Valentine sering dipersempit jadi urusan sepasang manusia dan bunga yang dikirim tepat waktu. Padahal kasih sayang bekerja jauh lebih sunyi dan luas dari itu. Ia muncul setiap kali kita peduli, setiap kali kita menaruh perhatian kecil pada sesuatu, seseorang, bahkan pada diri yang sedang kita rawat pelan-pelan. Mungkin benar, kalau kita peduli pada sesuatu, kita sedikit jatuh cinta padanya. Dan dari situlah kasih sayang diam-diam membentuk cara kita melihat dunia.
Kasih sayang juga tidak selalu manis. Ia bisa berupa keberanian untuk tinggal, tapi juga keberanian untuk pergi. Ia hidup di keputusan moving on, di menerima bahwa diri kita sudah berubah setelah mencintai. Ia ada di self love yang tidak glamor, yang kadang cuma berarti bangun pagi dan tetap menjalani hari. Bahkan dalam relasi yang retak atau pada orang yang tidak menyukai kita, jejak kasih sayang kadang masih tertinggal sebagai pelajaran tentang batas, tentang nilai diri, tentang cara memahami orang lain.
Kurasi ini mencoba merayakan bagian-bagian kasih sayang yang jarang dapat panggung. Bukan hanya degup romantis, tapi juga kehilangan kecil saat benda kesayangan hilang, lega setelah memaafkan, hangatnya perhatian sederhana, dan tumbuhnya diri setelah patah. Empat belas lagu ini bukan soundtrack cinta, tapi peta rasa tentang apa yang dilakukan kasih sayang kepada kita, bagaimana ia mengubah, merawat, dan kadang merobohkan kita, supaya kita bisa membangun diri lagi dengan cara yang baru.
- Alkateri – Lebih Dari (2024)
- Sunlotus, Marina Mizoguchi – Jar of Spells (2022)
- Movements – Daylily (2017)
- Last Dinosaurs – Shallow Boy (2018)
- Ride – Future Love (2019)
- Rrag – Rona (2025)
- Glaive – Fuck (2025)
- The Bunbury – Blue Haze (2021)
- Cellosux – 2010 Garage Band Days (2022)
- Polyester Embassy – LSD (2011)
- Nothing – Vertigo Flowers (2016)
- Pure Saturday – Desire (1996)
- Waterparks – Fruit Roll Ups (2021)
- eleventwelfth, Asteriska – your head as my favourite bookstore (2017)
Alkateri – Lebih Dari (2024)
Sejatinya, ini adalah lagu what if. Lagu ini adalah penyesalan seseorang terhadap mantan kekasihnya. Tapi, awal mula dari lagu ini adalah terbesitnya kenangan buruk di pikiran secara tiba-tiba. Lalu setelah dipikirkan, ia akhirnya melepaskan. Bukan pikirannya, tetapi orangnya. “Bak daun yang luruh dari tangkai dan terbang, lalu jatuh menghantam tanah” ia melepaskannya secara terpaksa dan tidak bisa dihindari karena memang sudah part of life, selain itu juga sakit sekali karena melepaskan orang tersayangnya. “Andai ia mampu menahan angannya melangkah, akan kupastikan lebih dari indah” sangat jelas, sebuah angan-angan apabila kekasihnya tidak pergi, ia akan memastikan kekasihnya lebih bahagia dibanding saat ini. Tapi, itu semua hanya angan-angan.
Buat gue, lagu ini adalah lagu penyesalan yang sangat menyedihkan tapi terdapat pesan didalamnya. Bukan lagunya, tapi orang yang ada didalamnya sungguh menyedihkan. Ia yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang hubungannya yang sudah kandas, bahkan ia berjanji untuk membuat kekasihnya itu lebih bahagia. Tapi, semua sudah usai, sudah tidak ada lagi hubungan itu, sudah tidak ada yang perlu diperbaiki. Jadi, buat apa berandai andai? Daripada berandai-andai, bukankah lebih baik melepaskan lalu belajar dari kesalahannya untuk menyiapkan yang akan datang? Buat apalagi berandai-andai? Semua sudah selesai.
P.S. Terima Kasih buat Nadine yang udah ngebantu gue terjemahin lirik yang sangat obvious ini. Next mungkin gue pastikan lebih indah juga. Happy Valentine. Ty.
Sunlotus, Marina Mizoguchi – Jar of Spells (2022)
Lagu bergenre shoegaze tidak selamanya menaungi emosi patah hati atau kondisi mental yang depresif, Sunlotus bersama Marina Mizoguchi berhasil membungkus lagu cinta romantis nan manis dengan genre shoegaze yang kental. Lagu cinta yang seakan menyihir pendengar dengan lirik cinta-cintaan yang klise namun melankolis ini memberikan sentimen yang unik.
Berkutat seputar cinta dan kasih sayang, “Jar of Spell” berkisah tentang bagaimana seorang manusia pada dasarnya memiliki hasrat untuk dicintai dengan berbagai bentuk. Baik dimulai dari keinginan akan sentuhan untuk merasakan afeksi, dicintai melalui kata, cinta yang dibuktikan dengan rasa keingintahuan dan pengertian. “Jar of Spell” membuktikan bahwa cinta dan afeksi adalah adiksi, karena manusia selalu menginginkan lagi dan lagi hingga tersihir, selayaknya cinta adalah hal magis, dan mengurung cinta dalam delusi yang indah.
“Charm me with your spell, have me dwell” lirik yang menyatakan bahwa terkadang ketika dalam urusan mencintai, manusia membiarkan dirinya terpesona oleh kompleksitas orang yang dicintainya, hingga tenggelam jauh. Love is a very strong word, karena keinginan untuk dicintai dan mencintai adalah mantra sihir yang paling mujarab. Sehingga, manusia sering kali menyimpan mantra cinta tersebut ke dalam toples, membiarkannya tertutup dan memberikannya kepada orang yang ia cinta. Mantra-mantra cinta tersebut dirangkum dalam kalimat yang indah, sentuhan genre shoegaze dan vokal yang dreamy, layaknya tersihir, penuh dengan hasrat serta keinginan, Sunlotus dan Marina Mizoguchi menghadirkan cinta dalam karya mereka dengan cara yang magis.
Movements – Daylily (2017)
Cinta kadang terlalu dipersempit maknanya, karena ia bersifat dinamis sehingga menghasilkan berbagai macam bentuk yang selalu sulit untuk dikenali, bahkan terkadang kita melewatkannya. Tidak selalu tentang “aku cinta kamu”, kadang cinta juga dapat terdengar seperti “kamu akan selalu baik-baik saja”. Seperti “Daylily”, lagu karya band asal California, Movements. Bergenre post-hardcore, lagu cinta kali ini tidak hanya dapat ditujukan untuk orang tercinta, namun diri sendiri juga akan selalu mendapatkan tempat. “Daylily” Bukan lagu cinta yang memberikan perasaan mendebarkan, tetapi cinta yang menenangkan, membiarkan dirinya maupun orang lain kembali bersinar.
“Daylily” membiarkan pendengarnya merasakan cinta dalam bentuk lain yang jarang dikenali, yaitu rasa tenang yang membuai seperti sinar matahari menyentuh kulit dengan lembut atau terasa seperti angin yang bertiup pelan pada musim panas yang cerah. Cinta adalah rasa tenang yang membiarkan diri untuk mendapatkan kembali hari-hari baik yang terlewatkan tanpa goresan senyuman. Manusia melewatkan banyak hari bergelut dengan hal buruk di dalam kepala terlalu lama tanpa membiarkan dirinya sendiri merasakan sentuhan rasa tenang dan aman. “Daylily” hadir untuk menyadarkan kepala yang terlalu lama bersimpuh di bawah masa-masa kelam untuk mendapatkan kembali hari-hari secerah musim panas berhiaskan awan dan langit merah muda.
Kali ini Movements tidak mengisahkan cinta yang menggebu-gebu dan penuh hasrat, mereka datang membawakan lagu cinta universal yang memberikan dukungan serta ketenangan untuk orang-orang yang terlalu lama dipenjara dalam gelap, agar tidak lupa bahwa masih ada hari-hari baik yang menunggu untuk dijemput pulang.
Last Dinosaurs – Shallow Boy (2018)
Lagu lama dari band Australia yang sudah berkecimpung cukup lama juga di permusikan luar negeri. Shallow Boy adalah lagu denial. “It’s only been 3 weeks, but i don’t wanna leave, just like the movie” Hubungan yang sangat baru tapi indahnya sudah terasa seperti di film-film, juga terdapat unsur berbunga-bunga karena hubungan yang masih sangat baru. “He’s looking at another girl but i don’t care, cause i just wanna figure out what she want’s me to wear” “He just a shallow boy, But, he makes you feel like you’re in Paris”. Denial. Tapi tetap mewah.
Ia tau bahwa hubungannya tidak baik, bahkan perselingkuhan kerap terjadi, tetapi ia terlena akan romantisnya hubungan yang sedang ia jalankan. Romantis dalam segi kemewahan, bukan cinta. Hubungannya terlihat sangat menyenangkan seperti di film atau galeri seni, tetapi tidak ada keintiman didalamnya, tidak ada rasa cinta yang tulus di dalamnya. Namun, ia tetap menjalankannya hanya karena “He makes you feel like you’re in Paris”.
Fase berbunga-bunga memang wajar, tetapi kesadaran kesehatan hubungan juga perlu dibangun. Ia sadar, tetapi ia tidak ingin meninggalkan kehidupan superficialnya. Guys please, that’s not love. Please find “right” love for you.
Ride – Future Love (2019)
“Future Love” dari Ride terasa seperti kilau matahari di awal musim panas—hangat, ringan, dan penuh harapan. Dirilis pada 2019 dalam album This Is Not a Safe Place, lagu ini memantulkan semangat era Going Blank Again namun dengan napas yang lebih segar. Petikan gitar akustik yang jernih, harmoni vokal yang lembut, serta produksi rapi dari Erol Alkan membuatnya terdengar nostalgik sekaligus modern.
Kesan yang muncul begitu manis—sebuah euforia tenang tentang awal cinta, saat segalanya terasa mungkin. Tidak seberat shoegaze klasik mereka, justru di situlah daya tariknya: lebih pop, lebih terbuka, dan mudah meresap. Lagu ini seperti senyum yang tak dibuat-buat, tulus dan optimistis.
“Future Love” bukan hanya single yang kuat dalam fase reuni Ride, tetapi juga terasa personal dan intim. Saking manis dan hangatnya, lagu ini cocok dijadikan anthem pernikahan—mengiringi langkah dua orang yang percaya pada masa depan bersama, dengan keyakinan bahwa cinta adalah ruang kemungkinan tanpa batas
Rrag – Rona (2025)
Lagu “Rona” selalu datang ke gue seperti cermin yang tiba-tiba memantulkan hal-hal yang selama ini gue rasain tapi jarang bisa gue ucapin. Terutama di lirik, “Kau ambil gelap yang kugenggam erat / Mengubahnya menjadi cahaya.” Ada sesuatu yang sederhana tapi dalam di sana: tentang bagaimana kehadiran seseorang bisa menggeser cara kita memandang hidup, tanpa harus menghapus gelapnya sepenuhnya.
Setiap dengar bagian itu, gue langsung kepikiran Alif. Bukan karena dia datang sebagai penyelamat dramatis, tapi karena dia tahu porsi. Dia nggak maksa gue jadi selalu terang, nggak menuntut gue jadi versi paling cerah dari diri gue setiap waktu. Dia cuma ada, dan anehnya itu cukup buat bikin gelap gue terasa lebih bisa ditanggung. Seolah-olah hidup tetap darderdor, tetap berisik dan kadang melelahkan, tapi ada ritme bahagia yang konsisten di baliknya.
Buat gue, “Rona” bukan lagu cinta yang meledak-ledak. Ini lagu tentang terang yang realistis. Tentang seseorang yang bikin hidup nggak jadi sempurna, tapi jadi lebih seimbang. Dan mungkin itu bentuk kasih sayang yang paling jujur: bukan menghilangkan gelap, tapi menemani kita saat belajar melihatnya sebagai bagian dari cahaya juga.
Glaive – Fuck (2025)
Untuk para penulis, mungkin perasaan dan pengalaman adalah hal-hal yang biasa untuk diekspresikan. Setidaknya menurut Glaive, yang mengatakan bahwa ia selalu menemukan frasa yang tepat, kecuali untuk menjelaskan perasaannya saat menulis lagu ini.
Lagu ini dimulai dengan rekaman obrolan dua orang yang diiringi akord manis yang terdengar monoton, sebelum terbangun menuju genjrengan gitar yang menemani rasa kesal yang ditunjukkan.
“Fuck” menjadi pelampiasan hilangnya kata-kata yang tidak pernah hilang sebelumnya. Hal ini membuat ia mengatakan “fuck” sebagai umpatan untuk dirinya.
Di antara rasa takut kehilangan dan kasih sayang yang memberanikan diri untuk melepas, Fuck juga menjelaskan indahnya menemukan perasaan cinta di tengah kehidupan. Perasaan yang disebut hanya dapat dirasakan sekali dan tak akan dapat direfund ini mengajarkan banyak hal: apresiasi, ketahanan, dan damai.
Untuk kalian yang kehilangan cara untuk menuangkan besarnya perasaan kasih sayang, lagu ini ditemukan tertuju untuk kalian. Nikmati setiap proses pembelajaran dari kasih sayang. Semoga nantinya kalian akan menemukan kosakata dan tebal garis yang baru untuk menggambarkan rasa kasih sayang!
The Bunbury – Blue Haze (2021)
Kisah 2 orang yang bingung mengenai hubungannya. Satu sisi berkata bahwa ia sudah mengerahkan seluruh cintanya untuk pasangannya, menghabiskan waktu untuk pasangannya. Tetapi, semua sudah selesai karena salah satu berkata seperti itu. Sementara di sisi lain berkata ia ingin pasangannya untuk bertahan dengannya. Ia mengingatkan tentang masa lalunya dan berkata bahwa “tidak ada yang salah dengan hubungan ini, lalu kenapa kamu pergi?”.
Lagu ini bukan menceritakan hubungan toxic atau ada masalah yang sangat besar hingga menyebabkan perpisahan. Lagu ini menceritakan kisah 2 orang yang kehilangan arah untuk hubungannya, hilang arah pada cintanya. Mereka juga tidak ingin berakhir, bahkan mereka masih ingin melanjutkan keinginan dan rencana yang dulu sudah dipikirkan, tetapi semuanya sirna karena cinta mereka juga yang memudar karena hilang arah.
Lalu, muncul pihak ketiga yang berkata “ini adalah yang terbaik untuk kalian” (perpisahan), tetapi mereka berdua saja tidak tau apa yang mereka butuhkan. Actually the should find their spark again, but i don’t know. Mungkin satu sisi ingin mencari itu, tetapi di sisi lain tidak ingin karena ia merasa bahwa hubungannya sudah “selesai”.
Cellosux – 2010 Garage Band Days (2022)
“2010 Garage Band Days” terasa seperti gambaran diri sendiri yang tak kunjung ditemukan, bahkan setelah meninggalkan banyak orang untuk mencarinya. Lagu ini hadir seperti catatan perjalanan yang jujur, tentang pencarian diri yang ternyata tak pernah lepas dari relasi dan kasih sayang.
Rasa sesal yang ditemukan di tengah ambisi diri menunjukkan bahwa ia masih manusia. Di balik ambisi tersebut, ada kebutuhan untuk dicintai dan dimengerti. Ego tinggi dan keberanian yang ia ikuti mungkin dapat memberinya apa yang ia cari: diri sendiri. Sayangnya, menemukan diri sendiri seharga kehilangan semua orang di sekitarnya.
Kehilangan tersebut bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang cinta yang tertinggal dan tak sempat dirayakan.
Lagu ini untuk kalian yang bingung ingin merayakan kasih sayang dan sedang di ambang mengetik, “Hey, I know I should’ve sent a text.” Sebuah usaha kecil untuk kembali menyentuh cinta yang pernah terasa aman.
Keinginan untuk berhubungan kembali dengan rasa kasih sayang yang sudah tidak memiliki tempat untuk parkir, atau keinginan untuk mengubah masa lalu agar tidak sesepi ini; keduanya lahir dari cinta yang belum selesai dan masih ingin pulang. Keduanya akan diakari oleh kasih sayang yang besar, entah darinya, atau orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, cinta tidak selalu meminta kepastian, hanya keberanian untuk mengakuinya.
Apa pun keputusan yang ujungnya diambil, entah mengirim chat tersebut ataupun diam dan merasakan sepinya, rayakan hal tersebut!
Polyester Embassy – LSD (2011)
“LSD” dari Polyester Embassy terasa seperti percakapan terakhir dengan seseorang yang secara emosional sudah mati. Liriknya menggambarkan pertemuan yang dingin dan getir–dua sosok yang pernah saling mengenal, kini berdiri asing di bawah hujan yang sama. Ada kesadaran pahit bahwa yang tersisa hanyalah bayangan; tubuhnya ada, tapi jiwanya telah lama pergi. Kalimat penolakan yang tegas menjadi titik klimaks: hubungan ini tidak lagi punya ruang untuk hidup, dan kepergian adalah satu satunya jawaban.
Namun kekuatan lagu ini tidak berhenti pada liriknya. Ia menggeliat dengan alur musik yang membahayakan indera kita, ritem gitar yang bermunculan sesekali itu dipadu dengan dentuman bas yang meliuk menari menggoda, sebelum serangan gitar itu datang bagaikan proyektil yang dikendalikan dari jauh oleh pedal wahwah.. Atmosfernya hipnotik sekaligus agresif–seperti efek halusinogen yang perlahan menarik kesadaran menjauh dari realitas.
Perpaduan antara kepedihan emosional dan ledakan sonik menciptakan pengalamn yang intens: hubungan yang mati itu tidak hanya diceritakan, tetapi juga diserang, dihantam, dan akhirnya diledakkan oleh musiknya sendiri.
Nothing – Vertigo Flowers (2016)
Vertigo Flowers adalah lagu dengan 2 suku kata yang bias. “Vertigo” adalah salah satu gejala penyakit yang membuat kepala seseorang pusing, lingkungan sekitar terasa abstrak berputar tak karuan. Dan menyebabkan hilangnya keseimbangan. Sedangkan “Flowers” merupakan “Bunga” yang jika diinterpretasikan dengan perasaan adalah suatu hal yang indah, wangi, serta rasa tulus.
Balutan distorsi tebal kawin dengan vokal dreamy tentu menjadi kombinasi mutlak dari Nothing, secara mereka membawa bendera bernama Shoegaze. Nuansa mengawang membawa kita secara tak langsung untuk kilas balik, lelah dengan suara bising di kepala dan ada saatnya untuk berhenti sejenak. Aneh rasanya, gelap namun indah, sakit tetapi dirayakan, serta hampa namun juga penuh perasaan. Dua hal berlawanan satu sama lain tetapi melebur menjadi satu. Iringan gitar ambient tebal, melodi yang mudah diingat.
“And i hate everything you’re saying” Suatu pernyataan muak dengan seseorang kemudian
“Axiety it’s all about me”
Ungkapan dari akibat suatu kejadian yang sudah dilalui.
“Watch out for those who dare to say
“That everything will be okay”
“Watch out for those who want to be”
“Anything at all”
Merupakan bait penenang diri sendiri, juga bisa dimaknai dengan keadaan rapuhnya seseorang namun berusaha menutupinya sebaik mungkin. Lirik yang pendek tentu sangat mudah untuk dihafal akan tetapi bridge lagu ini justru yang menjadi memorable, transisi tajam naik turun menjadi penutup yang indah.
Vertigo Flowers adalah gambaran fase yang menyebalkan tapi tak bisa dihindari, akan tetap hal ini dimaknai dengan perayaan bukan dengan hal hal berbau melankolis, dan cengeng. Kehilangan suatu hal yang kita miliki tentu memunculkan impresi yang buruk. Depresi, hilang arah, mati rasa, putus asa, dan kekacauan lainnya tidak melulu harus kita maknai dengan renungan. Ada kalanya harus dilawan, walaupun mengakibatkan runtuh. Jika sudah runtuh? Bangun lagi dari awal! Ketergantungan terhadap sesuatu berbentuk apapun menyakitkan, menerimanya memakan waktu yang sangat lama, tergantung seberapa menyebalkan atau berkesannya orang itu.
Pure Saturday – Desire (1996)
Pure Saturday band yang mempunyai nama besar untuk kancah musik alternative di Kota Bandung tentu sudah tidak asing mendengarnya. Terkenal dengan lagu-lagu yang melodius, kemudian melankolis karena liriknya yang puitis, serta tajam dengan riff khas nya.
Tak salah memang menggambarkan mereka seperti kalimat di atas, pada lagu ini saja dibuka dengan lantunan melodi yang khas, siapapun pasti bakal mengingat lagu ini melalui intronya.
Belum dengan sentuhan tamborine yang mayoritas ikut menjadi pengiring, lagu ini sama populernya dengan “Kosong” tentu lagunya sama hal yang pertama diingat adalah lantunan gitarnya.
“Yesterday I found myself alone”
“In the dark and no one else”
“Then you came to me at night”
“And said “don’t worry it’s alright”
Penggambaran seolah harapan dari seseorang datang namun semua hanya sementara untuk lebih jauh bisa menjadi suatu kepalsuan. Harapan besar, namun kosong tak berisikan apapun. Walaupun seperti itu kita sendiri sudah terlanjur terbuai dengan hal tersebut, merasa hal itu adalah suatu ketulusan yang nyata, dan berharap hal itu bakal tinggal bersama kita selamanya.
“But how that dream will be come true”
“Will it be tomorrow, I don’t know”
Semakin tergambarkan pada bait di atas. Bisa jadi seseorang itu pergi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Dan tentu, karena rasa cinta sudah terlanjur tulus, pasti kaget dengan hal yang berlawanan datang secara tiba-tiba. Ujungnya sakit namun harus diterima dengan lapang dada.
“I can’t say anything”
“Or bring you something”
“I hope you can feel this”
“My Desire”
Memohon untuk dimengerti dan dipahami perasaan yang sudah diungkapkan meskipun hasilnya sama saja (sakit). Desire dapat diartikan sebagai “keinginan” atau “hasrat”. Rasa rindu yang mendalam terhadap seseorang yang tidak bisa digapai. Hubungan dua orang yang terikat secara emosional namun takdir berkata sebaliknya, entah faktor jarak, pihak ketiga, orang tua, atau hal hal external lainnya. Keinginan untuk mencintai memang kuat tapi semuanya mustahil untuk dilakukan. Tidak sesuai apa yang diekspektasikan.
Waterparks – Fruit Roll Ups (2021)
“I’m singing in three quarters, that’s how you know I’m fucking making this shit nice,” ucap Awsten Knight, penulis lagu, di awal lagu yang benar-benar dimainkan di three quarters.
Kasih sayang jadi terasa sangat menggemaskan, namun diam-diam memakan diri hidup-hidup dengan lagu ini.
Lagu ini terdengar seperti lagu cinta biasa. Dimainkan dengan gitar elektrik, ditemani suara synthesizer yang dreamy, dan diikat oleh background vocals yang indah. Tulisannya pun menceritakan cara mencintai yang sering ditemukan di sekitar kita, tapi dengan intensi yang salah.
“When you talk, it’s in cursive to me / and it’s nicer than anything I believe about me.”
Patahan lirik ini menunjukkan bagaimana ia dapat menemukan sisinya yang bahkan dirinya tak pernah terima dalam hubungan tersebut. Hal ini menumbuhkan pertanyaan tentang perasaannya; apakah ini kasih sayang, atau cara untuk bertahan?
“If you wanna see me acting so desperately, so desperately / All you gotta do is stop texting me.”
Ia juga menunjukkan kelemahannya untuk kasih sayang tersebut, dan bagaimana ia dependen kepada orang spesifik itu. Ia sudah di titik tak bisa berjalan tanpa suara notifikasi chat darinya, dan akan bersikap desperate jika ia kehilangannya.
Namun, di balik semua intensinya yang mungkin dapat melarikannya ke titik terendah menggunakan perasaan cinta, ia tetap menunjukkan bahwa ia memiliki rasa cinta yang besar. Dari usahanya membuat lagu tiga per empat (yang menurutnya, itu sesuatu yang baik), sampai hal-hal kecil lainnya, seperti menyediakan stok Fruit Roll Ups, menghiasi rumah dengan lampu warna-warni, juga keluar rumah dan menghadapi macet.
Untuk kalian yang masih mempertanyakan intensi kalian dalam berkasih sayang, jadikanlah hari ini hari libur dari pikiran tersebut. Belikan Fruit Roll Ups untuk teman favoritmu, hiasi rumahmu dengan lampu warna-warni sebagai kejutan untuk orang rumahmu, dan hadapi macet untuk bertemu orang tersayang!
eleventwelfth, Asteriska – your head as my favourite bookstore (2017)
“your head as my favourite bookstore” dari eleventwelfth selalu terasa seperti cara lain untuk mendefinisikan rindu. Judulnya saja sudah seperti metafora yang hangat: kepala seseorang diibaratkan toko buku favorit, tempat kita menemukan banyak hal, pulang ke cerita-cerita, dan merasa akrab meski tidak selalu baru. Buat gue, lagu ini menangkap bentuk kasih sayang yang pelan tapi luas, terutama pada orang-orang yang pikirannya kaya, yang obrolannya tinggal lama di kepala, yang kehadirannya membuat dunia terasa lebih ingin dipahami.
Konteks lagu ini tentang mengenang orang terkasih dan apa yang mereka tinggalkan, terutama kenangan, terasa begitu manusiawi. Karena pada akhirnya, banyak hubungan hidup lebih lama di ingatan daripada di kenyataan. Kita menyimpan cara mereka tertawa, cara mereka bercerita, cara mereka melihat dunia. Dari situ, kasih sayang jadi sesuatu yang melampaui hadir fisik.
Lagu ini seperti pengingat bahwa cinta tidak selalu soal memiliki di masa kini. Kadang ia hidup sebagai arsip, sebagai rak-rak memori yang bisa kita buka lagi saat perlu. Dan di situ, cinta terasa melampaui dimensi waktu: ia tetap bekerja, tetap menghangatkan, bahkan ketika orangnya sudah tidak di samping kita lagi.
Selamat 14 Februari!
Kata pengantar oleh Puti Cinintya Arie Safitri (Redaktur Intro Magz)
Tulisan oleh Agmal Salim, Fajar Wijaya S, Nurmeila Elfreda, Jauzza Kimora, Puti Cinintya Arie Safitri, dan Iqbal Rizkiahafiz Suherlan.




