renaivé — Ethereal Recurrence (2025)

renaivé, proyek solo multi-instrumentalis Yana Setya Nugraha yang mungkin sudah kamu kenal sebagai bassist Saturday Night Karaoke dan sosok di balik one‐man‐punk‐rock‐band Gracehowl, akhirnya menuntaskan fase eksperimennya dengan merilis EP keempat berjudul Ethereal Recurrence pada 16 Juni 2025. Kalau sebelumnya Yana melemparkan trilogi EP i, ii, dan iii sebagai ajang uji coba genre, kali ini ia meramu rilisan yang benar-benar mengajak kita masuk ke dunianya: lebih terkonsep, lebih padu antara narasi dan struktur musikal.

Dengarkan saja lima trek di Ethereal Recurrence; mulai dari “Constellate” yang membuka dengan poliritmik math-rock penuh kilatan glitch, hingga “…and gratitude unfolds by itself” yang menutup dengan nuansa lapang sekaligus mengundang senyum. Meski struktur lagu‐lagunya terbilang rumit, Yana berhasil menjaga atmosfer agar tetap ringan — seolah mengundang kamu menyusuri tiap lapisan suara tanpa merasa terbebani. Tambahan elemen petalcore atau botanica music memberi sapuan organik yang memecah ketegangan, menciptakan posisi pas di antara tegas dan dreamy.

Prosesnya sendiri ternyata perjalanan panjang selama dua tahun. Biasanya Yana mengerjakan semuanya sendiri, tapi untuk EP ini ia memilih mengajak beberapa teman baik: ada yang membantu perekaman, ada yang merancang artwork keren ala Arta Lukman, hingga support teknis lain yang membuat setiap detail terdengar lebih hidup.

Tema besar EP ini diangkat dari gagasan Eternal Recurrence milik Nietzsche, yaitu ide bahwa hidup akan terus berulang dalam siklus tanpa henti. Setiap lagu di sini menggambarkan fase: mulai kelahiran dan gairah muda, puncak kesadaran, hingga momen hening sebelum lilin padam dan kembalinya siklus itu sendiri. Saat mendengarkan, kamu bisa seolah merasakan denyut waktu yang berputar — kadang emosional, kadang membangkitkan rasa syukur, tapi selalu membawa ruang untuk refleksi.

Secara pribadi, menurutku Ethereal Recurrence terasa seperti undangan untuk berhenti sejenak, mendengar, lalu mengevaluasi kembali apa yang sudah dan akan kita jalani. Nuansanya yang uplift­ing tapi kontemplatif membuat EP ini cocok diputar saat pagi yang tenang, sembari menyeruput kopi dan membiarkan pikiran terbang mengikuti alunan instrumen. Dengan musiknya yang full instrumental, kamu jadi punya ruang imajinasi sangat luas untuk membayangkan setiap lagunya sebenarnya bercerita tentang apa. “Constellate” sendiri merupakan pembuka yang apik untuk EP ini. Aku paling suka lagu yang itu. Keren. Bertenaga.

Kalau kamu penasaran, EP ini sudah tersedia di semua platform streaming — Spotify, Apple Music, atau langsung saja tengok halaman Bandcamp Temporary Room di https://temporaryroom.bandcamp.com/.

Selamat menikmati, dan semoga setiap putaran trek membuka lapisan baru dalam harimu.

[INTRO MAGZ/PUTI CININTYA ARIE SAFITRI]

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment