[REVIEW] Romansa yang Tak Pernah Pergi: Kembalinya The Bunbury Lewat Romance Reigns

Ada masa ketika sebuah band memilih untuk diam untuk memberi ruang pada dirinya sendiri. The Bunbury datang dari fase seperti itu. Kurang lebih satu tahun mereka tenggelam dalam jeda yang sunyi, tanpa dorongan untuk buru-buru kembali atau mengejar sesuatu di luar diri mereka. Ketika akhirnya muncul lagi ke permukaan, langkahnya terasa lebih pelan, tapi juga lebih sadar.

EP Romance Reigns hadir sebagai penanda dari fase tersebut. Berisi empat lagu dan dirilis pada 14 Februari 2026, rilisan ini menjadi semacam titik mula dari perjalanan yang kembali dijalankan. Ada kesan bahwa mereka tidak sedang memulai dari nol, melainkan melanjutkan sesuatu yang sempat ditinggalkan.

Secara tematik, Romance Reigns berangkat dari cara pandang terhadap romansa sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk, bergeser arah, lalu datang kembali dalam konfigurasi yang berbeda. Empat lagu di dalamnya memotret cinta sebagai siklus yang terus berulang: muncul, menghilang, dan kembali lagi, sering kali dengan rasa yang sama membingungkannya, tapi tetap dinanti.

The Bunbury (dok. Alfian Widi)

Proses kreatif di balik EP ini juga berjalan dalam ritme yang tidak tergesa. Kembalinya Dimas ke Indonesia setelah dua tahun studi menjadi salah satu pemicu awal, yang kemudian disambut oleh pertukaran ide di antara para personel yang berada di kota berbeda. Materi-materi lagu berkembang dari demo yang saling dikirim lewat pesan singkat, sebelum akhirnya dipertemukan dalam bentuk yang lebih utuh. Cara kerja seperti ini terasa sejalan dengan semangat yang mereka bawa: jujur, tanpa tekanan untuk segera selesai.

Tahap produksi mempertemukan semua proses itu kembali di satu titik. Romance Reigns direkam di Catpaws Lab, Yogyakarta, dengan Dhandy sebagai produser dan Yoga sebagai co-producer. Meski sebagian workshop dilakukan secara daring, keputusan untuk tetap merekam di Yogyakarta memberi nuansa tersendiri, seolah seluruh proses ini berujung pada pengalaman “pulang kampung” yang tidak hanya bersifat geografis, tapi juga emosional.

Dari sisi musikal, EP ini tidak mencoba membentuk The Bunbury menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru. Justru sebaliknya, ia terasa seperti versi lama yang kini jatuh lebih pas. Elemen-elemen yang sudah dikenal sebelumnya dari The Bunbury seperti gitar yang renyah, ritme yang berjalan stabil, serta atmosfer post-punk revival dengan sentuhan melankolis, tetap dipertahankan. Namun, ada pergeseran dalam cara mereka memandang emosi di dalamnya. Sakit hati tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan diamati dan dibiarkan berbicara. Fokusnya tidak lagi soal menang atau kalah, tapi tentang siapa yang mampu bertahan untuk tetap merasakan.

Sejak terbentuk pada 2019, The Bunbury memang berdiri di atas gagasan tentang pelarian dan identitas. Terinspirasi dari konsep “Bunburying” ala Oscar Wilde, band ini menjadi ruang bagi para anggotanya untuk mengekspresikan sisi-sisi diri yang mungkin tidak selalu mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks itu, Romance Reigns terasa seperti kelanjutan dari ruang tersebut, tapi dengan perspektif yang lebih matang.

Secara referensi, jejak pengaruh seperti New Order, Ride, The Velvet Underground, hingga The Smiths dan The Pains of Being Pure at Heart masih bisa ditarik sebagai benang penghubung. Perpaduan antara keriangan dan melankoli, antara energi kolektif dan nuansa nostalgik, tetap menjadi fondasi dari suara mereka. Bedanya, kali ini fondasi itu terasa lebih tenang, seolah tidak lagi perlu dibuktikan.

The Bunbury (dok. Alfian Widi)

Saya sendiri mendengarkan The Bunbury jauh sebelum EP ini lahir. Di sebuah kafe di Bandung tahun 2020-an (lupa euy), saya dan Mirza bertemu. Ia memperdengarkan kepada saya materi single yang saat itu sedang mereka garap. Komentar pertama saya telak sekali, “Ini karakter vokal kayak Morrissey, sengaja ya?”. Komentar yang kemudian diamini olehnya, dan Mirza sebagai vokalis pun mengakui bahwa The Bunbury merupakan pengejawantahan dari karya-karya The Smiths. Saya kemudian terlarut. Saat itu, materi mereka belum sematang EP ini.

Menarik garis dari cerita saya tadi, saya sangat terkesan bahwa kini The Bunbury mencapai kedewasaan yang tidak lagi hanya plek ketiplek referensi. Saya bisa mendapatkan kesan itu dari trek pertama The Bunbury di EP Romance Reigns, “Some Stupid Songs To Cry About”. Ciri vokal Mirza masih sangat kental Morrissey-ish, tapi saya menangkap ada usaha untuk menjadi dirinya sendiri juga di sini. Nomor ini tepat sekali diletakkan sebagai pembuka karena menurut saya sangat nyaman sekali didengarkan. Mungkin suatu lagu yang akan kamu putar dalam perjalanan Jakarta – Yogyakarta di jalur selatan yang lebih tenang dibanding jalur Pantura.

“Jeane” jadi nomor selanjutnya yang melanjutkan tongkat estafet EP ini. “Your scent still linger on my shirt” membuat saya tertawa getir mengingat masa muda dimana saya suka sekali mencium baju saya yang aromanya dimiliki seseorang. Sedikit banyak kisah cinta anak muda digambarkan dengan jelas di lagu ini. Saya menilai lagu ini sebagai lagu susah move-on. Pantesan saja anak redaksi Intro Magz ada yang suka sekali dengan lagu ini, hahaha.

Kemudian sampai pada lagu ke tiga, “Brand New Ancient” yang judulnya menarik buat saya. Ancient tapi brand new, baiklah. Saya merasa Mirza lebih jujur bernyanyi di sini daripada di trek-trek lain, entah mengapa. Ada unsur bahwa dirinya sedang bernyanyi atas isi kepalanya sendiri, hopeless romantic menggemaskan.

EP ini terasa pendek dan singkat sekali, karena tahu-tahu sudah trek terakhir. Trek terakhir adalah versi akustik dari trek pertama. Jika harus dibandingkan dengan trek pertama, saya lebih suka versi pertama. Entah, mungkin karena saya suka The Smiths juga kali ya. Lebih The Smiths aja gitu yang trek pertama itu. Ini lebih ke asik dibawakan di tongkrongan dengan abu-abu rokok berterbangan dan sesekali tawa karena salah chord. Tapi ada bagian-bagian yang membuat lagu ini berbeda dengan trek pertama. Tarikan vokal dan isian suara perempuan mempermanis lagu ini. Mungkin ini semacam encore yang akhirnya meunjukkan bahwa EP ini akan berakhir.

Saya pikir, sudahlah, The Bunbury tidak perlu hiatus-hiatus lagi. Atau kalau lelah, istirahat sebentar saja. Kalau saja The Bunbury gila ketenaran, seharusnya mereka sudah tenar dari lama. Pesan pribadi untuk Mirza, no matter what happened and who you are, be kind always (and I love you both as a person and as a best friend, bebs). Buat temen-temen bandnya Mirza, semangat terus ya buat bisa bikin karya lagi.

Album mana, album?

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment