Ada alasan kenapa gue agak takut ngereview album debut yang baru keluar belasan tahun setelah bandnya berdiri. Soalnya biasanya bukan cuma lagu yang numpuk, tapi juga ego. Semua yang udah dipikirin bertahun-tahun pengen dimasukin. Semua referensi yang pernah bikin mereka jatuh cinta sama musik pengen dipamerin. Semua jurus dikeluarkan karena siapa tahu ini album pertama sekaligus terakhir.
Dan persis itu yang gue rasain waktu dengerin debut Aksiterror.
Band ini berdiri sejak 2002, tapi baru merilis album pertamanya pada 2016. Empat belas tahun jelas bukan waktu yang sebentar. Buat ukuran band underground, itu bahkan lebih panjang daripada umur banyak band yang udah sempat lahir, bikin dua album, bubar, lalu reuni lagi.
Makanya gue gak pernah bisa denger album ini sebagai sekadar debut.
Gue denger ini sebagai akumulasi.
Empat belas tahun ngumpulin riff. Empat belas tahun jatuh cinta sama Black Sabbath, Led Zeppelin, blues, doom, psychedelic, spiritualisme Jawa, musik India, dan entah berapa banyak album lain yang mampir ke ruang latihan mereka. Semua itu akhirnya ditumpahin ke satu album.
Masalahnya, gak semua hal yang menarik kalau berdiri sendiri otomatis menarik ketika dipaksa tinggal serumah.
Gue sempat bilang ke Rio Tantomo, drummer Aksiterror, kalau album ini terasa agak pretensius.
Dia malah balik nanya.
“Obesitas gak menurut lo?”
Gue ketawa.
Karena setelah dipikir-pikir, “obesitas” memang kata yang jauh lebih tepat.
Album ini bukan sok pintar. Mereka gak terdengar sedang berusaha kelihatan lebih intelektual daripada yang sebenarnya. Mereka memang beneran suka semua musik itu. Mereka memang beneran dengerin semua referensi yang akhirnya nongol di album ini.
Masalahnya cuma satu.
Mereka terlalu sayang buat ninggalin salah satunya.
Rio sendiri kemudian bilang kalau hampir semua pustaka musik yang ada di kepala mereka memang sengaja dimasukin ke album ini. Bahkan dia mengaku gak pernah ada kata “cukup” buat tiap lagu. Semua pengen disalurkan.
Dan memang kedengaran begitu.
Masalah terbesar album ini bukan karena gue gak ngerti mereka lagi ngapain.
Masalahnya justru gue ngerti.
Gue ngerti mereka lagi berusaha membalas semua musik yang pernah membentuk mereka. Gue ngerti kenapa blues muncul. Gue ngerti kenapa psychedelic masuk. Gue ngerti kenapa tiba-tiba ada nuansa India. Gue ngerti kenapa mereka pengen terdengar besar.
Tapi ngerti alasan di balik keputusan artistik gak otomatis bikin keputusan itu jadi bagus.
Berkali-kali gue ngerasa album ini akhirnya nemu jalannya.
Lima menit kemudian mereka sendiri yang muter setir.
Track pembukanya bahkan langsung ngasih sinyal itu. Rasanya mereka sengaja ngasih hook secepat mungkin, kayak bilang, “Nih, dengerin dulu sampai habis.”
Gue paham niatnya. Sayangnya, habis itu album malah sibuk berubah bentuk.
Ada riff blues yang mulai enak diikuti, eh belok lagi. Masuk groove yang menarik, eh pindah lagi. Baru mulai nyaman, udah diseret ke ide berikutnya.
Di titik ini gue mulai sadar kalau masalah album ini bukan soal genre.
Mau mereka nyampur blues sama heavy metal?
Silakan.
Mau nyemplung ke psychedelic?
Gas.
Yang bikin gue kehilangan pegangan justru karena setiap ide datang sebelum ide sebelumnya selesai berkembang. Gue gak pernah keberatan sama band yang punya banyak referensi. Gue keberatan kalau referensinya lebih gampang dikenali daripada identitas bandnya sendiri.
“Mansion Blues” adalah contoh paling jelas. Buat gue lagu ini terlalu betah jadi blues. Heavy metalnya kayak ditinggal di parkiran. Padahal justru benturan antara blues dan heavy metal itu yang tadinya bikin gue penasaran sama album ini. Gue berharap dua dunia itu saling dorong, saling bikin tegang. Yang gue dapet malah lagu blues yang sesekali dikasih bumbu metal. Bisa aja pembacaan gue salah. Tapi sepanjang lagu ini gue lebih sering nunggu momen ketika metalnya benar-benar menggigit. Momen itu gak pernah datang.
Di sinilah gue mulai mikir kalau Aksiterror sebenarnya bukan band yang kekurangan editor. Album ini yang kekurangan editor. Karena ada perbedaan besar antara:
“Punya banyak ide.”
dan
“Tahu ide mana yang harus dipakai.”
Band besar punya produser yang berani bilang,
“Intro kepanjangan.”
“Bridge ini buang.”
“Solo ini motong.”
“Riff ini simpen buat album berikutnya.”
Gue gak ngerasa ada orang yang ngomong begitu ke Aksiterror. Akibatnya semua lagu merasa penting. Padahal kalau semua penting… gak ada yang benar-benar penting.
Ironisnya, justru ketika mereka berhenti sibuk nunjukin koleksi referensinya, gue akhirnya mulai ketemu Aksiterror. “Iblis dan Malaikat” adalah momen itu. Ini lagu pertama yang bikin gue berhenti mikir.
“Oke…”
“Ini menarik.”
Sebagai orang yang memang doyan world music, gue langsung ngerasa lagu ini beda. Psychedelic-nya masih ada, tapi sekarang dia punya tujuan. Sentuhan musik India yang muncul gak terasa sebagai aksesoris buat bikin lagu terdengar eksotis.
Pas gue tanyain ke Rio, ternyata mereka memang sempat datang ke Pusat Kebudayaan India buat nyari pemain sitar, tabla, sampai biola India. Jadi bukan sok-sokan world music. Emang niat. Dan untungnya, niat itu kebayar.
Lagu ini bahkan sempat ngingetin gue sama Ramayana Soul. Bukan karena sama persis, tapi karena dua-duanya sama-sama mencoba ngobrol dengan idiom musik Timur tanpa terdengar seperti turis yang lagi belanja budaya.
“Ritual” juga menarik. Kolaborasi mereka dengan Kunokini bikin eksplorasi Nusantaranya lebih kerasa. Ditambah lagi penggunaan mantra tolak bala Kejawen yang dibaca terbalik di bagian akhir, sesuatu yang menurut kepercayaan Jawa justru dipercaya mengundang bala.
Gue suka detail-detail kayak gini. Karena ini nunjukin kalau ketertarikan mereka terhadap spiritualisme bukan sekadar tempelan estetika. Mereka beneran ngulik.
Sayangnya…
lagi-lagi album ini buru-buru pindah.
Justru ketika mereka mulai terdengar paling orisinal, mereka keburu belok lagi ke ide berikutnya. Gue berkali-kali ngomong dalam hati,
“Kenapa gak berhenti di sini aja?”
Permainan drum Rio juga bikin gue punya hubungan cinta-benci. Di beberapa bagian dia terdengar nanggung. Groove yang seharusnya dilepas malah terasa ditahan. Pas gue bilang begitu, dia ngebela diri sambil bilang beberapa feel memang terinspirasi John Bonham. Gue ngerti referensinya. Tapi referensi bagus sama hasil bagus itu dua hal yang berbeda.
Yang lucu, persepsi gue langsung berubah begitu buka dokumentasi live Aksiterror dan Sonic Piss Bastard Unit.
Lah…
Ini Rio yang gue cari.
Di atas panggung dia jauh lebih pede. Jauh lebih liar. Jauh lebih mengalir. Rio sendiri ngaku kalau dia benci rekaman dan benci main pakai metronom. Setelah denger album ini, gue percaya. Karena drummer yang gue denger di studio terdengar seperti orang yang lagi diawasi. Sementara drummer yang gue lihat di panggung terdengar seperti orang yang lagi having fun.
Gue lebih suka yang kedua.
Jauh.
Gue sadar ini mungkin dosa buat sebagian orang. Tapi di paruh kedua album gue mulai nyari tombol skip. Bukan karena musiknya jelek. Gue cuma capek.
Hampir semua lagu merasa layak berdurasi lebih dari lima menit. Padahal gak semuanya punya cukup amunisi buat mempertahankan perhatian selama itu. Dan jangan salah paham. Gue bukan anti lagu panjang. Sleep bikin lagu sejam. Godspeed You! Black Emperor bikin komposisi belasan menit. Gue bisa duduk dengerin itu semua. Berarti masalahnya bukan durasi. Masalahnya perhatian.
Album ini terlalu sering meminta perhatian penuh tanpa selalu memberikan alasan kenapa gue harus tetap bertahan.
Ada satu ironi yang justru bikin gue makin menghormati album ini.
Rio bukan cuma drummer. Dia juga penulis musik. Artinya dia tahu persis bahwa begitu album dirilis, semua drama, semua kompromi, semua cerita di balik layar udah gak penting lagi.
Yang tersisa cuma satu: Apa yang terdengar.
Dan mungkin itu juga kenapa dia gak pernah sekalipun berusaha membela albumnya waktu gue ngajak ngobrol. Dia malah jadi kritikus pertama buat karyanya sendiri. Bahkan waktu gue bilang album ini kebanyakan ide, dia cuma ketawa.
Lalu bilang,
“Intinya heavy metal, jeroannya yang beleberan.”
Gue gak bisa nemu metafora yang lebih pas. Tapi justru kalimat itu bikin gue berhenti nyebut album ini pretensius. Album ini bukan sok pintar. Album ini cuma serakah.
Serakah riff.
Serakah referensi.
Serakah durasi.
Serakah kemungkinan.
Serakah sampai lupa kalau menyisakan sesuatu buat nanti bukan berarti kehilangan. Justru kadang itu yang bikin sebuah album terasa utuh. Semakin lama gue mikirin album ini, semakin gue sadar problemnya bukan ada di kemampuan bermusik mereka. Riff bagus ada. Referensi luas. Eksplorasi berani. Niat besar.
Semuanya ada.
Problemnya cuma satu. Gak ada yang bilang,
“Udah.”
Padahal kadang pekerjaan paling penting dalam bikin album bukan nambah lagu. Tapi motong lagu. Bukan nambah riff. Tapi buang riff. Bukan masukin semua ide. Tapi milih ide mana yang benar-benar layak bertahan.
Setelah ngobrol sama Rio, gue akhirnya ngerti kenapa album ini bentuknya begini. Empat belas tahun terlalu lama buat nyimpen lagu. Terlalu lama buat nyimpen referensi.
Terlalu lama buat bilang, “Yang ini nanti aja.” Akhirnya semua dikeluarin sekaligus. Gue ngerti kenapa mereka puas sama album ini. Tapi sebagai pendengar, gue justru berharap ada yang ditahan.
Karena kadang album terbaik bukan album yang ngasih semua yang dia punya.
Kadang album terbaik tahu kapan harus berhenti.
Dan mungkin, di situlah dosa terbesar Aksiterror. Bukan karena mereka kekurangan ide. Justru karena mereka terlalu banyak ide. Lalu merasa semuanya harus masuk ke album yang sama.
Dengarkan albumnya di Bandcamp.




