eleventwelfth – ascending faster than before – ACT I : The Beginning (2025)

eleventwelfth (dok. Angular//Momentum)

Ini bukan hanya review, ini rasa jengah.

Gue mau mulai dari rasa muak, karena ini bukan sekadar emosi personal, tapi posisi artistik. Istilah “wong kalahan” makin ke sini terasa seperti jargon malas: dipakai untuk meromantisasi keterbatasan, disederhanakan jadi identitas, lalu diulang sampai kehilangan daya kritis. Ia sering diseret ke musik seolah jadi justifikasi estetik, padahal yang terjadi justru penyempitan makna dan imajinasi. Dalam konteks ini, rilisan terbaru eleventwelfth terasa relevan bukan karena ikut menyuarakan kepasrahan, tapi karena menolak dikurung oleh narasi apa pun, termasuk narasi genre dan identitas yang dipaksakan dari luar.

Penolakan itu bahkan datang langsung dari vokalisnya, Rona Hartriant. Dalam caption Instagram yang menyertai era baru ini, ia menulis dengan gamblang: “I kind of hated the term ‘Midwest Emo.’ Not because I disliked the genre, but because of how narrowly most people defined it. Being boxed in can genuinely kill creativity.” Sebuah pernyataan yang penting, karena muaknya bukan pada musiknya, tapi pada cara publik memperlakukannya sebagai kotak mati. Eleventwelfth, sejak awal, bahkan tidak pernah berniat memainkan “Midwest Emo” sebagai genre baku. “When we started this project, we never intended to play ‘Midwest Emo.’ I simply listened to a lot of fourth-wave emo and felt compelled to make music that paid tribute to that entire umbrella of sound,” tulisnya. Ini bukan pembelaan, tapi klarifikasi arah.

Secara historis, eleventwelfth memang sering dicap math rock atau midwest emo, padahal diskografi mereka justru berkali-kali membantah label tunggal itu. Album debut SIMILAR dielu-elukan lintas media dan bahkan menembus nominasi AMI 2023 lewat “KALA” bersama Mario Camarena (CHON). Proyek kolaboratif DIFFERENT kemudian secara sadar membongkar identitas tersebut dengan melibatkan 12 musisi lintas genre, dari Perunggu sampai Namoy Budaya, dan kembali mendapat pengakuan lewat nominasi AMI 2025. Jadi ketika orang masih memaksa menyempitkan midwest emo dan math rock seolah identik dengan eleventwelfth, itu bukan cuma keliru, tapi malas secara intelektual.

Single “ascending faster than before – ACT I : The Beginning” adalah manifestasi paling frontal dari sikap itu. Ini lagu tercepat dan terkeras yang pernah mereka rilis, dengan keberanian meninggalkan sound twinkly dan persona melankolis masa lalu. Glitch rock, EDM, post-hardcore, DnB, radio rock, mall emo, dan math rock bercampur tanpa niat minta izin. Rona sendiri menegaskan bahwa elemen math rock pun bukan kebetulan: “I’ve been obsessed with bands like The Fall of Troy, The Mars Volta, and Protest the Hero since junior high. Their ability to make complexity feel effortless, yet still pleasant to hear — that’s the puzzle I’ve always been trying to solve.” Kompleksitas di sini bukan pamer teknik, tapi alat untuk terus mendorong diri keluar dari zona nyaman.

Yang menarik, kemuakan ini juga bersifat reflektif. Rona mengakui bahwa batasan terbesarnya justru datang dari dirinya sendiri: “The older I get, the more I realise my own musical comfort zone was a self-imposed prison.” Dari situ, eksplorasi mereka meluas — hip hop, rap, EDM, jazz, neo-soul — bukan sebagai tempelan gaya, tapi sebagai perubahan cara mendengar dan berpikir. Perspektif inilah yang menjadi bahan bakar era baru eleventwelfth: “We honestly don’t care about the genre; what matters to us is the constant effort to try something new.”

Di titik ini, kritik perlu diarahkan ke pendengar dan pengamat yang terlalu cepat mengibarkan bendera genre. Rona menutup dengan pernyataan yang seharusnya mengakhiri perdebatan lama: “This new song is a statement: We are not the flagship band of the so-called Midwest Emo in Indonesia. We are more than that.” Eleventwelfth tidak sedang kabur dari identitas, mereka sedang merebutnya kembali. Video musik garapan Rama Florenza Manafe — dengan glitch agresif, strobing tajam, dan visual abstrak — memperkuat narasi transisi ini, sekaligus menandai pembukaan proyek besar menuju 2026.

Jadi kalau masih ada yang memaksa menarik eleventwelfth ke satu kotak genre, atau lebih parah lagi ke narasi “kalah” yang romantis tapi mandek, mungkin masalahnya bukan di musiknya. “ascending faster than before – ACT I : The Beginning” adalah pernyataan bergerak: tentang menolak diam, menolak definisi sempit, dan menolak bermain aman. “Call it what you want. I call it eleventwelfth,” tulis Rona. Hari ini hard rock, besok entah apa — dan justru di situlah nyawanya.

Sekali lagi, wong kalahan apaan sih, tai ledig.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment