Dari Pelukan ke Kepalan Tangan: Membaca Sisters in Danger x Simponi

Saya menemukan satu baris dalam “Dia & Dia” yang sulit untuk dilupakan begitu saja: bahwa tidak ada perempuan yang boleh disakiti, bahkan dengan setangkai bunga. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan kata-kata. Bahkan tidak dengan sesuatu yang dianggap tanda kasih sayang.

Kalimat itu bukan puisi. Itu pernyataan politik.

Dan untuk memahami mengapa kalimat itu terasa begitu berat dan matang, kita perlu mundur jauh, ke 2013, ke titik di mana Sisters in Danger x Simponi pertama kali meletakkan suara mereka ke dalam rekaman.

Perempuan Sebagai “Liyan”

Simone de Beauvoir, dalam The Second Sex (1949), menulis bahwa perempuan selalu didefinisikan bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari relasinya terhadap laki-laki. Ia adalah “yang lain,” the Other, yang eksistensinya diukur dari seberapa jauh ia berguna, patuh, atau sesuai dengan narasi yang bukan ia yang tulis.

Lagu “Sisters in Danger” (2013) hadir dalam kesadaran ini, meski belum sepenuhnya lantang. Nuansanya sendu. Intronya tenang. Ada kualitas menenangkan di dalamnya, seolah lagu ini ditulis sebagai pelukan bagi perempuan-perempuan yang sedang dalam bahaya. Bukan teriakan. Belum.

Tapi nama band itu sendiri sudah menjadi deklarasi: ada perempuan yang dalam bahaya. Itu pengakuan. Dan pengakuan adalah langkah pertama dari perlawanan.

Kemarahan yang Bisa Diajak Menari

Setahun kemudian, “Terlalu Banyak” (2014) hadir dengan energi yang berbeda. Indie rock yang tegas, vokal yang jernih, dan lirik yang berpihak pada korban secara eksplisit. Petaka yang sering terjadi, bencana yang dianggap biasa, berulang sampai kata “terlalu banyak” bukan lagi keluhan, melainkan tuduhan.

Yang menarik dari lagu ini adalah bagaimana ia berhasil menjadi dancey tanpa kehilangan giginya. Kemarahan tidak selalu harus pelan dan dalam untuk dianggap serius. Kadang kemarahan yang paling efektif adalah yang membuat orang bergerak, bukan hanya merenung.

Kate Millett dalam Sexual Politics (1970) berpendapat bahwa penindasan terhadap perempuan bukan persoalan pribadi, melainkan konstruksi politik dan kultural yang mengakar dalam struktur masyarakat. “Terlalu Banyak” tampaknya paham betul soal ini: ia tidak meratapi nasib individu, ia menunjuk sistem.

Napas Sebelum Perlawanan

“16 Oranges” (2017) adalah anomali yang menarik dalam diskografi ini. Alat tiup dan pukul yang bernuansa tradisional, tekstur folk yang jauh dari indie rock khas mereka, lirik berbahasa Inggris yang samar maknanya. Ini adalah momen di mana Sisters in Danger x Simponi tampak sedang mencari sesuatu, atau mungkin sedang beristirahat dari diri mereka sendiri.

Dalam konteks perjalanan band ini, “16 Oranges” bisa dibaca sebagai jeda yang diperlukan sebelum suara mereka benar-benar menemukan bentuk terakhirnya. Eksperimen yang tidak tuntas, tapi jujur.

Menemukan Suara

“Lagi” (2020) adalah konfirmasi. Vokal yang semakin lantang, lirik yang semakin lugas, energi yang terasa seperti band yang akhirnya tahu persis siapa mereka dan tidak lagi minta izin untuk menjadi itu.

Ada kualitas yang mengingatkan pada rock perempuan dengan posisi politik yang tegas, bukan yang sendu dan pasrah, tapi yang berdiri dan berbicara keras. Ini lagu perjuangan dalam arti yang paling jujur: bukan metafora, bukan kiasan. Langsung.

bell hooks, dalam Feminism is for Everybody, menegaskan bahwa feminisme bukan pilihan gaya hidup, melainkan komitmen politik. “Lagi” terasa seperti lagu yang lahir dari komitmen itu, bukan dari tren.

Ketika Bunga Pun Menjadi Senjata

Dan kemudian, “Dia & Dia” (2020).

Lagu ini adalah puncak dari semua yang telah dibangun sejak 2013. Liriknya bicara soal kesetaraan dan keadilan bagi perempuan, menghadapi patriarki secara frontal, tanpa metafora yang melemahkan argumen. Harmonisasi vokalnya bagus secara teknis, tapi yang lebih penting adalah apa yang harmoni itu katakan secara simbolis: ini suara yang bergabung, memperkuat satu sama lain.

Kembali ke baris yang menjadi pintu masuk tulisan ini: tidak ada perempuan yang boleh disakiti, bahkan dengan setangkai bunga. Ini adalah penolakan terhadap logika yang selama ini dipakai untuk menormalisasi kekerasan dalam selubung romantisme, bahwa sesuatu yang indah tidak mungkin menyakiti, bahwa niat baik otomatis melegitimasi tindakan.

bell hooks menulis bahwa patriarki mempertahankan dirinya justru melalui hal-hal yang tampak tidak berbahaya, melalui budaya, melalui representasi, melalui gestur yang dianggap sepele. Setangkai bunga yang menyakiti adalah metafora tepat untuk itu.

“Dia & Dia” bisa diputar di Kamisan. Bisa diputar di Hari Perempuan Internasional. Bukan karena ia lagu yang “cocok secara tematik,” tapi karena ia lahir dari kesadaran yang sama dengan acara-acara itu: bahwa perjuangan perempuan adalah perjuangan kolektif, bukan keluhan individual.

Dari “Sisters in Danger” yang menenangkan di 2013, ke “Dia & Dia” yang berdiri tegak di 2020, Sisters in Danger x Simponi merekam sesuatu yang lebih dari lagu. Mereka merekam proses sebuah kesadaran yang tumbuh, dari empati yang lembut menuju kemarahan yang matang dan terarah.

Dengan formasi M. Fahrevi, MB. Gamulya, Arnie Christanti, A. Satria Landika, Rizal Muchlison, Gilang Galiska, dan Titi Joe, band ini membuktikan bahwa musik pergerakan tidak harus terdengar seperti himne yang berat. Ia bisa dancey. Ia bisa folk. Ia bisa hadir dalam banyak bentuk, selama posisinya jelas: berpihak pada mereka yang dalam bahaya.

Dan perempuan, dalam masyarakat yang masih membenarkan setangkai bunga sebagai alasan untuk tidak menyebut sesuatu sebagai kekerasan, masih dalam bahaya.

Suara Sisters in Danger x Simponi adalah catatan bahwa ada yang mendengar, dan menolak diam.

Seluruh karya mereka tersedia di SoundCloud.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment