Antara Halaman dan Nada: Rambunctious dan Pertanyaan yang SoWhatNow? Tinggalkan

Proyek musik biasanya punya dua alasan: ambisi dan muncul dari keharusan. Rambunctious, album penuh perdana SoWhatNow? — moniker Suwatno, penulis fiksi kelahiran Tuban yang kini menetap di Kudus — terasa seperti yang kedua. Dua belas lagu, 43 menit lebih, dan satu premis yang tidak banyak musisi Indonesia berani tempuh secara serius: alih wahana sastra ke dalam medium musik.

Fondasi konseptualnya diambil dari Nasihat Banal Rasa Sakit, buku kumpulan cerpen Suwatno yang terbit lewat DIVA Press pada 2022. Membaca buku itu sebelum mendengar albumnya adalah pengalaman yang berbeda, dan mungkin itulah yang dimaksud. Karena Nasihat Banal Rasa Sakit bukan kumpulan cerpen yang ringan. Ia adalah katalog luka-luka kecil yang direkam dengan presisi: penolakan, persahabatan yang berakhir tanpa resmi berakhir, hasrat yang tak pernah tahu cara bekerja, dan diri yang terus-menerus dihantui oleh versi masa lalunya sendiri.

Dari Kertas ke Nada

Tiga cerpen menjadi titik pijak langsung dalam Rambunctious: “Siluman Meteor” menjadi “Meteor Demon”, “Prosa Peminum dan Nasihat Banal Rasa Sakit” menjadi “The Drinker and the Pain”, dan “Jumani Kidul dan Bisikan Sebuah Bayangan” menjadi “Where the Shadow Speaks”. Tiga cerpen yang, menariknya, dipilih bukan karena plotnya, melainkan karena suasananya.

“Siluman Meteor” di dalam buku adalah sebuah monolog yang marah dan putus asa, ditujukan pada sosok fantastis yang selalu berjanji tapi tak pernah datang. Dalam cerpen itu ada kalimat-kalimat seperti mortir yang ditembakkan ke udara: Suwatno menulis tentang para penguasa yang rakus dan para kawula yang saling menginjak, tapi semua itu dibungkus oleh nada yang menolak untuk serius sepenuhnya, seolah amarah hanya bisa bertahan jika dikemas dalam ironi. “Prosa Peminum”, di sisi lain, adalah sesuatu yang lebih sepi: dua lelaki yang saling menemani dalam kesedihan masing-masing, berbagi alkohol dan ingatan, sampai persahabatan itu retak oleh sebuah kelakar yang disalah-baca. Dan “Jumani Kidul” adalah tentang pulang ke sesuatu yang tidak bisa benar-benar kamu pulangi, diwakili oleh sosok lelaki tua yang kehilangan kewarasan tapi entah mengapa terlihat lebih bebas dari siapapun di desa itu.

Ketiga cerpen ini dipilih dengan naluri yang baik. Mereka tidak butuh plot untuk dimusikalisasi; mereka hanya butuh atmosfer; dan atmosfer adalah wilayah kerja musik.

Yang menarik adalah cerpen-cerpen mana yang tidak dipilih. “Kau Harus Menikahi Istriku” adalah thriller domestik bertensi tinggi: seorang suami yang empat hari tidak tidur, meminta temannya meretas ponsel istrinya, dan berakhir di hadapan sebuah keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. “Sekrup yang Sakit Hati” adalah fabel absurd tentang ketidakpedulian struktural; sekrup yang tidak pernah dianggap dalam rumah yang megah. Keduanya punya energi yang berbeda dari tiga cerpen yang dijadikan lagu: lebih naratif, lebih bergantung pada plot, dan mungkin itulah alasannya. Musikalisasi bekerja paling baik pada teks yang sudah bekerja seperti musik, yang bergerak lewat perasaan, bukan kejadian.

“Meteor Demon” menerjemahkan energi cerpen yang marah tapi ironis itu dengan memilih jalan yang lebih atmosferik. Dan “Where the Shadow Speaks” sebagai penutup album apakah ia semenyeramkan atau selembut bisikan Jumani Kidul di cerpennya? Ternyata tidak. Musiknya justru sedikit banyak mengingatkan saya dengan tipe-tipe lagu Gugun Blues Shelter di masa-masa kejayaannya.

Ketika Fiksi Tak Cukup

Salah satu keputusan paling jujur dalam Rambunctious adalah pilihan Suwatno untuk tidak sepenuhnya bersembunyi di balik fiksi. Di tengah-tengah trek adaptasi cerpen, ia menyelipkan lagu-lagu yang berbicara langsung dari posisinya sendiri: “Aku Pengen Rock n Roll-an”, “Masa Lalu Biadab”, dan “Berusaha Jatuh Cinta (Lagi)”.

Ini bukan sisipan yang canggung. Justru ketiga lagu ini menarik karena konteksnya. Di halaman belakang buku itu tertulis bahwa Suwatno adalah “seorang bapak muda dengan tiga orang anak.” Seorang penulis yang hidupnya tidak glamor, yang cerpen-cerpennya diterbitkan di majalah komunitas dan antologi terbitan indie, yang menulis tentang luka-luka kelas menengah yang tidak pernah cukup dramatis untuk dijadikan berita tapi cukup berat untuk dibawa setiap hari.

Maka ketika ia menulis “Aku Pengen Rock n Roll-an”, judulnya tidak bisa dibaca sebagai ambisi musikal semata. Ia terdengar seperti cara seseorang mengucapkan bahwa ia lelah dengan kedewasaan yang tidak ia minta. Dan “Berusaha Jatuh Cinta (Lagi)” tidak bisa dibaca tanpa mendengar kata berusaha itu berdiri sendiri, berat, seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu diusahakan. Di sinilah Rambunctious berkembang dari sekadar proyek musikalisasi menjadi sesuatu yang lebih personal dan — justru karena itu — lebih universal.

“Aku Pengen Rock n Roll-an” terasa seperti pembuka yang menipu: riang di permukaan tapi ada sesuatu di bawahnya. Isinya adalah keluhan seorang bapak-bapak yang jenuh membatasi diri. “Masa Lalu Biadab” secara musikal terasa lebih playful, lebih menyajikan sesuatu yang mungkin bisa dibawa berdansa kecil. Padahal liriknya lumayan sedih. Lantas, ada ironi yang terasa dalam cara “Berusaha Jatuh Cinta (Lagi)” dimainkan. Entah bagaimana cara menggambarkannya. Karena sebenarnya ini lebih menceritakan tentang pesan suara lama sekecil apa pun, bisa menjadi jangkar yang menariknya kembali.

Dua Belas Trek, Satu Arc

Tracklist Rambunctious memiliki logika tersendiri. Dibuka oleh “Aku Pengen Rock n Roll-an” yang terasa seperti deklarasi, lalu melewati lanskap-lanskap imajiner — “Mask on the Wall”, “Blade & Moon”, “Smoke Talker”, “Skybolt”, “Whispers & Slaughter” — sebelum mendarat di “Where the Shadow Speaks” sebagai penutup. Ada arc di situ: dari keinginan, melewati dunia-dunia yang dibangun dari fiksi dan keresahan, hingga ketibaan di bisikan yang entah milik siapa.

“Kau Gadisku” di trek enam adalah titik tengah yang menarik: satu-satunya judul yang paling telanjang secara personal di antara nama-nama lain yang lebih abstrak atau berbahasa Inggris. Ia duduk persis di jantung album, seperti titik diam di antara dua gerakan.

Pilihan judul berbahasa Inggris juga perlu dicatat. Dalam konteks seorang penulis yang karyanya berbahasa Indonesia, ini bisa dibaca sebagai jarak yang disengaja. Ini adalah cara Suwatno menempatkan material emosionalnya dalam bingkai yang sedikit lebih asing, sedikit lebih aman untuk dipegang. “Whispers & Slaughter” dan “Skybolt” secara imajinatif paling menggoda: keduanya membawa kontras yang terasa sengaja, layaknya bisikan versus pembantaian, kilat versus kecepatan. Seperti dua sisi dari kemarahan yang sama.

Jika harus ada trek yang menurut saya paling berhasil menjembatani dunia sastra dan musik, mungkin lebih ke “Meteor Demon”. Namun sejujurnya beberapa lagu yang berbahasa Indonesia judulnya, saya merasa bisa jadi, mungkin terlalu generik secara sonik untuk premis yang seliterari ini.

Yang Perlu Dipertimbangkan

Album yang berangkat dari premis seliterari ini membawa beban tersendiri: ekspektasi koherensi antara dunia teks dan dunia bunyi. “Prosa Peminum”, misalnya, adalah karya yang berjalan sangat lama di dalam kepalanya sendiri: narasi melingkar, penuh repetisi emosional yang disengaja, dengan ritme seperti seseorang yang sedang mabuk mencoba merangkai ingatan. Jika “The Drinker and the Pain” berhasil menangkap ritme itu secara musikal, ia bisa menjadi salah satu momen paling kuat dalam album. Jika tidak, ia bisa terasa seperti dua karya berbeda yang kebetulan berbagi judul.

Musikalisasi yang paling lemah adalah yang hanya mencoba menggambarkan ulang narasi lewat lirik; hasilnya sering terasa redundan, seperti membaca sinopsis yang sudah kamu hafal. Rambunctious, setidaknya secara konseptual, tampaknya memilih jalur yang berbeda: musik sebagai reinterpretasi, bukan transkripsi. Pertanyaannya adalah seberapa konsisten pilihan itu dipertahankan di sepanjang 43 menit.

Suwatno adalah penulis yang tahu bagaimana membangun dunia dalam teks. Ia tahu bagaimana membiarkan karakter berbicara sendiri tanpa harus dijelaskan, bagaimana absurditas bisa menjadi cara yang lebih jujur dari realisme, bagaimana luka kecil bisa direkam lebih tepat dari luka besar. Pertanyaan yang Rambunctious tinggalkan adalah apakah semua itu bisa berpindah medium. APAKAH, ya, benar, dengan capslock, apakah musik bisa menanggung berat yang sama seperti yang ditanggung oleh prosa?

Jawabannya, seperti kebanyakan cerpen yang baik, tidak tunggal. Dan mungkin memang tidak perlu.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment