Puremoon — All Your Words / Left Here (2025)

Puremoon dan rapuhnya kata-kata.

Bandung selalu punya caranya melahirkan band-band yang menjadikan perasaan sebagai ruang eksplorasi. Dari kota ini pula, Puremoon kembali membuka lembaran baru dalam perjalanan mereka, kali ini lewat maxi-single berjudul “All Your Words” dan “Left Here”. Rilisan yang tiba pada 11 September 2025 itu bukan sekadar tambahan katalog, melainkan babak reflektif yang menyentuh sisi paling rapuh dari sebuah hubungan.

Puremoon bukan nama asing di lingkaran musik alternatif independen. Sejak awal, band yang diperkuat oleh Naufal Ikhsan (vokal & gitar), Bryan Arkan (gitar), Irfan Lfz (drum), Rafi Azani (bass), dan Naufal Ariq (keyboard) memang kerap menautkan emosi dengan atmosfer yang dalam. Musik mereka seringkali terdengar seperti percakapan sunyi di antara luka, harapan, dan ruang kosong yang ditinggalkan seseorang.

Kali ini, mereka memilih untuk menyingkap dua lagu yang sebelumnya sempat terpinggirkan dari album Fade. “Sebenarnya, dua nomor ini tadinya hanya berupa demo,” kata salah satu personel. “Tapi rasanya sayang kalau tetap terkubur, karena keduanya punya energi yang bisa menyambungkan cerita sebelum album ketiga kami lahir.”

“All Your Words” membuka maxi-single ini dengan hantaman emosional. Liriknya berbicara tentang pengkhianatan — tentang kebohongan yang membusuk, tuduhan yang menyesakkan, hingga runtuhnya fondasi kepercayaan. Setiap petikan gitar Naufal Ikhsan berpadu dengan atmosfer yang berat, seolah menegaskan bahwa kata-kata bisa menjadi pisau bermata dua: menyembuhkan sekaligus menghancurkan.

Sementara “Left Here” menggeser pendengar ke ruang yang lebih hening. Lagu ini menyorot perasaan ditinggalkan, sebuah kehilangan yang tak hanya menimbulkan duka, tetapi juga keterjebakan emosional. Seperti berdiri sendirian di stasiun kosong setelah kereta terakhir pergi, ada rasa sesak yang menyelimuti dari awal hingga akhir komposisi.

Dua lagu itu bukan sekadar kisah patah hati, melainkan refleksi akan betapa rentannya hubungan manusia — dari keintiman yang pecah karena pengkhianatan, hingga ruang kosong yang tercipta setelah seseorang pergi.

Meski memotret sisi emosional yang kompleks, Puremoon tetap setia pada cara kerja sederhana. Seluruh proses perekaman, mixing, dan mastering dikerjakan secara mandiri di rumah, menggunakan perangkat seadanya. Cara kerja DIY ini bukan sekadar pilihan praktis, melainkan sikap yang sudah mereka pegang sejak album pertama.

Inspirasi pun datang dari berbagai sudut. Nama-nama seperti Parannoul, Yuragi, dan Cruyff in the Bedroom menjadi referensi penting. Tapi hasil akhirnya tetap terdengar sebagai Puremoon — sebuah pertemuan antara melodi melankolis dan dinamika atmosferik yang khas.

Lebih jauh, rilisan ini bukanlah titik henti, melainkan penanda. “All Your Words” dan “Left Here” menjadi semacam jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan Puremoon. Setelah ini, mereka sudah menyiapkan album ketiga — sebuah karya yang, jika mengikuti arah perjalanan mereka, akan lebih matang dan penuh eksplorasi.

Seperti judulnya, “All Your Words” dan “Left Here” terasa seperti dua fragmen emosi yang akhirnya menemukan jalannya ke telinga pendengar. Puremoon memberi kesempatan bagi demo lama untuk hidup, sekaligus mengajak kita menatap ke depan: ke arah karya-karya baru yang siap mereka lahirkan.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment