Mendengar MONO adalah sebuah pengalaman audio yang menarik, karena di setiap diskografinya memiliki kesan berbeda dan kadang ekstrem. Tapi, satu yang pasti memiliki kesan yang selalu ada di tiap album mereka, mereka selalu memiliki kesan menaruh “harapan” di setiap musiknya seperti ada cahaya di ujung lorong yang jauh yang layak untuk saya gapai. Meskipun di album Snowdrop ini bernuansa agak muram, tapi entah mengapa setiap ambience yang mengalun selalu berhasil membuat saya merasa selalu ada “harapan” di ujung sana. Dan yang menarik di album ini adalah minimnya fuzz atau distorsi yang biasanya jadi pemantik album mereka sebelum-sebelumnya.
Album ke-13 ini memang terasa berbeda. Ini adalah karya pertama mereka pasca meninggalnya produser sekaligus sahabat karib mereka, Steve Albini. Namun, kehadiran Brad Wood di kursi produser—yang merekam album ini di Electrical Audio—berhasil menjaga kesinambungan emosional yang selama ini jadi napas MONO.
Secara musikal, Snowdrop adalah sebuah penggalian emosi. Pemilihan nama lagu berdasarkan bunga bukan sekadar estetika; ini adalah dedikasi untuk mereka yang telah tiada. Di lagu pembuka “Snowdrop”, permainan piano yang melankolis berpadu dengan bass Tamaki Kunishi menciptakan fondasi yang dalam. Saat lagu ini meledak ke dalam badai suara, saya tidak bisa tidak merasa kagum dengan bagaimana mereka tetap mempertahankan “harapan” di tengah kekacauan sonik yang megah.
”Winter Daphne” dan “Gerbera” adalah bukti nyata bahwa MONO tidak lagi sekadar mengandalkan distorsi masif. Di sini, peran 10 anggota orkestra dan paduan suara 8 orang membawa dimensi kemegahan yang baru. “Gerbera” terasa begitu euforis dengan ketukan drum Dahm Majuri Cipolla yang berpadu apik dengan sapuan orkestra. Sementara itu, “Statice” dan “Hedera” menyajikan dialog emosional yang menyayat, di mana gitar Takaakira Goto dan Hideki Suematsu bergetar seperti layang-layang di langit, meski di album ini mereka lebih memilih untuk tidak terlalu mengandalkan fuzz yang biasanya menjadi pemantik utama mereka.
Puncak emosional bagi saya ada pada “Bells of Ireland”. Suara lonceng yang berpadu dengan static hum menciptakan atmosfer duka yang sangat manusiawi, terasa seperti sebuah prosesi perpisahan yang jujur. Namun, sekali lagi, mereka tetap menyelipkan secercah cahaya; di akhir lagu, melodi berubah menjadi sesuatu yang terang dan euforis. Ini adalah salah satu momen di mana saya benar-benar merasakan bahwa ada “harapan” di ujung lorong yang jauh, terlepas dari betapa muramnya perjalanan musiknya.
Ditutup dengan “Farewell to Spring”, album ini terasa seperti sebuah katarsis. Kepergian Steve Albini menyisakan ruang kosong, namun MONO memilih untuk mengisi ruang itu dengan cinta dan penghormatan. Snowdrop bukan sekadar album post-rock biasa; ini adalah sebuah perayaan hidup di tengah kesedihan. MONO membuktikan bahwa mereka tidak perlu berteriak dengan distorsi untuk menyampaikan pesan yang paling mendalam. Mereka cukup memainkan musik yang jujur, dan saya akan selalu mendengarnya sebagai sebuah penawar bagi jiwa.




