Ketika Homage Harus Berhenti Menjadi Bayangan: Membaca Ambisi Torantula Lewat Broyer du Noir ~深夜の幻聴~

Tidak banyak musisi Indonesia yang cukup nekat untuk memulai proyek dengan menjadikan visual kei sebagai bahasa utama.

Di tengah industri yang lebih akrab dengan pop alternatif, emo revival, atau hardcore, Macan Wigit justru mengambil jalur yang jauh lebih sempit melalui Torantula. Debutnya, Broyer du Noir ~深夜の幻聴~, tidak mencoba menyembunyikan sumber inspirasinya. Sebaliknya, proyek ini secara terbuka menyebut nama-nama seperti Malice Mizer, Lareine, Schwarz Stein, Raphael, hingga Luna Sea sebagai fondasi artistiknya.

Kejujuran semacam itu patut diapresiasi.

Namun, di saat yang sama, ia juga memunculkan pertanyaan yang jauh lebih penting: ketika referensi sudah disebut sejak awal, apa sebenarnya yang membuat Torantula layak didengar sebagai Torantula?

Ini bukan kritik terhadap inspirasinya. Hampir semua musisi besar lahir dari kekaguman terhadap musisi lain. Masalahnya muncul ketika identitas sebuah proyek lebih mudah dijelaskan melalui daftar referensi dibanding melalui karakter musiknya sendiri.

Dalam materi persnya, Torantula menjelaskan proyek ini sebagai eksplorasi visual kei dengan pendekatan baroque rock yang dibangun menggunakan harpsichord, strings, serta fretless bass. Di atas kertas, konsep ini terdengar menjanjikan. Alih-alih hanya mengandalkan estetika visual, Macan mencoba membangun atmosfer yang memang identik dengan tradisi visual kei era 1990-an.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa proyek ini lahir dari pemahaman, bukan sekadar ketertarikan sesaat.

Macan sendiri bukan wajah baru dalam komunitas musik Jepang di Indonesia. Ia telah aktif sejak 2005, bergerak sebagai vokalis, rapper, DJ, sekaligus terlibat dalam berbagai proyek musik yang berbeda. Pengalaman itu memberi modal yang cukup untuk mengerjakan sesuatu yang lebih personal daripada sekadar nostalgia terhadap musik Jepang yang ia cintai.

Justru karena itulah ekspektasinya menjadi tinggi.

Visual kei bukan genre yang mudah diterjemahkan keluar dari konteks budaya Jepang. Ia bukan hanya soal kostum atau tata rias, tetapi juga tentang dramaturgi, romantisisme, estetika klasik Eropa yang diolah melalui perspektif Jepang, serta cara membangun atmosfer yang sangat khas.

Banyak proyek di luar Jepang gagal memahami hal tersebut. Mereka berhasil meniru penampilan, tetapi gagal menghadirkan ruh yang membuat visual kei terasa hidup.

Torantula tampaknya berusaha menghindari jebakan itu. Setidaknya dari konsep yang ditawarkan, pendekatan mereka lebih dekat kepada dunia musikal visual kei dibanding sekadar citra visualnya.

Namun tantangan berikutnya jauh lebih besar.

Torantula harus berhenti menjadi kumpulan referensi.

Indonesia tidak membutuhkan Malice Mizer versi lokal.

Yang dibutuhkan justru adalah proyek yang mampu membawa semangat visual kei ke dalam pengalaman hidup musisi Indonesia. Pengalaman tumbuh di Jakarta, berada di tengah komunitas subkultur lokal, hingga membawa perspektif yang tidak mungkin dimiliki musisi Jepang.

Di situlah peluang terbesar Torantula berada.

Kalau proyek ini hanya berakhir sebagai surat cinta kepada visual kei, ia mungkin akan diapresiasi oleh komunitas yang memang sudah mencintai genre tersebut. Tetapi kalau Macan berhasil menerjemahkan seluruh pengaruh itu menjadi bahasa yang benar-benar miliknya sendiri, Torantula bisa menjadi salah satu proyek paling unik yang muncul dari skena independen Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Menariknya, keberanian itu sudah terlihat sejak rilisan pertama. Di saat banyak musisi mengejar formula yang mudah diterima algoritma, Torantula justru memilih genre yang bahkan tidak memiliki pasar besar di Indonesia.

Pilihan seperti ini hampir tidak pernah menghasilkan keuntungan instan.

Tetapi justru karena itulah ia terasa jujur.

Broyer du Noir ~深夜の幻聴~ mungkin baru menjadi pintu masuk menuju dunia yang sedang dibangun Torantula. Dunia itu masih menyisakan banyak pertanyaan, terutama mengenai bagaimana proyek ini akan berkembang setelah fase perkenalan selesai.

Sebab pada akhirnya, sebuah proyek tidak akan diingat hanya karena siapa yang menginspirasinya.

Ia akan diingat ketika orang mulai berhenti berkata, “Ini terdengar seperti Malice Mizer.”

Dan mulai berkata,

“Ini terdengar seperti Torantula.”

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment