[RESPON] Semua Midwest, Banal, & Membosankan? Ya Udah, Biarin Aja: Sebuah Tanggapan

Ini adalah tanggapan saya atas tulisan Puti Cinintya Arie Safitri, ‘Semua Jadi Midwest Emo, Banal dan Membosankan’ yang dimuat di Intro Magz tanggal 2 Juni 2026.

Tulisan Puti itu naif.

Saya gak perlu membaca racauan panjang lebarnya soal konteks sejarah midwest emo yang datang dari Chicago hingga Detroit, USA… bla bla bla. Langsung ke intinya: Memang sejak kapan warga Indonesia– kalau bukan belahan dunia mana pun– mengadopsi budaya luar secara radikal?

Adaptasi dan apropriasi budaya akan selalu kontekstual. Ketika Orba membuka keran kepada liberalisme dan membolehkan musik ngak-ngik-ngok macam rock hingga psikedelia masuk ke kuping khalayak, apa yang terjadi? Kedangkalan adopsi.

Hampir setiap rocker berlomba menjadi “tiruan band-band luar”. Dalam ranah pengkaryaan, dengarkan saja album pertama God Bless, lihat bagaimana mereka sembarangan membawakan solo Steve Hackett dan Tony Banks dalam “Dancing with the Moonlit Knight” ke dalam kover lagu The Easybeats mereka, “Friday on My Mind”. Lalu setellah lagu “Rock Di Udara”, di mana mereka serampangan memakai riff Ritchie Blackmore, “Stormbringer”. Kurang nekat apa coba?

Anda bisa berargumen bahwa kasus-kasus di atas terjadi sebelum Bob Geldof mencak-mencak soal pembajakan Live Aid. Alias: masih minimnya pengetahuan hak cipta di Indonesia.

Tetapi apakah itu mengubah budaya tiru-banal ini? Enggak juga. Di tahun 1991, kita punya Elpamas dengan hit-nya, “Pak Tua”—yang intronya identik dengan “‘39”-nya Queen. Di tahun 2000-an, Peterpan mengadopsi “Clocks”-nya Coldplay untuk kemudian jadi lagu berjudul “Langit Tak Mendengar”.

Ahmad Dhani, salah satu yang paling ahli soal ini, juga mengambil seutas line organ “A Whiter Shade of Pale” (di menit 2:49) untuk dijadikan melodi pada hitsnya, “Pupus”. Dewa 19 punya segudang lagu yang berdiri di zona abu-abu ini; dari “Pangeran Cinta” (Led Zeppelin – Immigrant Song), “Bayang-bayang” (TOTO – I Won’t Hold You Back), sampai “Bukan Rahasia” (via lirik “Imagine” yang dialih-bahasakan menjadi “… Bila aku adalah seorang pemimpi, dan aku bukanlah satu-satunya di dunia ini”).

Apakah ini hanya terjadi di kancah pop atau mayor? Tentu tidak. Lihat saja “Menjadi Indonesia”-nya Efek Rumah Kaca. Groove drumnya– saya yakin– terinspirasi oleh “Vancouver” milik Jeff Buckley. “Mata Berdebu” SORE menyelipkan “Gymnopédie pt. 1” Erik Satie dalam interlude-nya. Bagaimana dengan .feast? Sama, kok. Kita semua tahu bahwa “Padi Milik Rakyat” adalah replikasi “Graves” milik Whiskey Shivers. (Saking identiknya kedua lagu ini, saya jadi waswas soal hak ciptanya)

Intinya: peniruan, pengadopsian, atau apa pun itu tak terelakan. Itu harus kita akui. Jika Puti menuntut sesuatu yang lebih otentik, hal paling jauh yang bisa band-band itu lakukan adalah membuat liriknya berbahasa Indonesia. Sebab memang sulit berharap akan adanya kebaruan yang bisa diharapkan secara musik. Budaya terbaik kita adalah bahasa. Ini termasuk diskursus-diskursus yang mengikutinya.

Alternatif kedua: memasukkan unsur-unsur khas setiap daerah. Ini jelas lebih susah dan tricky.

Tuntutan untuk “eksplor lebih” boleh-boleh saja digulirkan. Tapi tulisan Puti, alih-alih membuka menginisiasi malah mengintimidasi. Ini tidak masalah dalam forum yang lebih tertutup (misal grup WA, Reddit, dsb.). Di sana, para pelakunya sudah satu frekuensi, sudah “matang” lah ya. Namun dalam percakapan publik (dan Intro Magz adalah domain publik), tulisan Puti ini malah jatuhnya “gatekeeping halus”.

Saya sih gak ada masalah. Tapi kalau goal-nya adalah esensi dan “meningkatkan percakapan publik”, ada baiknya kita berpikir soal cara mengemas diskursusnya.

Lanjut.

Jika band-band midwest emo atau apa pun genre yang nantinya ada bermunculan, ya sudah. Ngapain dirisaukan? Bermusik adalah satu dari sedikit kemewahan terakhir di bawah rezim ngawur hari ini. Pun jika fans-fans mereka membuat konten dan menyisipkan quote-quote sedihnya dengan tagar #WongKalahan, ya sudah biarkan saja. Memang cara kerja tren seperti itu.

Lebih jauh, Jul, vokalis Eastcape pernah bercerita kepada saya, “Ada lho yang datang ke aku dan bilang, ‘Makasih mas, musikmu nyelametin hidupku’.” Ini yang membuat pandangan saya lebih “napak tanah”— dan akhirnya menulis ini semua. Kita ‘kan gak tahu ada berapa orang yang “terselamatkan” karena mendengarkan musik mereka. Hidup sudah begitu sulit, negara kelewat melilit, bertahan saja itu sudah merupakan sebuah perlawanan, kok.

Jika musik-musik kalahan yang dikatakan banal itu menyelamatkan nyawa seorang manusia, kita mau apa?

Bagi saya, apa yang disebut sebagai “sirkuit”, “skena”, atau apa pun itu tak lebih dari kibul-kibul budaya. Puti— atau siapa pun itu— tak perlu merisaukannya. Biarkan tren ini berlangsung, menemukan pendengar-pendengarnya, lalu ber-evolusi menjadi apa pun nantinya. Kita tak perlu repot-repot menjadi penjaga gerbang kebudayaan. Biarlah itu mainan abang-abangan pengidap sindrom pasca-kuasa. (Atau musisi yang perlu membuat post IG dengan takarir mahapanjang untuk membela pilihan musiknya).

**

Sekali lagi, tulisan Puti tak lebih dari racauan percuma. Tak ada beda dengan debat-debat skena yang biasa jadi gogon yang tak menemukan jalan keluarnya. Alias, mainan keyboard warrior kelas menengah yang percaya bahwa selera dan pengetahuannya lebih baik daripada yang lain.

Mungkin saya salah satunya.

Dengan tulisan itu, Puti malah sedang mengolok dirinya sendiri. Ia mengejek kemampuan, daya analisis, dan sensitivitasnya sebagai penulis. Dalam kacamata saya, Puti sangat bisa menulis hal-hal yang lebih fundamental dan mengakar. Misal: bagaimana menjadikan musik sebagai alternatif ekonomi swakelola, pengalaman puan dan gender liyan dalam kancah, atau sesederhana membongkar tendensi anti-kritik banyak musisi kita (yang ini kelewat banyak ‘kan?).

Atau katakanlah ada sebuah tingkatan sahih di mana musik satu lebih dalam atau keren daripada musik lain, lalu mau ngapain? Menulis yang ngawang-ngawang memang perlu– seperti dalam konteks ulasan musik. Tapi ya sudah itu saja. Palingan jadi rasan-rasan tongkrongan terus melabur seiring jalan. Wis biasa.

Namun, jika musik yang dianggap “dangkal” dan “banal” bisa menghidupi diri, memberi makan kru, menjadi rezeki soundman, hingga menyelamatkan nyawa seseorang; apalah arti busa-busa kritik tadi? Musik hanyalah musik, tetapi dia selalu berkelindan dengan realitas luarnya. Atau mengutip bahasa Puti, “… terhubung ke hal-hal yang lebih besar.”

Nah, sebelum berdebat soal idealisme, kemurnian genre, hingga eksplorasi lalalayeyeye pertanyakan dulu: apakah kita bisa hidup dari musik, sesuatu yang kita cintai ini? Menjadi musisi mapan itu sulit. Menjadi musisi mapan di Indonesia? Hampir mustahil.

Sebab faktanya: musik bisa menunggu, perut lapar tidak.

-KMPL- (@randy_kempel)

Catatan Redaksi

Terima kasih kepada Randy Levin Virgiawan (KMPL) yang telah membaca dan menanggapi tulisan saya, “Semua Jadi Midwest Emo, Banal dan Membosankan”.

Saya ingin menambahkan sedikit konteks. Tulisan tersebut tidak dimaksudkan sebagai tuntutan atas “kemurnian” genre atau ajakan agar musisi berhenti memainkan musik yang terinspirasi dari midwest emo. Saya sepakat bahwa musik selalu berkembang melalui proses saling memengaruhi dan mengadopsi berbagai referensi.

Yang saya soroti bukanlah keberadaan midwest emo, melainkan kecenderungan homogenitas ketika sebuah formula menjadi begitu dominan hingga percakapan kreatif di sekitarnya terasa semakin sempit. Kritik saya ditujukan pada fenomena tersebut, bukan pada individu, band, maupun pendengarnya.

Tulisan itu lahir dari rasa ingin tahu dan kegelisahan saya sebagai penulis musik yang juga menjadi bagian dari ekosistem yang saya tulis. Karena itu, saya percaya bahwa sebuah tren tetap bisa dibicarakan dan dikritisi, bahkan ketika musik tersebut memiliki makna yang penting bagi banyak orang.

Pada akhirnya, saya menghargai ketidaksetujuan Randy sebagaimana saya menghargai siapa pun yang memiliki pembacaan berbeda. Jika tulisan ini memicu perdebatan maupun sanggahan, saya menganggapnya sebagai bagian yang sehat dari percakapan tentang musik.

— Puti Cinintya Arie Safitri
Editor-in-Chief Intro Magz

Also Read

Bagikan:

Randy Levin Virgiawan (KMPL)

Mendapuk diri sebagai pemandu sorak kebudayaan, KMPL menjalani harinya dengan musik, musik, dan musik—seakan tak ada hal lain di dunia. Dia menulis tentang, cari makan lewat, hingga melanjutkan hidup karena musik. Oh, dia juga mengasuh akun musik sepele bernama Terpapar! Musik.

2 thoughts on “[RESPON] Semua Midwest, Banal, & Membosankan? Ya Udah, Biarin Aja: Sebuah Tanggapan”

  1. saya ndak ngerti midwest emo, baca tulisannya si mbak puti juga sekilas saja, tapi tanggapannya ini menurut saya menarik.

    sikap “ya udahlah biarin aja, let people enjoy things” itu harusnya cukup untuk fans dan pendengar saja. kritikus ya menganalisis, mempertanyakan, mengkritik. dari analisis tersebut kita bisa menemukan POV lain, yg kemudian bisa bermanfaat untuk perkembangan hal yg sedang dikritik. si mbak puti sedang mencoba melakukan peran itu terhadap midwest emo lokal di tulisannya.

    5 paragraf contoh yg diberikan mas KMPL ini pun berbeda konteks dgn yg dibahas mbak puti, contoh “tiru-banal” yg lebih tepat menurut saya adalah tahun 2000an ketika pop punk blink-182 lagi tren, di indonesia pun bermunculan band seperti itu, atau ketika shoegaze ala Whirr/Title Fight lagi hit, skena musik lokal juga menjamur band serupa.
    Memangnya gak boleh??? lho siapa yg bilang gak boleh, sama sekali tidak ada larangan untuk jadi Whirr Indonesia yg ke 1000.

    toh bener kata mas KMPL, pendengarnya akan selalu ada, pasarnya ada, yg merasa “terselamatkan” juga selalu ada saja, musisinya dapat gigs, krunya dapat penghidupan juga.
    lantas apakah tidak bisa dibahas dari segi musiknya? apakah mbak puti mengajak masyarakat untuk memboikot band-band yg menurut dia kurang referensi itu? menyuruh mereka lebih baik bubar saja? atau dia hanya sekadar mempertanyakan “apakah semuanya harus seperti blink-182?”

    ketimbang dianggap melakukan “gatekeeping halus” dan “mengintimidasi” (yg menurut saya sama sekali tidak dia lakukan), menganggap bahasan ini cuma bakal jadi “rasan rasan tongkrongan” (mungkin saja benar, tapi bukankah semua hal bisa jadi rasan rasan tongkrongan?), ya lebih bijak utk ditanggapi dengan good faith saja, semacam motivasi utk para musisi “bisa tidak ya kita membuat musik midwest emo yg segar? yg mungkin lebih berwarna?”
    kalau tidak mau? ya tidak apa apa juga, tidak melanggar hukum, tidak ada juga ancaman bakal ditimpuk batu bata ketika manggung. silakan lanjut berkarya saja sesuai keinginan hati.

    di paragraf-paragraf terakhir, mas KMPL malah melakukan setumpuk logical fallacy, tiba-tiba jadi ad hominem, tiba-tiba ada whataboutism, yg malah makin jauh dari konteks tulisan yang sedang ditanggapi.

    menurut saya, tanggapan yang mungkin menarik untuk tulisannya mbak puti adalah tulisan tentang midwest emo indonesia sebenarnya punya potensi besar, bisa jadi sekadar rekomendasi band di bawah radar yg masih punya pendengar di bawah 100 orang tapi membawakan sesuatu yg segar, beda dengan yg lagi tren. atau bisa juga misalnya memberikan contoh seperti apa sih band band lokal yang sukses tidak melakukan “tiru-banal” ? apakah Dewa 19 termasuk?

    menanggapi kritik apapun dengan sikap “ngapain dirisaukan?” lama lama cuma bakal membiasakan attitude “ngapain dirisaukan?” itu ke semua isu, termasuk isu-isu yg mas KMPL anggap lebih penting

    “lebih baik kita pertanyakan apakah kita bisa hidup dari musik, sesuatu yang kita cintai ini?”
    ya ngapain dirisaukan? kalau gak bisa hidup dari musik tok, ya sambil kerja kantoran saja kayak Perunggu

    “membongkar tendensi anti-kritik banyak musisi kita”
    ngapain dirisaukan? lha ini ada yg sedang mencoba membahas keseragaman kancah saja langsung dianggap mengintimidasi

    “bagaimana menjadikan musik sebagai alternatif ekonomi swakelola?”
    haduh ngapain merisaukan ekonomi musik? tuh dolar lagi 18 ribu, BBM naik harga, kan bahasan musik bisa menunggu, perut lapar tidak

    Reply
    • Hi kak Hamdan ADD.

      Pertama, aku harus mengakui anda jeli sekali soal potensi gelincir falasi di akhir teks. Terima kasih.

      Aku memang sengaja menabrakkan laboratorium estetika yang steril (nan adiluhung) dengan urusan perut. Simpel: karena di lapangan, dua hal itu gak terpisahkan. (Aku akan elaborasi di akhir).

      Pertama: kritikus musik memang menganalisis. Tapi pertanyaannya, analisis seperti apa yang pantas? Aku menyerang argumen Puti sesederhana dengan, “Ngapain sih ngomongin genre yang baru aja nge-tren? Biarkan mereka berkembang dulu lah. Santai aja.” Estetika boleh-boleh aja– seperti di teksku– kalo ada di grup yang isinya early-adopter. Kalo di percakapan publik, ada baiknya kita bikin lebih inklusif. I think I said it well on text.

      Kedua: aku tahu kapasitas Puti– and this is a friendly reminder from a FRIEND. “Tulisanmu boleh banget kok tapi please jangan kamu. I know you can write much, much better topic.” Sila anggap ini sentimen personal– dan aku akan dengan besar hati mengakuinya.

      Soal falasi: ad Hominem adalah penyerangan personal sejak awal. Mengatakan bahwa “kamu (orangnya) naif, jadi semua pendapatmu gak valid” adalah ad hominem. Tetapi dalam kasus ini, aku bilang “Pendapatmu valid tapi naif.” Itu dua hal yang berbeda.

      Lalu, konteksku dalam kata “merisaukan” adalah strictly debat estetika yang ujung-ujungnya gatekeeping selera. Titik. Aku rasa anda salah tangkap atau melakukan whataboutism itu sendiri dengan mencerabut konteks kata itu dari paragrafnya. God only knows.

      Ketiga, aku menolak keras jebakan “Perunggu” (kerja kantoran) yang anda sodorkan. Hal ini berlipat ganda ketika kita ngomongin daerah luar sentral. Menyarankan mereka untuk “kerja kantoran aja buat ngeband” adalah bias kelas menengah kota besar. Di Kediri, Mojokerto, Jombang, atau bahkan Malang, gak ada kemewahan lowongan macam itu. Ini faktanya. Aku gak bisa menghitung berapa puluh band bagus (menurutku) sekitar yang bubar karena para personelnya harus hijrah ke kota besar, mencari cuan dari sana.

      Ini masalah. Riil.

      Ekonomi swakelola dari musik itu mungkin, sehingga kita bahkan gak perlu kerja kantoran– seperti yang anda usulkan. Gak usah kayak Perunggu deh, kejauhan, bisa gak minimal kawan-kawan ini gajian UMR/UMK dari musiknya? Baik dari musik itu sendiri, merch, hingga live performance.

      Poinku: ketimbang merisaukan higienitas genre– yang baru seumur jagung, aku rasa lebih menarik ngomongin pondasi, infrastruktur, serta berbagai siasat yang berlaku secara sistemik. Ruang-ruang kemungkinan inilah titik mula-ku, dan Puti– luckily I know her– sudah pernah melakukannya.

      Sekali lagi, terima kasih atas komentarnya. Aku mengakui area abu-abu falasi itu, yet I stand with my take.

      Cheers!

      Reply

Leave a Comment