D’Sayang dan Pop Melayu yang Tidak Pernah Benar-Benar Layu

No comments

“Masih musim lagu kayak gini?”

“Di sana masih tahun 2008 ya bang?”

“99 panggilan dari inbox dan DahSyat”

“D’kontol…”

Setidaknya itu beberapa reaksi netizen atas postingan akun @dimassalamundsayangband yang sering lewat di tab explore instagram gue beberapa hari belakangan. Postingan video pendek semacam behind the scene pembuatan video klip band yang mengusung genre Pop Melayu dengan menampilkan tiga personil yang sedang bermain musik dengan latar belakang bukit-bukit. Mereka mempromosikan single yang berjudul “Assalamualaikum Sayang”.

Tentang musiknya mari kita bahas nanti. Masih banyak hal yang perlu dibahas cuma dari postingan reels tersebut. Mulai dari style sang vokalis, dengan gaya rambut agaknya berkiblat Japanese style dengan sepatu size di atas 45, kacamata hitam besar, filter wajah tirus sampai logo band yang mirip Noah hingga komentar-komentar (positif, negatif, atau satir) di postingan tersebut. Dengan melantunkan lirik-lirik khas Pop Melayu yang mulai naik di tahun 2008, dibalut dengan pantun dalam lirik yang ditulis oleh Dimas Salamun, vokalis D’Sayang:

“Bubur sumsum dicampur daun pandan,

Assalamualaikum masa depanku

Satu titik dua koma,

Nona cantik siapa yang punya”

Sebuah postingan reels tersebut membawa gue untuk menyelam lebih lanjut untuk mendengarkan lagunya secara utuh dan mencari tahu tentang mereka. Berasal dari Sumatera, tepatnya dari provinsi Jambi, nampaknya mereka ingin membawa kearifan lokal dengan berpantun Melayu. Menurut pengakuan mereka, D’Sayang membawa karakter musik dengan 40% musik Mandarin, dan 60% musik band Indonesia lainnya. D’Bagindas menjadi referensi utama band ini. Terlihat jelas dari awalan nama band diawali “ D’ ”. Tipikal musik khas FTV jam satu siang di salah satu stasiun televisi swasta dengan tema-tema percintaan yang berlatar di pedesaan.

Sekarang mari kita bahas lagunya. Di bagian intro lagu ini, mereka memang menggunakan aksen-aksen musik Mandarin, dengan dicampur formula musik dan songwriting band Pop Melayu tahun 2008-2011. Mereka mengandalkan kekuatan pantun dan permainan rima dalam lagu ini. Dari awal lagu dimulai, liriknya adalah hook yang sangat mudah dihafalkan siapa pun yang mendengarkan lagunya. Pada bagian reff, berbunyi sebagai berikut:

“Buah salak di atas meja

Buah nangka di dalam peti

Dari mana datangnya cinta

Dari mata turun ke hati

Maukah kau menemaniku

Hingga rambutku kan memutih

Jadilah ibu dari anak anakku

Kan ku ratukan dirimu”

…

“Empat kata, ku sedang jatuh cinta”

Lirik yang ditulis Dimas Salamun tersebut dipersembahkan untuk seorang perempuan bernama Jasmin Valencia Agatha. Seorang mualaf keturunan Tionghoa yang menjadi inspirasi terbentuknya nama band D’Sayang. Menurut keterangan Dimas, D’Sayang Artinya (D’) Dimas dan (Sayang) Wanitaku. Sungguh kisah cinta yang luar biasa dari Dimas, hingga membuatnya produktif dalam berkarya.

Lagu ini memiliki potensi untuk menjadi hit untuk mengguncang belantika musik Indonesia, dengan musik yang easy listening, bisa jadi inilah saatnya kebangkitan musik Pop Melayu yang sempat tertidur panjang. D’Sayang memiliki kemiripan dengan D’Bagindas secara musikal. Selain itu, kemunculannya mengingatkan gue dengan band fenomenal lainnya di era yang sama yaitu Kangen Band. Respons dari pendengar yang awalnya menghujat penampilan dan lagu mereka, namun sampai saat ini karya mereka tetap punya tempat dan dinyanyikan orang-orang, semacam guilty pleasure. Hal yang sama gue rasakan ketika bosan-bosannya mendengar lagu dengan genre indie/alternative di aplikasi streaming musik digital, lagu ini justru terasa segar.

Pada akhirnya, penggalan lirik Efek Rumah Kaca terbukti benar:

“Kita memang benar-benar melayu, suka mendayu-dayu”.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment