Di era ketika banyak band berlomba-lomba terdengar “besar”—lebih bising, lebih padat, lebih siap viral—Hitsujibungaku melakukan hal yang tidak masuk akal: mereka tetap setia pada kesunyian. Don’t Laugh It Off bukan album yang dibuat untuk memuaskan algoritma atau masuk playlist gym. Album ini berjalan pelan, hampir keras kepala menolak untuk terburu-buru. Tetapi justru sikap itulah yang membuatnya relevan.
Trio asal Tokyo ini selalu bermain di wilayah ambang: antara shoegaze yang mendidih dan pop alternatif yang rapuh, antara melankolia khas Jepang dan referensi rock 90-an Amerika. Di album terbaru ini, mereka tidak mencoba mendefinisikan ulang diri mereka. Sebaliknya, mereka mengasah inti karakter mereka sampai terasa semakin tajam dan tidak bisa disangkal.
Setelah Panggung Global
Setelah 12 hugs (like butterflies) memperluas audiens mereka melalui More Than Words dan efek samping berskala global dari Jujutsu Kaisen, Don’t Laugh It Off adalah reaksi yang hampir anti-komersial. Tidak ada upaya memoles suara mereka menjadi lebih “internasional”. Tidak ada chorus bombastis yang dibuat untuk TikTok. Yang ada justru ketekunan dalam merawat rasa sendu yang subtil.
Moeka Shiotsuka tetap menjadi pusat gravitasinya—vokalnya tidak pernah mendominasi, tapi justru membentuk ruang bagi pendengar untuk mengisi kekosongan di antaranya. Di dunia musik yang semakin bising, suara seperti ini terasa seperti bentuk kecil perlawanan.
Perubahan di Dalam Band
Hiatus drummer Hiroa Fukuda bisa saja mengganggu keseimbangan band. Namun justru sebaliknya, ketidaksempurnaan internal itu menambah nadi baru pada musik mereka. Yuna, drummer pendukung yang sempat mengisi posisi tersebut, memberi band ini ritme yang sedikit berbeda: lebih cair, lebih intuitif, lebih adaptif.
Perubahan itu tidak membuat Hitsujibungaku kehilangan identitas—tapi memperlihatkan bahwa identitas mereka cukup fleksibel untuk bertahan terhadap badai internal.
Band lain mungkin melihat perubahan formasi sebagai momentum untuk “membangun citra baru”. Hitsujibungaku? Mereka melanjutkan tur, merilis lagu, dan bertingkah seolah hal itu hanyalah gangguan kecil di perjalanan panjang mereka. Sebuah sikap yang hampir arogan—dan justru menyenangkan untuk dilihat.
Identitas yang Tidak Bergeser
Daya tarik Hitsujibungaku selalu ada di kontradiksinya: lembut tapi tidak pasif, shoegaze tapi tidak tenggelam, emosional namun tidak sentimentil.
Dalam Tears, Moeka melakukan perpindahan bahasa dari Jepang ke Inggris sehalus seseorang mengganti topik pembicaraan tanpa memberi tahu siapa pun. Perpindahan itu bukan gimmick; lebih seperti refleks natural dari band yang hidup di simpang jalan dua budaya musik.
Bagi banyak band Jepang, anime adalah jalur pintas menuju audiens global. Tapi bagi Hitsujibungaku, hubungan itu terasa lebih alami—nyaris intuitif. Burning, ending Oshi no Ko musim 2, adalah bukti paling kuat bahwa mereka memahami bagaimana menciptakan klimaks emosional tanpa kehilangan tekstur musik mereka sendiri.
Lagunya meledak, tapi tidak untuk pamer. Energinya terasa seperti seseorang yang sudah lama menahan diri dan akhirnya memutuskan untuk marah—tapi tetap dengan kontrol yang elegan.
Penutup yang Menyisakan Hening
Saat album ditutup dengan Don’t Laugh It Off Anymore, kita seperti ditinggalkan di sebuah pantai senja yang tidak menawarkan solusi, hanya keheningan. Ini bukan album yang memberi jawaban. Ini album yang menemani kamu menahan napas lebih lama dari seharusnya.
Dan mungkin memang itu yang kita butuhkan sekarang: musik yang tidak memaksa optimisme, tidak menawarkan pelarian instan, tapi justru menjadi tempat singgah sementara dari ributnya dunia.
Hitsujibungaku tidak berusaha menyelamatkan siapa pun. Tapi mereka memahami sesuatu yang sering kita lupakan: bahwa kadang, cukup dengan mendengarkan—dan membiarkan lagu-lagu ini duduk diam di samping kita.




