Scroll TikTok selama lima menit hari ini, dan hitung berapa kali lo mendengar gitar arpeggio yang sama. Bukan gitar arpeggio yang persis sama secara teknis, tentu saja, tapi gitar arpeggio yang terasa sama: picking lambat, nada yang naik turun seperti tangga yang dihafal di luar kepala, lalu tiba-tiba meledak menjadi distorsi di chorus yang seharusnya terasa katartik. Di bawahnya, caption: patah hati tapi estetik. Atau: lagu buat yang lagi capek hidup. Atau, paling sering: untuk wong kalahan.
Tidak ada yang salah dengan itu, secara individual. Musik memang bekerja dengan cara menghubungkan perasaan ke suara, dan perasaan kalah, lelah, dan patah hati adalah perasaan yang nyata. Yang mulai terasa melelahkan adalah betapa seragamnya suara yang dipilih untuk mewakili semua perasaan itu. Seperti seluruh spektrum kesedihan manusia Indonesia memutuskan untuk berdomisili di satu genre, di satu kota imajiner bernama Midwest, di satu era yang bukan milik kita.
Midwest emo memang sedang di puncaknya di Indonesia. Eleventwelfth viral, Beijing Connection diputar ulang, dan setiap minggu ada band baru yang lahir dengan gitar arpeggio dan lirik bahasa Inggris yang bergaya; karena bergaya dalam bahasa Inggris terasa lebih melankolik daripada bergaya dalam bahasa Indonesia, entah kenapa. Scene-nya hidup, antusiasmenya nyata, dan energi DIY-nya layak diapresiasi. Tapi ada satu pertanyaan yang mulai terasa mendesak untuk diajukan: di antara semua kekayaan yang ditawarkan kawasan Midwest Amerika sebagai kontribusi ke sejarah musik dunia, kenapa yang kita pilih untuk dihypekan secara massal adalah ini?
Ini bukan serangan terhadap midwest emo sebagai genre. American Football, Cap’n Jazz, Braid: mereka adalah band-band yang benar-benar mengerjakan sesuatu yang orisinal di zamannya. Ini lebih merupakan pertanyaan tentang cara kita mendengar, cara kita memilih, dan cara kita akhirnya menyempitkan satu kawasan geografis yang telah melahirkan begitu banyak hal menjadi satu estetika yang bisa di-repost.
Karena kalau kita mau bicara tentang Midwest Amerika secara jujur, kita harus mulai jauh sebelum ada yang namanya gitar arpeggio.
Kita harus mulai di St. Louis, Missouri, akhir abad ke-19, di mana ragtime pertama kali menemukan bentuknya. Bukan di konser hall, bukan di ruang yang respektabel, tapi di saloon, di tempat biliar, di kafe-kafe yang hidup sepanjang malam di sepanjang Sungai Mississippi. Di sanalah Scott Joplin, seorang pianis yang kemudian dijuluki King of Ragtime, membangun karya-karyanya dari perpaduan yang tidak semestinya: latar belakang classical piano yang ia pelajari dengan keras, ritme sinkopasi dari komunitas Black Amerika yang saat itu tidak punya banyak ruang untuk bersuara selain lewat musik, dan kebutuhan sederhana untuk membuat orang-orang bergerak di lantai dansa. Ragtime adalah cara komunitas yang termarginalisasi menemukan bahasa baru di dalam keterbatasan yang diberikan kepada mereka. Tanpa ragtime di Missouri, tidak ada jazz. Tanpa jazz, tidak ada blues. Tanpa blues, tidak ada rock and roll. Tanpa rock and roll? Yah, lo tahu ke mana arah kalimat ini.
Lompat beberapa dekade. Chicago, 1940an. Para musisi Black yang bermigrasi dari South ke North dalam apa yang disebut Great Migration membawa serta musik mereka, lalu mentransformasinya di tengah lingkungan urban yang keras dan ramai. Gitar listrik masuk. Suaranya menjadi lebih keras, lebih tajam, lebih marah dalam cara yang produktif. Chess Records merekam Muddy Waters, Howlin’ Wolf, Buddy Guy. Chicago blues lahir dan langsung menjadi salah satu ekspor budaya Amerika yang paling berpengaruh. Rolling Stones belajar dari sini. Led Zeppelin belajar dari sini. Hampir seluruh genealogi rock yang kemudian hari lo konsumsi dalam bentuk apapun bisa ditelusuri ke basement dan club-club di South Side Chicago.
Lompat lagi. Detroit, 1959. Berry Gordy Jr., dengan uang pinjaman dari keluarganya, mendirikan Motown Records di sebuah rumah di West Grand Boulevard yang kemudian dikenal sebagai Hitsville USA. Apa yang ia bangun adalah mesin budaya yang memaksa Amerika kulit putih untuk membeli, mendengar, dan mengagumi artis kulit hitam di tengah puncak segregasi rasial. Stevie Wonder, Marvin Gaye, The Supremes, Smokey Robinson. Motown Sound — perpaduan gospel, blues, dan pop yang teroles dan terorganisir — tidak hanya mendominasi tangga lagu. Ia memainkan peran konkret dalam Gerakan Hak Sipil dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh pidato sendirian.
Dan kemudian Chicago lagi, 1977, sebuah club underground bernama The Warehouse di South Side. DJ Frankie Knuckles mulai memutar dan meremix rekaman disko di hadapan komunitas yang sebagian besar Black dan gay, komunitas yang tidak punya banyak tempat lain untuk hadir secara penuh. Dari sana lahir house music. Nama genrenya bahkan diambil dari nama clubnya. Beberapa tahun kemudian, Detroit menjawab dengan versi mereka sendiri: techno, yang dibuat oleh sekelompok anak muda Black — Juan Atkins, Derrick May, Kevin Saunderson, yang kemudian dikenal sebagai Belleville Three — yang tumbuh di kota yang industrinya sedang runtuh dan memilih untuk menciptakan musik yang terdengar seperti masa depan yang belum tentu akan datang. Detroit techno adalah paradoks yang sangat indah: musik paling futuristik yang pernah ada, lahir dari kota yang sedang mati.
Semua genre di atas lahir dari kondisi material yang spesifik dan berat. Mereka lahir dari Great Migration, dari segregasi rasial, dari kehancuran industri, dari komunitas yang tidak punya banyak pilihan selain menciptakan ruang mereka sendiri. Mereka lahir dari keharusan, bukan dari pilihan estetika. Dan itulah yang membuat mereka tahan lama, karena akarnya tertancap di sesuatu yang nyata dan berat, bukan di sesuatu yang bisa di-scroll.
Midwest emo, dalam konteks itu, adalah sebuah anomali yang menarik. Ia lahir bukan dari keharusan yang sama. Ia lahir dari kebosanan suburban, dari kegelisahan kelas menengah di pinggiran kota-kota Midwest yang mengecil, dari anak-anak muda yang punya cukup waktu dan cukup rasa aman untuk duduk dan merasa sangat sedih tentang hal-hal yang sangat personal. Ini bukan penghinaan lho ya, eksistensialisme suburban punya kebenarannya sendiri, dan American Football membuktikan bahwa dari kebosanan bisa lahir sesuatu yang luar biasa. Tapi penting untuk menempatkannya dalam proporsi yang tepat: midwest emo adalah satu cabang kecil dari pohon yang sangat besar, bukan pohon itu sendiri.
Yang terjadi di Indonesia adalah kita telah salah mengidentifikasi cabang sebagai pohon.Dan cara ini terjadi cukup mudah untuk dipahami, kalau kita mau jujur. TikTok, sebagai platform, bekerja dengan logika visual-first: konten harus readable dalam tiga detik, harus cocok menjadi soundtrack untuk video yang direkam dengan kamera handphone, harus punya estetika yang cukup kohesif untuk bisa dijadikan moodboard.
Midwest emo, dengan gitar arpeggionya yang melodis dan temponya yang lambat-sedang, adalah genre yang paling siap dikonsumsi dalam format ini. Chicago house butuh dancefloor. Detroit techno butuh sound system yang layak. Chicago blues butuh konteks untuk diapresiasi. Midwest emo hanya butuh earphone dan perasaan yang sedang tidak baik-baik saja, sesuatu yang hampir semua orang punya setiap hari.
Menurut saya, ini bukan kelebihan midwest emo sebagai musik. Ini kelebihan midwest emo sebagai konten. Dan keduanya adalah hal yang sangat berbeda, meski di permukaan sering terlihat serupa.Yang kemudian terjadi adalah loop yang familiar: semakin viral, semakin banyak yang mencoba membuat musik dalam genre yang sama, semakin banyak yang mengkonsumsi, semakin dangkal pemahamannya, semakin seragam outputnya. Band-band baru lahir bukan dari pertanyaan “apa yang sebenarnya ingin gue ekspresikan?” tapi dari pertanyaan yang jauh lebih pragmatis: “gimana caranya terdengar seperti midwest emo yang lagi viral ini?” Formula dipelajari dalam seminggu dari tutorial YouTube. Gitar arpeggio, lirik bahasa Inggris yang bergaya surealis, dinamika yang meledak di chorus, tempo yang pas untuk jadi soundtrack video melankolis. Ceklis, ceklis, ceklis, upload.
Hasilnya adalah scene yang sibuk tapi tidak terlalu beragam. Banyak band, banyak lagu, tapi sedikit kejutan. Dan ini bukan salah band-bandnya secara personal: ini adalah konsekuensi struktural dari bagaimana genre dikonsumsi ketika algoritma yang memimpin kurasi, bukan komunitas atau diskursus.
Ada juga masalah yang lebih fundamental: midwest emo di Indonesia dikonsumsi tanpa konteks materialnya yang asli. Genre ini lahir dari kondisi yang sangat spesifik, misalnya boredom suburban Amerika, sekolah menengah di pinggiran kota kecil, kegelisahan tentang masa depan di tengah keruntuhan American Dream versi tertentu. American Football berbicara tentang insomnia dan komunikasi yang gagal dalam konteks yang sangat konkret. Di Indonesia, konteks itu tidak ada. Yang ada adalah adaptasi estetika dari pengalaman yang tidak pernah kita tinggali, dan adaptasi itu berhenti di level permukaan, di level suara dan visual, tanpa bergerak ke level pertanyaan yang lebih dalam.
Ini bukan berarti genre asing tidak bisa diadaptasi secara bermakna. Blues di Jepang, reggae di Brasil, jazz di Indonesia sendiri, semuanya berhasil menemukan kehidupan kedua yang otentik di luar konteks asalnya.
Tapi keberhasilan adaptasi itu biasanya ditandai oleh terjadinya sesuatu yang baru: persilangan dengan elemen lokal, reinterpretasi yang mengubah sesuatu yang fundamental, munculnya konteks baru yang memberikan genre itu akar baru di tanah baru. Yang kita lihat dari midwest emo di Indonesia kebanyakan bukan itu. Yang kita lihat lebih menyerupai reproduksi: mengambil suara yang sudah ada, membuatnya kembali dengan sumber daya lokal, dan menyebutnya sebagai bagian dari scene.
Ada satu hal yang ironis — dan ini mungkin bagian yang paling perlu dicatat dengan serius — adalah bahwa label “midwest emo” sendiri sudah kabur jauh sebelum sampai ke Indonesia. Di Amerika sendiri, ada era panjang dalam musik writing yang tidak cukup cermat membedakan antara “band punk/DIY yang sedang keren” dengan “band yang secara akurat bisa disebut midwest emo.” Akibatnya, genre ini sudah datang ke Indonesia dalam kondisi yang sudah terdistorsi: definisinya terlalu lebar, referensinya terlalu campur aduk, dan batas-batasnya cukup longgar sehingga hampir semua musik dengan gitar arpeggio dan lirik introspektif bisa masuk ke dalam kategori ini. Yang akhirnya kita konsumsi bukan hanya midwest emo yang sudah disederhanakan; tapi midwest emo yang sudah disederhanakan dari versi yang sudah lebih dulu disederhanakan.
Pada titik ini, label genrenya sudah bekerja lebih sebagai label mood daripada label musik. Dan ketika genre bekerja sebagai mood, ia tidak bisa berkembang, karena mood tidak punya internal logic untuk menantang dirinya sendiri.
Ini bukan seruan untuk berhenti mendengarkan midwest emo. Sama sekali bukan. Ini lebih merupakan undangan untuk mendengar lebih banyak hal, dan untuk menyadari bahwa Midwest sebagai wilayah geografis dan kultural telah memberikan dunia jauh lebih banyak dari yang kita sadari. Ragtime yang mengubah seluruh pohon keturunan musik populer. Blues elektrik yang melahirkan rock. Motown yang menghancurkan tembok rasial lewat tangga lagu. House music yang memberi seluruh dunia cara baru untuk merayakan. Techno yang lahir dari kehancuran dan memilih untuk terdengar seperti masa depan.
Semua itu berasal dari kawasan yang sama. Semua itu punya kedalaman yang tidak kalah dari genre yang sekarang kita viralkan. Dan semua itu tersedia untuk didengarkan. Tidak butuh platform streaming khusus, tidak butuh membership apapun, tidak butuh lebih dari kemauan untuk scroll melampaui konten yang sudah diputarkan algoritma. Masalah kita bukan tidak ada pilihan. Masalah kita adalah kita sudah terlalu nyaman dengan pilihan yang datang sendiri ke depan pintu.
Midwest emo itu baik-baik saja. Yang melelahkan adalah kebiasaan kita untuk berhenti di sana, untuk mengira bahwa menemukan satu suara yang cocok dengan perasaan kita hari ini adalah cukup, bahwa tidak perlu tahu dari mana suara itu berasal atau apa yang ada di sebelahnya atau bagaimana ia terhubung ke hal-hal yang lebih besar. Yang melelahkan adalah kita yang sudah puas, sementara di rak yang sama, Chicago house masih belum disentuh, Detroit techno masih belum dipelajari, dan ragtime dari Missouri masih menunggu dengan sangat sabar untuk akhirnya didengar oleh telinga yang lebih penasaran.
Arpeggio itu akan selalu ada. Pertanyaannya adalah apakah kita mau mendengar hal lain juga.
Tapi, sebenarnya suka-suka sih, namanya juga selera. Ya kan? Silakan dijawab sendiri.




