[REVIEW] Sedikit Collapse, Sedikit Barefood, Banyak Keraguan: “House” dari Danesa

Ada lagu-lagu yang sejak detik pertama memutarnya, langsung membawa kamu masuk ke ruang kenangan yang samar, seperti menapaki lorong panjang yang pernah akrab, tapi kini lampunya temaram dan bayangannya bergeser. “House” dari Danesa punya sensasi yang sangat mirip dengan pengalaman itu.

Lagu ini tidak serta-merta memelukmu dengan kehangatan atau sambutan ceria, tapi juga tidak mendorongmu pergi. Ia hadir dengan sikap yang nyaris netral: berdiri di antara kenyamanan yang setengah-setengah dan keraguan yang tidak sepenuhnya diusir. Rasanya seperti pulang ke rumah lama yang masih menyimpan jejakmu, tapi perabotannya sudah berpindah, warnanya memudar, dan udara di dalamnya sedikit asing. Ada perasaan akrab, tapi juga ada jarak yang tidak bisa dijelaskan.

Secara musikal, “House” bergerak di ranah indie rock yang cukup tegas. Distorsi gitar terasa menonjol, menghadirkan tekstur yang tebal dan sedikit kasar, namun tidak sampai menenggelamkan nuansa pop yang tetap terasa di dalamnya. Tempo lagunya santai di wilayah mid-tempo; drum yang stabil dan mengayun memberi dorongan seperti langkah kaki yang mantap, bergerak terus tanpa tergesa, namun juga tidak pernah benar-benar ragu. Lapisan-lapisan gitar listrik yang saling bersahutan membangun atmosfer mendung, suasana yang berat dan penuh awan, tapi tidak pernah benar-benar hujan deras. Distorsi yang digunakan juga terasa proporsional, cukup untuk menambah ketegangan emosional, namun tidak berlebihan sehingga masih menyisakan ruang bagi perasaan-perasaan lain untuk masuk.

Ada satu momen dalam lagu ini yang terasa seperti kode rahasia bagi siapa pun yang pernah menyelami skena indie Indonesia. Ada tarikan emosi yang mengingatkan pada Collapse dari Bandung, terutama dalam ketegangan dan kecanggungan yang dibangun melalui progresi akor dan permainan gitar. Namun, di saat yang sama, melodinya tetap ringan dan hangat, seperti ketika Barefood dari Jakarta sedang berada di masa jayanya; melankolis, tapi tidak tenggelam dalam kesedihan. Jika ingin mencari benang merah dengan band luar, kadang permainan gitar dan atmosfernya mengingatkan pada Basement di lagu “Summer’s Colour.” Mungkin ini hanya pengaruh dari kebiasaan mendengarkan Basement, tapi kombinasi elemen-elemen ini memang jarang ditemui, dan itulah yang membuat “House” jadi karya yang terasa segar sekaligus akrab. Ada sedikit rasa canggung yang menyelinap, ada manis yang samar, dan semuanya terasa sangat tulus.

Vokal Rizky Surur dalam lagu ini mengambil peran yang tidak biasa. Ia bukan pusat perhatian, bukan pula sumber ledakan emosi. Alih-alih mendominasi, vokalnya hadir sebagai narator yang berjalan berdampingan dengan musik, tidak berusaha merebut panggung. Pilihan ini membuat tema lagu semakin terasa dekat dan personal; tentang ruang yang seharusnya menjadi rumah, tempat pulang, namun kadang justru terasa asing dan penuh jarak. Tentang bertahan dalam keasingan, menahan diri cukup lama sampai akhirnya bisa menerima retakan-retakan yang muncul seiring waktu. Vokal yang tidak berlebihan justru memperkuat kesan reflektif dan jujur, seolah-olah suara hati sendiri yang sedang bercerita.

Yang menarik, “House” tidak buru-buru menyajikan klimaks atau penyelesaian. Lagu ini menahan semua refleksi dan ketegangan sampai mendekati akhir. Seolah-olah, selama beberapa menit, kamu diajak berjalan dalam ruangan penuh dinding distorsi, lalu tiba-tiba sebuah jendela terbuka di ujung lagu. Ketegangan yang semula padat perlahan diberi ruang untuk bernapas. Bukan pelepasan total, lebih seperti selingan untuk menarik napas, merenung sejenak, sebelum kembali pada kenyataan yang mungkin tak sepenuhnya berubah. Perasaan lega yang diberikan bukan datang dari tuntasnya masalah, tapi dari keikhlasan untuk berdamai dengan keadaan.

Pada akhirnya, “House” terasa lebih seperti lagu tentang proses belajar tinggal, tentang menerima bahwa rumah tidak selalu identik dengan kehangatan, kadang justru dipenuhi oleh ketidakpastian, perubahan, bahkan rasa asing. Namun, di tengah semua itu, tetap ada dorongan untuk memperbaiki, membereskan, dan berusaha menjadikan tempat itu layak dihuni kembali. Danesa berhasil merangkai semua nuansa itu dalam aransemen sederhana namun jujur. Ada kegugupan, ada pahit-manis, ada kejujuran yang mentah, dan justru karena itulah lagu ini terasa sangat manusiawi.

Ia mengingatkan bahwa rumah, dalam segala bentuk dan kondisinya, selalu punya ruang untuk pulang dan bertumbuh, meski tidak pernah benar-benar sempurna.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment