Merayakan 10 Tahun Nonagon Infinity dengan Mendengarkannya Sampai Kuping Pecah

Suatu ketika, ada masa di hidup gue ketika satu-satunya hal yang masuk akal adalah mendengarkan Nonagon Infinity terlalu keras.

Tahun 2020. Pandemi. Putus cinta. Dunia kayak pause screen yang lupa dipencet play lagi. Orang-orang bikin sourdough,ngaduk dalgona, jogging pagi pakai masker, belajar saham, belajar ikhlas, sementara gue malah tenggelam dalam sembilan lagu yang bunyinya kayak orang ADHD dikasih gitar fuzz dan minuman energi.

Dan anehnya, itu berhasil.

Gue gak punya alasan khusus kenapa tiba-tiba ‘sembuh’. Rasanya kayak masuk angin terus tau-tau ilang aja padahal gak minum obat. Mungkin Nonagon Infinity-lah obatnya.

Selama kira-kira dua minggu, gue literally dengerin album itu doang. Bangun tidur muter Robot Stop. Mau tidur muter lagi. Lagi beberes kamar muter lagi. Lagi lembur muter lagi. Lagi bengong muter lagi. Bahkan mungkin kalau Spotify Wrapped zaman itu bisa ngomong, dia bakal nyuruh gue cari bantuan profesional.

Tapi justru dari situ gue sadar ada sesuatu yang aneh dari album ini.

Karena biasanya ketika lo overplay satu album, lama-lama rasanya habis. Magisnya hilang. Tapi Nonagon Infinity malah kayak organisme hidup. Semakin diputer, semakin kebuka lapisan-lapisan gilanya.

Dan sampai sekarang, 10 tahun sejak album ini dirilis oleh King Gizzard & the Lizard Wizard pada 2016, gue masih belum nemu album lain yang bisa bikin gue merasa sebodoh, sesenang, dan sehidup ini dalam waktu bersamaan.

“Maneh Pasti Suka Ini Band, Drummernya Dua”

Gue pertama kali kenal King Gizzard dari Fardlan, temen gue di Bandung.

Kalimat pembukanya simpel:
“Maneh pasti suka ini band. Drummernya dua.”

Kalimat paling goblok sekaligus paling efektif untuk memperkenalkan KGLW ke seseorang.

Waktu itu kayaknya dia nunjukin video KEXP I’m In Your Mind Fuzz. Gue lupa detailnya karena udah lama banget, tapi yang gue inget cuma satu: kepala gue langsung kebuka.

Bukan cuma karena dulu mereka memang punya dua drummer, Eric Moore dan Michael Cavanagh, yang bikin ritme mereka terdengar kayak kereta barang kehilangan rem. Tapi juga karena energinya terasa sangat… gak takut.

Gak takut norak.

Gak takut terlalu banyak ide.

Gak takut keliatan goblok.

Dan makin gue ngulik katalog mereka, makin gue sadar kalau KGLW itu band yang genuinely tidak peduli dengan batas genre maupun “pakem keren” anak indie modern.

Hari ini bisa bikin garage psych. Besok thrash metal. Besoknya lagi microtonal Turkish psych. Besoknya synth-pop kupu-kupu digital.

Dan semuanya somehow masuk akal.

Album pertama yang bikin gue benar-benar jatuh cinta malah Flying Microtonal Banana. Sampai sekarang menurut gue itu salah satu gerbang terbaik buat masuk ke dunia KGLW. Album itu bunyinya kayak ular kobra belajar main saz di bengkel motor. Mereka bahkan memodifikasi instrumen mereka sendiri demi bisa memainkan nada-nada microtonal.

Tapi Nonagon Infinity adalah titik ketika gue sadar:
“Oh ini bukan sekadar band bagus. Ini band sinting.”

Haram Hukumnya Shuffle

Gue punya prinsip pribadi ketika pertama kali denger album:
jangan shuffle.

Dengerin utuh dulu. Hormati urutannya.

Tapi Nonagon Infinity beda.

Album ini bukan cuma “lebih enak kalau urut.”

Album ini harus urut.

Shuffle Nonagon Infinity tuh kayak memotong ular terus berharap dia masih hidup.

Karena seluruh DNA album ini dibangun dari transisi tanpa napas. Lagu terakhir, “Road Train”, literally masuk lagi ke “Robot Stop”, bikin albumnya looping tanpa akhir sesuai judulnya sendiri. Bahkan Pitchfork menyebut album ini sebagai album pertama yang benar-benar memberi alasan sah untuk menekan tombol repeat.

Dan waktu gue sadar itu pas putaran pertama, reaksi gue cuma:
“Wah anjing album apaan nih bagus banget.”

Yang lucu, dua minggu kemudian reaksi gue masih sama.

Bahkan sampai sekarang masih sama.

“Robot Stop” masuk kayak mesin pabrik kesurupan.
“Big Fig Wasp” nyelonong kayak orang mabuk nabrak pintu tongkrongan.
“Gamma Knife” terdengar seperti serangan panik yang groovy.
Dan “Wah Wah” tetap menjadi lagu paling tolol yang pernah gue cintai.

Karena ayo jujur aja.
Ada sesuatu yang sangat goblok dari lagu yang intinya orang dewasa teriak:
“wa wa wa wa wa wa”

Tapi justru itu yang bikin KGLW spesial.

Mereka bisa terdengar seperti profesor musik yang habis makan jamur beracun.

ADHD Dalam Bentuk Album

Kalau gue harus menjelaskan Nonagon Infinity ke orang yang belum pernah dengar KGLW, gue mungkin akan bilang:

Album ini kayak ADHD dalam bentuk musik.

Atau motor kopling masuk neraka.

Atau kartun Adult Swim kena jamur.

Atau orang kebotian barang bagus lalu memutuskan tidak tidur tiga hari.

Dan yang bikin album ini makin gila adalah fakta bahwa konsep looping-nya bukan gimmick kosong. Lagu-lagunya memang didesain seperti satu perjalanan panjang 41 menit yang nyaris gak pernah berhenti. NME bahkan menulis kalau album ini terasa seperti representasi paling akurat dari live show KGLW yang chaotic dan tanpa ampun.

Lucunya lagi, fans KGLW sampai sekarang masih obsesif membahas transisi album ini di forum-forum dan Reddit. Ada yang berusaha “memperhalus” loop antara “Road Train” dan “Robot Stop”, ada yang bikin fan animation khusus untuk anniversary 10 tahunnya, bahkan ada yang menyebut Nonagon Infinity sebagai “never-ending Gizz concert.”

Dan gue ngerti kenapa.

Karena album ini memang terasa seperti konser yang gak mau selesai.

Soundtrack Mental Collapse

Salah satu hal paling aneh dari Nonagon Infinity adalah:
album ini cocok diputar dalam kondisi apa pun.

Naik motor malam? Masuk.

Lembur? Masuk.

Beres-beres kamar? Masuk.

Lagi collapse mental? Sangat masuk.

Bahkan pas berak sekalipun juga masuk.
Headbanging sambil berak itu pengalaman spiritual tersendiri.

Dan gue rasa itu karena energi albumnya sangat fisikal. Begitu “Robot Stop” mulai, badan otomatis ikut gerak. Refleks biologis. Kepala otomatis headbanging bahkan sebelum otak sempat memproses.

Album ini gak memberi ruang buat diam.

Dia terus maju.
Terus muter.
Terus nabrak.

Makanya gue juga ngerti kenapa banyak review luar waktu itu menggambarkan album ini seperti roller coaster tanpa rem atau “sonic Möbius strip.”

Karena mendengarkan Nonagon Infinity memang terasa seperti dilempar ke mesin cuci industri lalu keluar dalam keadaan berkeringat tapi bahagia.

Band yang Terlalu Bebas untuk Jadi Normal

Semakin lama ngikutin KGLW, semakin gue sadar kalau yang bikin mereka spesial bukan cuma musiknya.

Tapi filosofi mereka terhadap musik.

Ini band yang:

  • pernah bikin album microtonal dengan modifikasi alat sendiri
  • pernah merilis lima album dalam satu tahun
  • pernah membebaskan salah satu albumnya untuk diproduksi siapa saja secara gratis
  • membiarkan fans bootleg konser mereka
  • dan terus bereksperimen seolah-olah mereka takut mati sebelum mencoba semua genre di dunia

Dan menurut gue semua kegilaan itu DNA-nya paling terasa di Nonagon Infinity.

Karena di album ini mereka terdengar seperti sekumpulan manusia yang genuinely pengen ngebut sampai tembok jebol.

Bukan demi terlihat artsy.

Bukan demi validasi kritikus.

Bukan demi algoritma.

Tapi karena mereka memang segila itu.

Dan di era streaming sekarang, ketika banyak album dirancang supaya cepat viral, cepat dipotong jadi 15 detik TikTok, atau cepat masuk playlist, Nonagon Infinity terasa semakin keras kepala.

Album ini menuntut perhatian penuh.

Dia pengen lo duduk dan ikut terseret.

Dan kalau bisa, jangan berhenti setelah satu putaran.

Album yang Gue Gatekeep

Lucunya, gue jarang merekomendasikan Nonagon Infinity ke orang.

Kalau ada yang pengen mulai masuk ke dunia KGLW, biasanya gue kasih Flying Microtonal Banana dulu.

Biarlah Nonagon Infinity jadi album yang YTTA.

Karena album ini terlalu personal buat gue.

Terlalu chaotic.

Terlalu mirip diary mental breakdown yang kebetulan direkam dalam bentuk garage-psych.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa album ini masih terasa spesial bahkan setelah satu dekade.

Karena beberapa album cuma menemani hidup lo.

Tapi Nonagon Infinity?

Dia menelan lo bulat-bulat.

Dia bikin lo capek.
Dia bikin lo ketawa.
Dia bikin lo pengen muter lagi.
Dia bikin lo lupa sedih untuk sementara.

Dan mungkin, kadang-kadang, itu sudah lebih dari cukup.

NONAGON INFINITY OPENS THE DOOR.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment