiarda, berfungsi sebagai gerbang atmosferik menuju album. Denting ambient yang mengalir pelan terasa seperti napas panjang sebelum masuk ke cerita utama: ingatan, duka, dan keteguhan untuk terus berjalan.
“Ingatan” kemudian hadir sebagai pernyataan personal yang kuat. Lagu ini menangkap kegelisahan generasi yang terus didorong untuk bergerak tanpa sempat bertanya ke mana arah langkahnya. Liriknya sederhana namun menghantam, seolah menolak romantisasi ‘pergi jauh’ yang sering diagungkan, dan justru menegaskan rumah sebagai pusat nilai dan identitas. Inti emosional album ini terletak pada rangkaian lagu tentang sosok ayah: “Akar” dan “Bersendiri Berdua”. “Akar”, yang lebih dulu dirilis sebagai single, berfungsi layaknya monumen musikal—bukan untuk meratap, tetapi untuk merawat nilai-nilai yang ditinggalkan. Metafora tentang tumbuh yang tidak membabi buta terasa relevan di tengah dunia yang sering mengagungkan ekspansi tanpa arah. Sementara “Bersendiri Berdua” memperlihatkan sisi yang lebih rapuh, tentang percakapan yang tak sempat terjadi, dan keintiman yang hanya bisa dikenang setelah kepergian.
Di paruh tengah album, Reruntuh memperluas narasi dari duka personal menuju perjuangan yang lebih universal. “Sembunyi” dan “Esok Bermekaran” membentuk satu tarikan napas panjang tentang bertahan di masa sulit. Yang menarik, harapan di sini tidak hadir sebagai ledakan optimisme, melainkan sebagai bisikan pelan—langkah kecil yang terus diulang, meski tanpa kepastian. “Jangkar” menjadi salah satu lagu paling reflektif, menawarkan kesendirian bukan sebagai kutukan, melainkan strategi bertahan. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan bising, seolah Reruntuh justru mengajak pendengar untuk memelihara sepi, agar bisa kembali mendengar diri sendiri. Pesan ini terasa semakin relevan di era di mana kehadiran sering kali dikalahkan oleh distraksi tanpa arti.
Secara sonik, kolaborasi dengan Uta sebagai co-produser memberi warna baru tanpa mengkhianati identitas Reruntuh. “Matahari Terbenam Begitu Saja” dan “Genggam” menunjukkan keberanian eksplorasi—ambient yang lebih dominan, struktur yang lebih longgar, namun tetap intim. “Genggam”, khususnya, tampil sebagai lagu cinta yang dewasa: tidak manis berlebihan, melainkan penuh kesadaran akan kerikil dan kesalahan yang tak terhindarkan dalam perjalanan bersama. Album ini ditutup dengan “Nyala Langit Jingga”, sebuah klimaks tematik yang merangkum seluruh perjalanan sebelumnya. Jika lagu-lagu awal berbicara tentang merawat harapan, maka lagu ini adalah tentang menjadi harapan itu sendiri—kecil, mungkin nyaris tak terlihat, tetapi tetap menyala untuk sekitar. Ia tidak menawarkan solusi, hanya kehadiran. Dan justru di situlah kekuatannya. Dengan Nyala Langit Jingga, Reruntuh tidak mencoba menjadi lebih besar atau lebih lantang. Ia memilih untuk tetap jujur, minimalis, dan bersahaja. Album ini mungkin tidak menuntut perhatian, tetapi bagi mereka yang bersedia diam sejenak dan mendengarkan, ia akan tinggal lama—seperti senja yang pelan-pelan memudar, namun meninggalkan hangat yang sulit dilupakan.
Album-album terpilih 2025 dipilih oleh Redaksi Intro Magz: Agmal Salim, Fajar Wijaya S, Fatimah M, Gilang Nugroho, Iqbal Rizkiahafiz Suherlan, Qeysya Sonia Rahmadhiani Prastandri, Rasyafadhiila Akhsan, Taufik Hidayat, Unggul Bayu, Yan Maykel.
Honorable mentions dipilih oleh Puti Cinintya Arie Safitri. Kedua album di honorable mention dipilih berdasarkan subjektivitas. Saking bagusnya keduanya, Puti tidak dapat menentukan mana dari dua album ini yang harus dikorbankan.




