Elephant Kind benar-benar berubah di More Time, album ketiga mereka. Dan bukan cuma soal musiknya.
Cara mereka memperlihatkan diri sebagai band terasa beda, jauh lebih lugas, lebih sadar diri. Di album ketiga, More Time, pergeseran itu terasa jelas bukan sebagai eksperimen yang mencoba-coba arah, melainkan sebagai sebuah pernyataan. Mereka tahu siapa mereka. Mereka tahu ke mana mereka mau pergi.
Album ini lahir dari dua kota yang nyaris tidak bisa lebih berbeda satu sama lain: Jakarta dan London. Dan justru dari jarak itulah sesuatu tumbuh.
Dua Kota, Satu Visi
Bam Mastro, yang memimpin arah kreatif band ini, bicara soal perbedaan dua kota itu dengan cara yang sederhana tapi tepat. “Cuaca benar-benar mengubah cara kamu merasakan dan melihat sesuatu,” katanya. “It’s like cooking in different temperatures, you get different results.”
Bukan hanya soal cuaca, tentu. Lebih dari itu, soal bagaimana lingkungan membentuk cara seseorang berpikir dan akhirnya berkarya. Bam menceritakan bagaimana ia mencoba benar-benar masuk ke dalam ritme London, bukan sekadar menumpang tinggal di sana. “Gue mencoba untuk benar-benar berasimilasi. Setelah tinggal di lima negara berbeda sebelum pindah ke sana, gue belajar bahwa kamu tidak hanya membawa budayamu ke negara baru—kamu juga ikut jadi bagian dari budaya mereka.”
Dan London, dengan sejarah panjangnya dalam musik dansa, punya daya tarik tersendiri. “Nulis musik di London bikin kami mau jadi bagian dari sejarah panjang kota ini dalam dance music, dan itu salah satu alasan kenapa More Time terdengar seperti ini.”
Semua lagu di album ini ditulis di London dari nol, sebagian besar di East London, sebagian lagi di Abbey Road. Bam menyebut prosesnya terasa sangat natural, jauh dari kesan dipaksakan. “Gue benar-benar mencoba meresapi East London sebanyak yang gue bisa. Gue mau punya lebih banyak hal untuk diceritakan di lagu-lagunya.”
Ada keyakinan yang menarik di balik cara ia berbicara soal penulisan lagu: “I don’t believe in writer’s block. I believe there’s always something to write about, and that’s why you have to really live.”
Workflow di Antara Dua Dunia
Saya bertanya soal bagaimana mereka benar-benar mengelola proses kreatif yang terbagi antara dua kota, secara praktis. Bam menjawab dengan gamblang. Ia menyiapkan studio di apartemennya sendiri, dan anggota band lain datang beberapa kali seminggu. Mereka juga banyak menghabiskan waktu di The Premises, salah satu studio paling terkemuka di London.
“Berkumpul untuk bikin musik terasa natural karena kami sudah melakukannya begitu lama,” katanya. “Prosesnya selalu sama: kami ke studio, fight for our ideas as bandmates, terus fight for them again waktu presentasi ke label.”
Soal apakah prosesnya pernah terasa terfragmentasi, Bam menjawab singkat tapi padat. “Visinya selalu sama: tulis lagu sebanyak-banyaknya.” Ada bulan-bulan di mana ia menghabiskan 70 jam seminggu di studio. Ada bulan lain di mana hanya 30 jam. Dan ada kalanya ia pergi berlibur, sengaja mencari inspirasi dari luar. “Tapi setiap hari, kamu harus memikirkan apa yang bisa kamu lakukan untuk membawa bandmu lebih jauh.”
Kendali yang Direbut Kembali
Salah satu hal yang paling menonjol dari More Time adalah keterlibatan langsung Bam sebagai produser, sementara beberapa trek mendapat bantuan dari Iain Berryman, dengan mixing dan mastering dikerjakan Adam Stevenson dan Christian Wright. Tapi keputusan untuk benar-benar memegang kendali produksi bukan hal baru bagi Bam. Ini soal kepercayaan pada insting sendiri yang sudah lama ia bangun.
“Sama seperti di album pertama dan kedua, gue selalu suka punya lebih banyak kendali atas prosesnya,” katanya. “Bahkan waktu kami bekerja dengan produser-produser ternama, gue selalu lebih percaya pada palette gue sendiri daripada siapa pun.”
Ada pola yang ia sadari dari pengalaman sebelumnya: “Whenever we succeed, it’s usually because I didn’t second-guess my instincts.” Dan pola itulah yang ia bawa penuh ke dalam More Time. Kepercayaan pada diri sendiri bukan sekadar gestur artistik, tapi justru jadi fondasi yang mengubah cara mereka mendekati seluruh proses album ini.
Ketika saya tanya apakah ada hal yang terasa belum sepenuhnya merepresentasikan mereka di karya-karya sebelumnya, Bam menjawab dengan cara yang tidak terduga. Alih-alih bicara soal kompromi atau ketidakpuasan, ia justru bicara soal perasaannya terhadap karya yang sudah selesai. “Gue sebenernya jarang banget dengerin lagu-lagu kami setelah dirilis. Mungkin karena gue yang mengerjakan semuanya dari nol.”
Tapi More Time berbeda. “Kali ini, gue begitu bangga sama More Time sampai waktu gue dengerin sekarang, rasanya seperti pertama kali gue bikin lagu itu.” Sebuah pengakuan yang, dari seseorang yang mengaku jarang mendengarkan kembali karyanya sendiri, terasa cukup berat.
Pergeseran Tempo, Pergeseran Rasa
More Time punya sesuatu yang berbeda secara musikal: ada lebih banyak ruang, lebih banyak jeda, tarikan napas yang lebih panjang. Saya bertanya kepada Bam, apakah pergeseran tempo dan atmosfer ini disengaja.
“I don’t really like to limit myself when it comes to tempos, arrangements, or space,” jawabnya. “I like to be as free as possible. Our best work happens when we feel absolutely free.”
Kebebasan itu terasa sangat nyata di lagu “Plan”, yang ia sebut sebagai salah satu track yang paling merepresentasikan pergeseran ini. “Rasanya lagu itu menunjukkan bahwa kami masih haus akan kebebasan yang selalu kami punya, dan kami tidak mau melepaskannya.”
Sementara soal lagu judul, “More Time”, Bam bicara tentang keinginan yang lebih besar: mendefinisikan ulang musik dansa, setidaknya bagi diri mereka sendiri. “Kadang sesederhana menggunakan acoustic drums untuk beats yang biasanya dibangun di atas drum machine.”
Genre Bukan Batas bagi Elephant Kind, Tapi Warna
More Time adalah album yang melintasi banyak wilayah: ada hip-hop yang menempel di beberapa bagian, house yang subtle, rock yang tetap jadi dasar, sensibilitas pop yang khas Elephant Kind. Tapi alih-alih terdengar kacau, semua itu justru menyatu dengan cara yang terasa organik.
Saya tanya bagaimana mereka menjaga agar semua pengaruh itu tetap terasa kohesif. Bam menjawab dengan cara yang terdengar enteng, tapi punya kedalaman tersendiri. “Kami tidak pernah terlalu khawatir soal kohesivitas selama kami tahu mau ke mana.” Begitu mereka menemukan tema album ini, yang tersisa hanyalah proses seleksi: memilih 12 lagu dari ratusan yang sudah mereka tulis.
Apakah album ini lebih terasa sebagai eksplorasi atau konsolidasi? “Lebih soal berpegang pada apa yang benar-benar kami percaya,” kata Bam. “Bukan hanya sebagai seniman, tapi sebagai manusia—kita harus merangkul evolusi. It takes a lot of courage to invent and reinvent yourself. Kalau gue harus pilih satu kata untuk menggambarkan More Time, kata itu adalah: innovation.”
Evolusi Elephant Kind Tanpa Pemutusan
Ada pertanyaan yang selalu menarik untuk diajukan kepada band yang terasa berubah: apa yang sengaja mereka tinggalkan dari sound lama, dan apa yang tetap mereka jaga?
Bam menjawab dengan cara yang tidak terduga. “Kami tidak benar-benar berpikir seperti itu. Mungkin terdengar aneh bagi artis lain, tapi dalam usaha untuk menjadi lebih baik, kamu harus menjadi berbeda.” Tapi ia menambahkan satu catatan penting: “We’re not consciously trying to be different. We just focus on what it means to be Elephant Kind.”
Soal melepas album lama dan melangkah ke yang baru, Bam menolak framing pemutusan itu. “Gue tidak melihat merilis album baru sebagai meninggalkan album-album sebelumnya. Mereka masih sangat menjadi bagian dari kami.” Yang berubah bukan identitas, tapi cara identitas itu diekspresikan. Dan bagi Bam, itu bukan hal yang perlu dipertanyakan—keyakinan bahwa inovasi dalam seni itu perlu, bahkan ketika orang bilang tidak ada lagi yang benar-benar original.
Tentang bagaimana Elephant Kind melihat diri mereka sekarang dibanding sebelumnya, ia berkata: “Menciptakan sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah ada di luar sana adalah sebuah keberhasilan besar bagi kami. To channel that energy into creating art that’s the complete opposite of what everyone else is doing at the time—that puts us in a league of our own.”
Makna More Time bagi Elephant Kind
Di balik semua itu, ada tema yang lebih dalam: More Time bukan cuma jadi judul album. Ini pernyataan filosofis.
“Mungkin gue masih mencari tujuan hidup gue, tapi gue rasa gue sudah tahu apa yang benar-benar gue inginkan di dunia ini: more time,” kata Bam. Di era di mana banyak artis bicara soal hidup selamanya atau tetap muda selamanya, Elephant Kind memilih perspektif yang berbeda. Track pembuka menangkap itu dengan tepat: “I don’t need to live forever, I just want more time.”
Album ini juga dibentuk oleh pengalaman-pengalaman nyata yang berat. Bam menyebut beberapa momen yang paling membekas. “Almost getting murdered on a London bus,” katanya, tertawa kecil. Lalu dengan nada yang lebih serius, ia menyebut hubungan dengan label rekaman sebelumnya, pengalaman pindah ke belahan dunia lain bersama bandmates dan pasangan masing-masing, dan keinginan yang terus berulang dalam album ini: “Our desire to humanize things that people often choose to demonize.”
More Time, dengan semua itu, bukan sebuah penutup atau kesimpulan. Bam sendiri tegas soal ini. “It’s the beginning.”
Dan kemudian, dengan cara yang terasa seperti janji yang disampaikan pelan-pelan: “If you’re an Elephant Kind fan, you’re in for a treat. Just wait.”

Album Elephant Kind – More Time tersedia di semua platform streaming.




