In Inertia Showcase: Bunga-Bunga di Dalam Mimpi

Melangkahkan kaki memasuki lantai 4 Rossi Musik untuk menghadiri In Inertia Showcase, rasanya seperti disambut oleh hingar bingar gigs pada umumnya. Namun mata langsung tertuju pada set panggung yang dari jauh terlihat “sederhana”.

Namun ternyata, tanda kutip pada kata sederhana memang tidak perlu dihilangkan. Nyatanya tidak sederhana. Sangat keren. Mungkin deskripsi yang tepat menggambarkan set panggung tersebut adalah seperti yang ditulis oleh Andy /rif, “Bunga di taman, seindah redup bulan”. Ornamen bunga yang menghiasi panggung seolah menjadi bentuk ekspresi In Inertia atas rasa bahagia dalam gelaran showcase pada 28 September lalu.

In Inertia membuka acara showcase mereka dengan mengajak Zaman (yang juga kolaborasi dengan Rifai) dan Reruntuh (Eky Rizkani).

Zaman ft Rifai di In Inertia Showcase (dok: Rasyafadhiila Akhsan)

Zaman dan Rifai kemudian membuka acara dengan soundscape yang hangat dan melagu dengan manis. Kehadiran Rifai sebagai kolaborator seperti memberi nuansa angin sejuk yang memperkuat keintiman suasana. Dan berbicara soal pengalaman menonton set ini, menyaksikan set mereka malam itu bukan hanya memanjakan telinga, tapi juga seperti mengajak kepala untuk berhenti sejenak dan refleksi diri. Semacam memunculkan keheningan yang terasa nyaman.

Hal tersebut bahkan divalidasi oleh Eky Rizkani pada saat set-nya “Set dari Zaman dan Rifai tadi bagus banget!,” kata Eky saat set manggung beliau.

Reruntuh di In Inertia Showcase (dok: Gilang Nugroho)

Penampilan Reruntuh pun tak kalah hangat dan khusyuk, beberapa nomor dari album terbaru mereka, Nyala Langit Jingga (2025), ia bawakan lantang dengan petikan lembut namun juga memberikan kesan reflektif (Baca juga ulasan kami tentang Reruntuh di sini). Kalau boleh diibaratkan, seperti mendayung kano di sungai yang sepi dan tenang.


Setelahnya, ini dia menu utama yang sudah ditunggu-tunggu, In Inertia. Fitrah Akbar Poetra Tiarda (Uta) dan Annissa Utami (Guri) perlahan menaiki panggung yang sempat membuat bingung, mengapa begitu banyak bunga? Bunga yang semilir mewangi, menambah suasana menjadi sedikit misterius. Lampu yang temaram, sesekali mencrang ketika tempo dan sonik yang dibawakan meledak-ledak. Kami sudah tidak peduli lagi In Inertia membawakan lagu apa saja saat itu. Yang jelas, rasanya bagai terhisap ke sebuah lubang kosmik besar yang penuh dengan nada-nada indah. Suasananya sangat terasa dreamy. Rasanya seperti ada di ruang di mana kita bisa bernapas pelan lagi. Penonton sangat hening dan khusyu’. Sama sekali tidak ada kebisingan lain selain penampilan In Inertia malam itu.

In Inertia di In Inertia Showcase (dok: Gilang Nugroho)

Kami sangat yakin sekali, ada banyak hal yang selama ini tidak terucap. Malam ini, kami merasa akhirnya semuanya pecah di udara; di panggung kecil yang jadi saksi bagaimana mereka berdiri tanpa lagi bersembunyi.

Selama 5 tahun, mereka tampak seperti siluet: ada, tapi samar. Musiknya selalu terasa dekat, tapi identitasnya disimpan rapat, seolah takut merusak kenangan yang sudah terlanjur indah. Tapi malam ini, kami melihat mereka tampil apa adanya. Tidak lagi menahan kata-kata, tidak lagi sembunyi di balik nostalgia. Mereka benar-benar keluar dan bicara.

Dan kami, terutama saya (re: editor), sadar: showcase ini juga buat kita — pendengarnya. Seolah In Inertia bilang, “Terima kasih sudah tetap ada. Semoga lagu-lagu ini juga menghidupkan kenangan indah di hidup kalian.” Dan jujur… iya, rasanya seperti itu.

Terkait konsep panggung, dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Guri—salah satu personel In Inertia—membagikan kisah personal yang selama ini jarang diungkapkannya. Guri bercerita bahwa selama bertahun-tahun hidupnya diwarnai nightmare disorder; sebuah kondisi mimpi buruk berulang yang diakui secara medis dan dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang (lihat penjelasannya di sini).

“Awalnya aku juga kaget waktu didiagnosis. Setiap hari rasanya berat. Bukan karena aku tidak bisa tidur, tapi karena aku takut tidur,” tulisnya. Meski menjalani hari-hari dengan kepala yang lelah, Guri tetap berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain. “Tidak ada satu haripun tanpa mimpi buruk. Biasanya aku baru bisa tidur sekitar jam 2 pagi, lalu terbangun lagi jam 3. Dan itu terus berulang.”

Namun suatu malam, ia mengalami mimpi yang berbeda. Mimpi itu terasa lembut: kabur, hangat, dan tenang. Ia menggambarkan dirinya berjalan memasuki rumah masa kecilnya, dengan lantai yang dipenuhi bunga. “Rasanya damai sekali. Aku ingat itu dengan jelas, seperti seluruh diriku diselimuti ketenangan.”

Sejak saat itu, ia mulai berusaha mengenali dan mengelola hal-hal yang memicu mimpi buruknya. “Puji Tuhan, semuanya perlahan membaik. Aku rasa obat paling kuat adalah penerimaan diri,” lanjutnya.

Momen mimpi itu kemudian menjadi inspirasi konsep pengalaman showcase In Inertia. Guri menyebut bahwa ia memiliki keinginan untuk suatu hari mewujudkan atmosfer mimpi itu di atas panggung: hangat, hidup, dan membangkitkan kenangan baik—sejalan dengan misi band tersebut.

“Ketika itu terjadi… aku bahkan tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya,” tutupnya.

Untuk In Inertia yang akhirnya berani bicara, tampil, muncul, menampakkan diri dan mengungkap identitasnya—terima kasih. Untuk kenangan yang terbangun malam itu kami bawa pulang.

Tim Editor

Puti Cinintya Arie Safitri Avatar
Adil Akhsan Avatar

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment