Solidaritas untuk Palestina belakangan bukan hal asing di skena musik. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak musisi dan komunitas yang menunjukkan sikap mereka secara terbuka, baik lewat panggung, media sosial, maupun keputusan yang berdampak langsung.
Salah satu yang sempat menjadi perhatian datang dari Reality Club. Pada 2024 lalu, mereka memutuskan mundur dari SXSW karena festival tersebut memiliki sponsor dari Angkatan Darat Amerika Serikat. Lewat pernyataan singkat bertuliskan “no music for genocide,” keputusan itu langsung ramai dibicarakan, termasuk di kalangan pendengar musik independen Indonesia.
Di luar itu, nama-nama seperti Fathia Izzati juga beberapa kali terlihat ikut dalam aksi solidaritas Palestina di Jakarta. Sikap serupa turut muncul di level global ketika ratusan musisi internasional bergabung dalam kampanye “No Music for Genocide,” termasuk Massive Attack dan Japanese Breakfast.
Fenomena ini menunjukkan satu hal, solidaritas di komunitas musik perlahan bergerak lebih jauh dari sekadar unggahan media sosial. Ada keinginan untuk menerjemahkan kepedulian menjadi tindakan yang lebih nyata dan dapat langsung dirasakan, meski dalam bentuk yang sederhana.
Di tengah situasi Palestina yang masih belum membaik dan terus berlangsung hingga hari ini salah satu cara yang bisa dimanfaatkan untuk terlibat langsung dengan aksi solidaritas untuk masyarakat Palestina dalam momentum Idul Adha, adalah lewat program distribusi kurban untuk Palestina yang dibuka oleh Baitulmaal Muamalat (BMM).
Melalui program “Qurban Prioritas,” Baitulmaal Muamalat membuka penyaluran kurban ke sejumlah wilayah yang membutuhkan, termasuk Palestina. Lembaga amil zakat nasional yang berdiri sejak tahun 2000 itu sebelumnya juga telah mendistribusikan ribuan hewan kurban ke berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Tahun lalu, program kurban Baitulmaal Muamalat menyalurkan 3.662 hewan kurban ke lebih dari 360 titik distribusi di 24 provinsi Indonesia serta sejumlah wilayah di luar negeri, termasuk Palestina dan Afrika. Program ini dijalankan dengan menyesuaikan kondisi distribusi di tiap wilayah, terutama daerah yang terdampak konflik atau memiliki akses logistik terbatas.
Untuk kategori Palestina, tersedia beberapa pilihan kurban, mulai dari paket 1/7 sapi dengan kisaran harga Rp3–5 jutaan hingga paket sapi atau kerbau utuh seharga sekitar Rp22 jutaan. Selain itu, tersedia juga distribusi dalam bentuk rendang kaleng untuk wilayah dengan kondisi distribusi yang lebih sulit dijangkau.
Skema ini dipilih karena distribusi bantuan ke wilayah konflik membutuhkan proses pengolahan dan pengiriman yang berbeda dibanding distribusi kurban pada umumnya. Dalam praktiknya, daging kurban diolah dalam bentuk frozen food maupun makanan kemasan agar distribusinya dapat menjangkau area yang sulit diakses dan memiliki daya simpan lebih panjang.
Biaya yang tercantum dalam program juga sudah mencakup proses penyembelihan, distribusi, serta pelaporan sehingga penyalurannya dapat dipantau dengan lebih jelas.
Di tengah banyaknya bentuk solidaritas yang terus muncul hari ini, momentum Idul Adha menjadi pengingat bahwa bantuan tidak selalu harus hadir dalam skala besar. Kadang, bisa dimulai dari keputusan sederhana untuk ikut berbagi lewat cara yang memungkinkan. Informasi lengkap mengenai program kurban Palestina dari Baitulmaal Muamalat dapat diakses melalui halaman Qurban for Palestine.




