Sebagai pendengar lama, Paradoks Diametral adalah album FSTVLST yang terasa berbeda dibanding rilisan mereka sebelumnya. Kalau sebelumnya FSTVLST lebih lekat dengan warna grunge, serta alternative rock, kali ini FSTVLST memiliki sisi disco yang cukup terasa lewat penggunaan synth di lagu-lagunya, sehingga warna musiknya terdengar lebih melodik.
Album yang berisi 12 lagu ini juga terasa cukup dipengaruhi oleh peran Iga Massardi sebagai produser. Di beberapa lagu seperti “Pratuntas” dan “Objek Vital Nasional”, pendekatan aransemennya terasa cukup kuat membawa karakter musik Iga. Pengaruh itu tidak membuat FSTVLST kehilangan identitas sepenuhnya, tapi cukup terasa memberi arah baru pada album ini.
Perubahan tersebut membuat Paradoks Diametral terasa lebih berat untuk didengar dibanding album-album FSTVLST sebelumnya, terutama bagi pendengar baru band ini. Bukan karena musiknya lebih keras, melainkan karena banyak lagunya tidak langsung terasa familiar pada pendengaran pertama. Album ini terasa lebih padat secara aransemen, sementara beberapa pola melodinya berjalan lebih pelan dan repetitif. Sebagai pendengar lama, album ini terasa membutuhkan waktu untuk benar-benar bisa masuk.
Hal yang sama juga terasa dari cara Farid Stevy menulis lirik di album ini. Beberapa diksi yang dipakai terasa tidak langsung menjelaskan maksud lagunya secara gamblang. Ada banyak bagian yang seperti meminta pendengarnya untuk mencerna pelan-pelan isi lagunya, baik dari pilihan kata maupun potongan kalimat yang digunakan. Pendekatan seperti ini membuat Paradoks Diametral terasa lebih kontemplatif dibanding album-album FSTVLST sebelumnya yang cenderung lebih langsung.
Secara tema, FSTVLST kali ini juga tidak hanya menyuguhkan keresahan sosial sehari-hari yang selama ini cukup lekat dengan musik mereka, tetapi juga mulai membawa unsur spiritual di beberapa lagu. Hal itu cukup terasa di “Enam Masa”, yang menghadirkan nuansa reflektif dengan pendekatan lirik yang lebih kontemplatif dibanding materi mereka sebelumnya.
Dari 12 lagu yang ada, “Jefferson” menjadi track yang paling mengingatkan pada warna lama FSTVLST. Energinya masih terasa lebih langsung dibanding lagu-lagu lain di album ini, dan secara struktur juga terdengar lebih dekat dengan materi lama mereka. Menariknya, lagu ini juga mengulas tragedi ‘65 lewat nama “Jefferson”, yang diambil dari sebuah gedung di Jogja dengan sejarah kelam terkait peristiwa tersebut.
Paradoks Diametral bukan album yang langsung terasa mudah untuk diikuti, terutama bagi pendengar yang sudah lama mengenal FSTVLST lewat warna musik mereka sebelumnya. Namun justru dari situ album ini terasa menarik, karena memperlihatkan bagaimana mereka mencoba bergerak ke arah musik yang berbeda tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas lamanya.





Sebenarnya terasa sedikit berbeda dengan album album sebelumnya, tapi tetep keren sih