Reruntuh — Nyala Langit Jingga (2025)

Nyala Langit Jingga, album ketiga dari Reruntuh — proyek solo milik Eky Rizkani — bukan hanya menjadi sekumpulan lagu yang diperdengarkan, melainkan perjalanan batin yang ditata rapi dalam bentuk bunyi. Dirilis pada 20 Juni 2025, album ini membalut musik folk yang akrab dengan lapisan atmosferik yang terasa seperti dekapan senja. Ia mengajak kita menata ingatan, merawat harapan, dan menaruh makna pada kehadiran yang kerap luput kita sadari. Tiap trek seperti halaman jurnal yang terbuka pelan-pelan, memperlihatkan potongan emosi, perenungan, dan cerita-cerita kecil yang nyatanya begitu besar dalam hati.

Pembuka album, “Laut”, langsung menghadirkan atmosfer tenang sekaligus misterius. Ini adalah remix dari karya lama Reruntuh, “the way of the water”, yang kali ini diolah ulang oleh Gulf of Meru (alias F.A. Poetra ‘Uta’ Tiardha). Suara ambient yang berlapis dan petikan gitar dingin menjadikan lagu ini semacam gerbang ke semesta Nyala Langit Jingga — sebuah ruang dimana kenangan dan kehampaan berjalan berdampingan. Dilanjutkan dengan “Ingatan”, Reruntuh membawa kita pada rasa rindu yang familiar bagi siapa pun yang pernah jauh dari rumah. Liriknya menyimpan getar halus tentang kehilangan arah dan perasaan pulang yang tak lagi sama, tapi justru menguatkan kita untuk tidak lagi berlari dari hal-hal yang menyusun diri.

Di lagu “Akar”, Reruntuh menghadirkan momen paling reflektif dalam album ini. Ditulis setelah kepergian sang ayah pada akhir 2022, lagu ini mengakar kuat pada kenangan dan nilai hidup yang diwariskan. Dengan baris lirik seperti “tak tumbuh semata tuk tumbuh”, ia menyuarakan gagasan bahwa pertumbuhan sejati bukan hanya soal menjadi besar, tetapi juga soal arah dan niat. Aransemen musiknya tenang, mengendap, dan penuh ruang — seperti doa yang tak perlu dijelaskan panjang-lebar. Ini adalah titik di mana album benar-benar menyentuh tanah, dalam arti yang paling emosional.

Sementara itu, “Bersendiri Berdua” dan “Sembunyi” mengeksplorasi sisi keintiman yang tak selalu mudah diungkap. Ada rasa ingin dekat tapi juga takut rapuh. Dalam “Bersendiri Berdua”, Reruntuh mengekspresikan keinginan untuk membuka diri di hadapan yang tercinta, meski momen itu mungkin sudah terlambat. Kemudian “Sembunyi” hadir sebagai potret gamang, yang lalu dijawab dengan “Esok Bermekaran” — lagu yang seperti secercah terang di ujung lorong. Ini adalah bagian dari album di mana rasa putus asa dan harapan berjalan berdampingan, menunjukkan bahwa bahkan di tengah rasa hampa, selalu ada sesuatu yang bisa tumbuh.

“Jangkar” menjadi titik di mana diam dipilih sebagai bentuk keberanian. Lagu ini tak mengajak kita untuk bergerak cepat, tapi untuk mengakar. Dalam dunia yang serba bising, Reruntuh justru menyarankan kita untuk bertahan dalam kesendirian, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai jangkar agar tidak terombang-ambing. Setelah itu, “Matahari Terbenam Begitu Saja” hadir ringan namun menyimpan kedalaman. Eksplorasi sonik dari Uta memberi ruang untuk merenung tentang waktu yang tak pernah benar-benar kita genggam, namun selalu berjalan.

Salah satu lagu paling menyentuh adalah “Genggam”. Di sini, petikan gitar dan ambience yang menyelubungi bagian depan dan belakang lagu menciptakan kesan magis — seperti genggaman tangan yang tak menjanjikan jalan yang mulus, tapi memastikan bahwa kita tidak melaluinya sendirian. Lagu ini seperti pengingat akan kehangatan yang bisa sangat sederhana tapi sangat menguatkan. Lalu datanglah “Nyala Langit Jingga” sebagai penutup — sebuah perenungan terakhir yang sekaligus jadi inti dari album ini. Vokal Reruntuh dibiarkan mengambang, luas dan lapang, sementara gitar tetap membumi. Lagu ini tidak meledak dalam klimaks dramatis, tapi justru menenangkan, mengajak kita menerima bahwa harapan tidak selalu besar. Ia bisa kecil, subtil, namun tetap menerangi.

Di balik semua lapisan suara itu, produksi dan mixing Nyala Langit Jingga terasa jujur. Vokal dijaga tetap dekat, instrumen diberi ruang untuk bernapas, dan efek ambient diletakkan seperti kabut — nyaris tak terlihat, tapi mengisi ruang dengan sempurna. Sentuhan Uta sebagai co-producer dan keterlibatannya di Angular//Momentum (label yang menaungi album ini) memperkuat estetika sonik yang senyap tapi menggugah. Tidak ada suara yang mendominasi, semua elemen berdiri beriringan, saling melengkapi.

Secara keseluruhan, Nyala Langit Jingga adalah album yang tidak dibuat untuk memukau, tapi untuk menemani. Ia tidak berteriak, tapi berbicara pelan-pelan. Ia tidak memaksa hadir, tapi membekas ketika sudah masuk ke dalam. Rasanya seperti pelukan diam yang datang di saat paling dibutuhkan. Di tengah dunia yang serba cepat dan gaduh, Reruntuh mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke dalam, merawat ingatan, lalu menyalakan harapan — meski kecil dan subtil.

Kalau kamu suka musik yang memberi ruang untuk bernapas dan berpikir, album ini bukan hanya layak didengar — ia layak dirasakan.

[INTRO MAGZ/PUTI CININTYA ARIE SAFITRI]

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment