Menangkap waktu yang retak.
Ada sesuatu yang selalu melayang di musik Duara: rasa enggan untuk terburu-buru. Sejak 2017, duo asal Jakarta ini — Renita Martadinata (vokal) dan Robert Mulyarahardja (gitar) — membangun dunia sonik yang seperti menolak disiplin genre. Mereka menyebutnya pop agnostic: sebuah cara halus untuk berkata bahwa lagu-lagu mereka lahir bukan dari keharusan tren, melainkan dari serpihan ingatan yang ditangkap dalam bentuk suara.
Kini, lewat EP terbaru berjudul In The Moment (29 Agustus 2025, MABES Music), Duara merumuskan sikap itu dengan paling jernih. Empat lagu di dalamnya terdengar seperti perjalanan ke dalam ruang sunyi, merekam kerinduan, perubahan, dan rasa mengambang yang begitu khas dari tahun-tahun aneh antara 2020–2021 — masa ketika waktu seakan tak lagi linier, melainkan meregang, berulang, dan menggantung di luar kendali kita.
In The Moment terasa seperti buku harian sonik. Alih-alih menampilkan single radio-friendly, Duara justru merangkai pengalaman yang intim, seolah mengajak pendengar membuka kembali lembar catatan lama hanya untuk menemukan bahwa kata-katanya masih relevan hari ini.
Single utama, “Memento Mori”, dirilis lebih dulu pada 22 Agustus. Dengan tempo lambat, gitar akustik tipis, dan cello melankolis, lagu ini menjelma ruang kosong yang penuh jejak — seperti ruangan yang masih mengingat orang-orang yang pernah ada di dalamnya. Repetisinya membentuk suasana menghantui, sekaligus menenangkan.
Namun EP ini tak berhenti di sana. Trek pembuka, “Between The Lines”, justru membuka dengan energi berbeda. Drum machine yang statis, bass line yang kotor, synthesizer yang mengawang, dan gitar bernuansa rock melodius jadi fondasi, sementara liriknya berayun di antara nostalgia dan keinginan untuk maju, menciptakan tarikan dan dorongan yang mewarnai keseluruhan rekaman.
Judul yang sama dengan EP, “In The Moment”, hadir sebagai inti: sebuah meditasi musikal yang mengalir tanpa tergesa, nyaris seperti napas panjang yang menampung satu lamunan penuh. Hingga akhirnya, “Futatabi” — kata Jepang untuk “lagi” — menutup perjalanan dengan nuansa pembaruan. Di lagu ini, siklus jatuh, mencoba, dan kembali terhubung diputar ulang, sampai repetisi itu sendiri berubah jadi bentuk penyembuhan.
Musik Duara selalu punya kualitas sinematik: melodi yang seakan merentang jauh, ruang suara yang lega, dan atmosfer yang membuat pendengar larut. Namun di EP ini, mereka justru lebih dekat, lebih intim. Ada semacam ketelanjangan emosi yang terasa lebih tajam, mungkin karena lahir dari periode isolasi dan ketidakpastian.
Mendengarkan In The Moment seperti berjalan di galeri ingatan: setiap lagu adalah potret, setiap repetisi adalah gema dari sesuatu yang pernah kita rasakan. Ia tidak mendikte bagaimana kita harus merespons, melainkan memberi ruang bagi pendengar untuk mengisi celah dengan pengalaman masing-masing.
“Apa yang kamu dengar adalah ingatan dari masa lalu sekaligus jawaban untuk masa kini, dibentuk ulang oleh segala sesuatu yang terjadi di antaranya,” tulis Duara dalam catatan perilisan mereka.
Untuk mewujudkan atmosfer itu, Duara kembali bekerja dengan Uga Swastadi sebagai produser, bersama para kolaborator seperti Sukma Raya, Hansen Arief, Kelvin Andreas, hingga Ricky Virgana (cello). Kehadiran mereka memperkaya lapisan musik tanpa mengganggu inti intim yang ingin disampaikan Renita dan Robert. Proses mixing oleh Jonathan Pardede dan mastering oleh Stevano kemudian mengikat semuanya menjadi satu lanskap sonik yang utuh.
In The Moment bukanlah EP yang akan dikejar algoritma, juga bukan musik untuk diputar sambil lalu. Ia adalah rekaman yang meminta pendengarnya untuk berhenti sejenak, meresapi setiap gema, dan menemukan refleksi diri di baliknya.
Dalam ekosistem musik pop yang sering terburu-buru, Duara menawarkan sebaliknya: pop yang menolak tergesa-gesa. EP ini menjadi soundtrack bagi siapa pun yang merasa terjebak di antara nostalgia masa lalu dan ketidakpastian hari esok.
Dan mungkin di situlah kejujuran terbesar Duara: menerima bahwa waktu memang rapuh, namun justru dalam keretakan itulah kita bisa menemukan bentuk penyembuhan baru.




