Irsyad Agni — palababi (2025)

Ketika amarah menjadi alarm.

Pada suatu malam di bulan puasa, ketika sebagian besar orang memilih menenangkan diri dengan doa atau berbuka bersama keluarga, Irsyad Agni justru duduk di ruang kerjanya dengan gitar menyala dan nada-nada kasar yang berulang-ulang. Dari tangannya lahir sebuah komposisi yang terdengar lebih mirip sirene darurat ketimbang musik populer. Namun justru di situlah esensinya: sebuah alarm. Alarm untuk membangunkan kesadaran, agar publik tidak lupa bahwa intimidasi terhadap kebebasan pers masih berkeliaran di negeri ini.

Lagu itu ia beri judul “palababi”, diambil langsung dari simbol teror yang digunakan untuk mengintimidasi redaksi Tempo: kepala babi dan bangkai binatang. Bagi Irsyad, kejadian tersebut bukan sekadar episode horor dalam daftar panjang kekerasan terhadap jurnalis, melainkan sebuah sinyal yang tak boleh diabaikan.

“Saya merasa seperti dipaksa mengingat bahwa metode primitif ini masih dianggap efektif untuk membungkam media,” katanya, mengisap dalam-dalam setiap kata.

Sejak awal kariernya, Irsyad Agni tidak pernah bermain aman. Ia bukan musisi yang sibuk memburu formula radio-friendly, melainkan pencipta yang menjadikan musik sebagai medium perlawanan. Jika di single “Raja Jawa” ia merespons isu politik lewat satir pedas, maka “palababi” lahir dari energi yang lebih mentah: kemarahan.

Lirik pembuka “kepala babi” menghantam pendengar tanpa basa-basi. Tak ada metafora indah atau permainan kata berlapis; Irsyad justru memilih konfrontasi langsung, mengajak publik menghadapi rasa jijik dan tidak nyaman yang sama seperti yang ia rasakan.

Musiknya pun tak kalah keras. Riff gitar abrasif dibentangkan berulang-ulang, seolah-olah alarm kebakaran yang sengaja dibiarkan berbunyi. Di atas itu, vokal Irsyad meluncur dengan nada tercekik, menyalurkan emosi yang tak bisa lagi dikemas halus.

Yang membuat “palababi” semakin relevan bukan hanya kejadian terornya, tetapi juga bagaimana pejabat publik merespons. Pernyataan seorang juru bicara istana yang enteng menyarankan kepala babi itu “dimasak aja” menjadi pemantik tambahan bagi Irsyad.

“Bagi saya, itu bukan hanya komentar yang dangkal, itu pelecehan terhadap akal sehat dan empati publik,” jelasnya.

Kekecewaan itu kemudian berubah menjadi materi lirik: tudingan terhadap siapa saja yang seharusnya melindungi publik, tetapi justru menertawakan penderitaannya. Di titik ini, “palababi” tak lagi soal Tempo semata, melainkan tentang wajah pelayanan publik yang semakin kabur.

Ada paradoks menarik di balik proses kreatif lagu ini: ditulis di bulan Ramadan, masa yang identik dengan introspeksi. Namun justru dalam suasana sunyi itulah, Irsyad merasa ruang amarahnya paling jujur. Ia tidak berusaha menyamarkan nada emosinya, malah mengolahnya jadi komposisi yang berisik, menusuk, dan sukar ditoleransi.

“Lagu ini saya tulis dengan niat untuk marah, untuk melawan apatisme yang terus dipelihara,” tegasnya.

Ironi ini membuat “palababi” semakin kuat. Seperti doa yang tidak keluar lewat bisikan lirih, melainkan lewat teriakan keras yang menolak dikompromikan.

Dalam peta musik Indonesia, karya Irsyad bisa ditempatkan dalam tradisi panjang musik protes. Dari Iwan Fals yang bersuara di era Orde Baru, hingga unit punk dan hardcore yang mengguncang skena independen dengan kritik sosial mereka. Bedanya, Irsyad memilih mengawinkan kritik politik dengan pendekatan sonik yang lebih abrasif, lebih dekat ke noise dan rock ketimbang folk balada.

“palababi” bukanlah lagu untuk sekadar didengar sambil lalu. Ia menuntut pendengarnya ikut merasakan ketidaknyamanan, ikut marah, ikut terganggu. Karena hanya dengan itulah, menurut Irsyad, masyarakat bisa sadar bahwa normalisasi teror bukanlah pilihan.

Dalam ekosistem musik yang sering terjebak dalam siklus trending singkat, keberanian Irsyad terasa langka. “palababi” bukan ditulis untuk algoritma, tetapi untuk menolak diam. Dan dalam ketajamannya, ada risiko: tak semua orang siap menerima pesan sekeras ini. Namun bagi Irsyad, justru itulah tujuan musiknya.

“Musiknya kencang, nadanya tajam, dan setiap barisnya diarahkan untuk menusuk rasa malu yang seharusnya dimiliki oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan tapi lupa siapa yang mereka layani,” katanya.

Pada akhirnya, “palababi” adalah lebih dari sekadar single baru. Ia adalah alarm keras yang menolak berhenti berbunyi. Alarm yang mengingatkan kita bahwa di balik headline berita, ada luka kolektif yang seharusnya tidak diabaikan.

“palababi” kini tersedia di seluruh platform digital, lengkap dengan video lirik di kanal YouTube resmi Irsyad Agni. Dan seperti alarm yang tak bisa dipadamkan, lagu ini mungkin akan terus berdengung di telinga kita — setidaknya sampai kita berani mendengar, dan benar-benar peduli.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment