Neraka Ini Akan Mengikuti Kita: Tentang Rantau, Debut EP SILAU

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah mampir, setidaknya sekali, di kepala siapa pun yang pernah tinggal cukup lama di Jakarta: sampai kapan?

Sampai kapan kita tahan? Sampai kapan kita bertahan?

Pertanyaan itu tidak selalu diucapkan dengan lantang. Kadang ia hanya menggantung di angkot yang berjejal, di kosan yang atapnya bocor, di notifikasi tagihan yang datang lebih cepat dari gajian, belum yang dikejar debt collector pinjol. Tapi ia ada. Dan SILAU, ensembel alternative rock yang baru saja merilis debut EP mereka Rantau pada Mei 2026, memilih untuk tidak membiarkan pertanyaan itu menggantung begitu saja. Mereka menghantamnya keras-keras, dengan distorsi, dengan lirik yang tidak berusaha indah, dengan vokal yang lebih memilih jujur daripada merdu.

Rantau adalah EP sepanjang 22 menit yang ditulis di dua kota: Jakarta Selatan dan Riverside, California. Dua kota yang jaraknya ribuan kilometer, tapi ternyata berbagi neraka yang sama.

Carnicería: Sebelum Kata-Kata

Carnicería berarti “rumah jagal” dalam bahasa Spanyol.

Track pertama ini sepenuhnya instrumental, dan foley-nya dikerjakan oleh Wing Narada, bassist sekaligus sound architect EP ini. Tidak ada melodi yang mencoba menyambut. Yang ada hanyalah suara-suara yang mungkin sudah begitu akrab sampai kita tidak lagi benar-benar mendengarnya: suara keseharian yang mentah, yang nyata, yang tidak diedit menjadi indah.

Ini bukan intro. Ini adalah konteks.

Dalam tradisi musik yang panjang, instrumen pembuka sering berfungsi sebagai pengantar, semacam ucapan selamat datang yang sopan sebelum album sungguhan dimulai. Tapi Carnicería tidak bekerja seperti itu. Ia bekerja lebih seperti establishing shot dalam film: menempatkan penonton di dalam ruang tertentu sebelum cerita dimulai, supaya ketika cerita itu datang, tubuh sudah tahu di mana ia berdiri.

Dan pilihan judulnya tidak bisa diabaikan. Rumah jagal. Sebelum satu kata pun diucapkan, SILAU sudah meletakkan sebuah metafora di atas meja.

Mendengar Carnicería untuk pertama kali, ada dua nama yang langsung muncul di kepala. Yang pertama adalah “Kata” dari The Trees and The Wild, yang menggunakan pendekatan serupa: suara sebagai materi, bukan dekorasi. Yang kedua adalah KUNTARI, khususnya di Mutu Beton, di mana suara-suara lingkungan bukan sekadar latar tapi jadi bagian dari argumen musik itu sendiri. Tapi di Carnicería, urutannya terasa lebih gelap dan lebih disengaja. Suara kendaraan yang menyala, tapak kaki, lalu tiba-tiba asahan pisau. Sebuah narasi kedatangan yang berakhir di tempat yang tidak ingin kamu bayangkan. Untuk sebuah track berjudul “rumah jagal,” itu bukan kebetulan. 

Terlalu Marah Buat Jakarta: Kesaksian dari Dalam Penjara

Jika Carnicería adalah establishing shot, maka Terlalu Marah Buat Jakarta adalah adegan pembunuhan pertama.

Lagu ini dirilis lebih dulu sebagai single sebelum EP keluar, dan mudah dipahami kenapa. Ia adalah yang paling terang dalam kemarahannya, paling eksplisit dalam tuduhannya. Tapi meletakkannya di posisi kedua, setelah foley yang mengendap-endap di track satu, adalah keputusan yang tepat. Karena kita butuh Carnicería untuk memahami dari mana amarah di lagu ini berasal: bukan dari ruang hampa, tapi dari keseharian yang sudah terlalu lama kita anggap wajar.

Secara musikal, SILAU mengambil nada-nada gelap black metal dan membalurinya dengan riuh-rendah post-hardcore 2000-an serta semangat eksplorasi prog rock. Referensi At the Drive-In yang disebut Wing Narada dalam press release bukan hanya jadi name-drop. At the Drive-In, khususnya di era Relationship of Command (2000), dikenal karena energinya yang klaustrofobik: vokal yang menjerit tapi artikulatif, instrumen yang ngamuk tapi terstruktur, produksi yang terasa seperti rekaman dari dalam ruangan yang temboknya makin menyempit. Wing sendiri menyebut ingin menangkap perasaan klaustrofobia itu, suara yang menurutnya harus “ngamuk dan menggaruk, tapi juga tetap warm.”

Hasilnya adalah lagu yang terasa seperti amarah yang sudah lama ditahan, bukan meledak sembarangan, tapi meledak dengan tujuan.

Liriknya bekerja dalam dua gerakan. Verse pertama dimulai dari memori: “di dalam penjara beton / aku mengingat hari-hari / dipenuhi mimpi yang api / dan tekad seangkuh besi.” Ini adalah suara seseorang yang masih ingat betul bagaimana rasanya percaya. Verse kedua lalu menariknya ke masa kini yang keras: “lautan mengeja kiamat / air bah naik ke belikat / negara kehabisan tanah / dan langit untuk dijarah.” Kontrasnya bukan kebetulan. Jarak antara “jutaan jalan terbuka” dan “jalanan mulai ditutup” adalah jarak antara generasi dengan janji yang diberikan kepada mereka dan realita yang akhirnya mereka terima.

Chorus-nya kemudian meletakkan segala sesuatunya dalam satu gambar: Jakarta yang beranjak karam, dengan kita masih di dalamnya, masih menunggu juru selamat yang tidak akan pernah datang.

Di sini ada resonansi dengan apa yang oleh filsuf politik Mark Fisher disebut sebagai capitalist realism: kondisi di mana kita lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada akhir dari sistem yang sedang menghancurkan kita. Chorus Terlalu Marah Buat Jakarta menangkap persis rasa itu. Bahtera tidak akan datang. Tapi kita masih berharap. Bukan karena kita bodoh, tapi karena tidak berharap pun tidak ada jalan keluarnya.

Vokalis Dymussaga Miraviori menyebut bahwa dalam kepalanya ada “Jakarta yang jadi sumber kemarahan dan patah hati” saat rekaman. Perasaan itu terdengar di setiap bagiannya, tapi yang paling menghantam mungkin ada di bridge: “satu per satu dikejar / satu per satu dipenggal / satu per satu diburai / dijagal negara / dicerai sejarah.” Tidak ada metafora di sini. Ini tuduhan yang diucapkan langsung ke muka.

Yang paling menarik dari Terlalu Marah Buat Jakarta bukan musiknya, tapi bagaimana Dymussaga memilih untuk tidak bernyanyi. Ia lebih banyak mendeklamasikan, melafalkan lirik dengan sedikit nada, seperti seseorang yang sedang berbicara tapi kebetulan ada musik di belakangnya. Pada titik tertentu, pendekatan itu justru menjadi keputusan artistik yang paling tepat untuk lagu ini. Karena vokalnya terdengar menenangkan, hampir seperti seseorang yang sedang bercerita dengan tenang di depan api unggun, tapi yang ia ceritakan adalah tentang kota yang tenggelam dan orang-orang yang dijagal negara. Ada perasaan janggal yang tidak bisa dihindari. Dan ketidaknyamanan itu, rasa bingung antara ingin rileks dan ingin marah secara bersamaan, adalah bukti bahwa deklamasi bukan keterbatasan. Itu pilihan. 

Mendarat Tanpa Kaki: Harapan yang Tertatih

Setelah Terlalu Marah Buat Jakarta menguras energi, Mendarat Tanpa Kaki datang dengan warna yang berbeda. Dan perbedaan itulah yang justru membuatnya terasa perlu.

Press release EP menyebut lagu ini terinspirasi dari harmoni jazz fusion untuk bicara tentang harapan yang dirawat “dengan canggung dan tertatih-tatih.” Biramanya pun tidak biasa: 5/4. Bagi pendengar yang tidak terbiasa dengan time signature ganjil, 5/4 menciptakan perasaan seperti berjalan dengan ritme yang sedikit tidak pas, seperti ada satu langkah yang selalu terlambat atau terlalu cepat. Untuk lagu tentang “mendarat tanpa kaki,” itu adalah pilihan yang sangat presisi.

Liriknya membuka dengan baris yang mungkin paling telanjang di seluruh EP: “tiada yang tersisa di Jakarta.” Bukan tuduhan, bukan kemarahan, hanya pernyataan yang diucapkan seperti seseorang yang akhirnya berhenti berdebat dengan dirinya sendiri. Dan dari titik itulah perjalanan dimulai: “aku angkat kaki bawa api / segenggam harapan / dan sisa nyala.“

Yang menarik dari narasi lagu ini adalah ia tidak meromantisasi kepergian. Tanah baru digambarkan sebagai “tanah yang begitu asing,” dan si pembicara tahu bahwa “tanah ini bukan surga, ia dibangun di atas darah.” Harapan ada, tapi bukan harapan yang naif. Ini adalah harapan yang sudah tahu ia mungkin salah, tapi tetap memilih untuk dirawat.

Chorus-nya, “aku takkan pernah tamat,” bisa dibaca dua cara: sebagai tekad, atau sebagai ketakutan. Mungkin memang keduanya sekaligus.

Perpindahan dari Terlalu Marah Buat Jakarta ke Mendarat Tanpa Kaki adalah salah satu momen paling mengejutkan di EP ini. Tiba-tiba ada sesuatu yang bisa digerakkan tubuh. Musiknya dancey, ada ritme yang mengundang, ada ruang untuk bernapas. Untuk sesaat, rasanya seperti EP ini sedang memberi jeda. Tapi kemudian liriknya datang, dan jeda itu tidak pernah benar-benar ada. Kontras itu bukan kecelakaan. Ini adalah cara SILAU membuat pendengarnya merasakan persis apa yang dirasakan oleh orang yang pergi merantau: tubuh bergerak maju, tapi sesuatu di dalam diri tetap berat.

Dan baris “tiada yang tersisa di Jakarta” itu, dalam konteks lagu ini, bukan pernyataan yang dramatis. Ia terdengar seperti kenyataan yang sudah lama diketahui tapi belum pernah diucapkan keras-keras. Banyak orang di Jakarta memang tidak punya apa-apa, tapi tetap memilih untuk tidak tamat. Bukan karena ada yang menunggu, tapi karena berhenti pun bukan pilihan yang tersedia.

Kota Ini Tinggal Jelaga: Ilusi yang Runtuh

Jika Mendarat Tanpa Kaki adalah momen harapan yang tertatih, maka Kota Ini Tinggal Jelaga adalah momen ketika tabir itu akhirnya tersingkap.

Lagu ini bercerita tentang Los Angeles, atau mungkin lebih tepatnya tentang mitos Los Angeles yang dibongkar. Kota yang dari kejauhan terlihat berkilauan ternyata tidak berbeda jauh dengan Jakarta yang ditinggalkan: “neraka melahap surga yang tersisa / percuma / kota ini tinggal jelaga.“

Secara produksi, ini mungkin lagu yang paling berlapis strukturnya di EP ini. Awalnya berbentuk demo elektronik dengan fondasi arpeggio synth, lalu breakbeat dan progresi akor yang lebih terang ditambahkan di chorus sebagai jukstaposisi terhadap verse yang lebih muram. Dan bridge-nya mengambil nuansa post-punk yang terinspirasi Bauhaus, salah satu band yang paling identik dengan estetika kegelapan sebagai ekspresi artistik yang sadar diri, bukan sekadar dekorasi.

Pilihan referensi Bauhaus bukan sekadar soal suara. Bauhaus lahir di konteks pasca-punk Inggris akhir 70-an, di tengah runtuhnya ilusi kemakmuran pasca-perang. Ada semacam kesesuaian tematik yang terasa disengaja: lagu tentang ilusi yang runtuh, dengan referensi band yang lahir tepat pada saat ilusi sedang runtuh di tempat lain.

Lirik verse pertama dan keduanya membangun gambaran yang sangat visual: “bangkai-bangkai tuhan / tercecer di jalan / ditumbuhi kilau” di verse satu, dan “malaikat ditangkapi / sayap mereka dipotongi” di verse dua. Kilau dan penangkapan. Gemerlap dan pemangkasan. Los Angeles dan Jakarta ternyata punya bahasa yang sama.

Kota Ini Tinggal Jelaga adalah lagu yang paling membuat gue bingung di EP ini, dan gue tidak malu mengakuinya. Jika harus mendeskripsikan, yang paling mendekati adalah Pelteras di Peranjakan tapi tanpa kekerasan dan kekasaran yang sama: ada sesuatu yang lebih santai, hampir shoegazy, sebelum di bagian akhirnya sesuatu bergeser. Di situlah nuansa post-punk yang disebut press release akhirnya terasa, meski gue tidak cukup dalam pengetahuannya untuk menunjuk lagu Bauhaus mana yang paling terasa bayangannya.

Tapi kebingungan itu sendiri mungkin bukan hal yang buruk. Lagu ini bicara tentang ilusi yang tersingkap, tentang kota yang dari kejauhan terlihat berkilau tapi dari dekat hanya menyisakan jelaga. Mungkin wajar kalau musiknya pun tidak langsung bisa dibaca. Dan jika ada yang merasa berbeda setelah mendengarnya, gue dengan senang hati membuka ruang untuk perspektif itu, atau membiarkan SILAU sendiri yang menjelaskan apa yang sedang mereka bangun di sini.

Mati Langkah: Kesaksian dari Sudut Pandang yang Tidak Sempat Bercerita

Ini mungkin track yang paling berat secara tematik di seluruh EP.

Mati Langkah bicara tentang pembunuhan berantai dari sudut pandang korban. Press release EP menyebut sebuah fakta yang tidak banyak dibicarakan: California adalah negara bagian dengan angka pembunuhan berantai tertinggi di Amerika Serikat, dengan lebih dari 1.777 jiwa tercatat sebagai korban hingga 2020. Dan para pelaku kerap menarget kelompok marjinal dan imigran, orang-orang yang kekerasan yang menimpa mereka “kerap luput tercatat.”

SILAU memilih untuk memberikan suara kepada mereka yang tidak sempat bersuara. Ini adalah keputusan artistik yang berani sekaligus etis, dan risikonya nyata: bagaimana merepresentasikan penderitaan orang lain tanpa mengeksploitasinya?

Liriknya menjawab risiko itu dengan cara menjaga sudut pandangnya tetap intim dan fisik: “wajah memar-memar / tangan lempar cakar / napas kian sukar.” Tidak ada narasi dari luar, tidak ada pengamat yang mendeskripsikan. Yang ada hanya tubuh yang sedang mengalami, hingga baris “pendar-pendar nyawa / larat dari mata” yang terasa seperti momen terakhir yang masih sempat diingat.

Chorus-nya, “nyawa menggenang / tak bisa pulang / tiada harapan / di tanah rampasan,” menyambungkan Mati Langkah dengan narasi besar EP: tanah yang dikunjungi dengan harapan ternyata adalah tanah yang dirampas, dan tidak semua orang yang mendarat di sana sempat pulang untuk bercerita.

Mati Langkah adalah track favorit gue di EP ini, dan gue tidak bisa menjelaskannya tanpa mengakui bahwa yang pertama muncul di kepala saat mendengarnya adalah KIAMAT dari Rekah. Keduanya duduk di ruang yang berdekatan: sama-sama bicara tentang kehancuran, sama-sama menggabungkan lirik yang berat dengan musik yang tidak memberi ampun. Tapi ada perbedaan yang penting. KIAMAT bicara tentang kehancuran yang datang dari dalam, kecemasan dan tekanan yang bersifat personal. Mati Langkah bicara tentang kehancuran yang datang dari luar, dari tangan orang lain, dari kekerasan yang menimpa tubuh seseorang yang bahkan bukan tubuhmu.

Lagu ini bicara tentang pembunuhan berantai dari sudut pandang korban, dan eksekusinya tidak memberi ruang untuk bernapas dengan nyaman. Yang paling menghantam adalah pertanyaan yang muncul setelahnya: emang ada pembunuhan yang adil? Karena di lagu ini, semua yang terjadi terasa seperti kiamat kecil bagi seseorang yang punya nama, punya harapan, punya tubuh yang merasakan sakit. Dan kekerasan itu diselesaikan seolah tuntas hanya dengan mencabut nyawa, seolah amarah bisa dilunasi dengan darah. Bahwa manusia kadang bisa jauh lebih jahat dari bayangan setan mana pun.

Llorona: Solidaritas Lintas Hantu

EP ini ditutup dengan Llorona, dan ini adalah penutup yang tidak mudah, tapi tepat.

Dalam folklor Amerika Latin, La Llorona adalah sosok perempuan yang menangis, hantu yang gentayangan di dekat perairan. Dalam versi paling umum ceritanya, ia adalah ibu yang menenggelamkan anak-anaknya dan kemudian menyesal selamanya, sebuah kisah yang selama berabad-abad digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak dan menjinakkan perempuan.

Tapi pada akhir abad ke-20, para penulis dan feminis Chicana mulai membaca ulang La Llorona. Dalam pembacaan mereka, Llorona bukan penjahat dan bukan sekadar hantu penyesalan. Ia adalah simbol perlawanan terhadap patriarki dan kolonialisme, representasi dari mereka yang ditindas, dibungkam, dan kemudian diubah menjadi monster dalam cerita yang ditulis oleh penindas mereka sendiri.

SILAU menempatkan pembacaan inilah yang mereka pilih untuk dijadikan dasar lagu penutup mereka, dan pilihan itu memberi Llorona bobot yang berbeda dari lima track sebelumnya. Ini bukan sekadar lagu tentang kekerasan atau keputusasaan. Ini adalah undangan untuk berdiri di sisi yang sama dengan mereka yang selama ini ceritanya ditulis oleh orang lain.

Lirik “tagih semua dendam / tagih semua” yang berulang di post-chorus tidak terdengar seperti kebencian. Ia terdengar seperti ingatan yang dipertahankan, seperti penolakan untuk lupa.

Dan bridge-nya, “mata ini terang dan serakah / taring ini liar dan serakah / jantung ini mati dan serakah,” membalikkan narasi monster. Serakah di sini bukan nista. Serakah di sini adalah prasyarat untuk bertahan.

Jika Terlalu Marah Buat Jakarta adalah kemarahan yang menghadap ke dalam, ke kota yang dicintai dan mengkhianati, maka Llorona adalah kemarahan yang menghadap ke luar, melampaui batas satu kota, satu negara, satu kelompok. Di sini, solidaritas bukan diumumkan. Ia hanya dijalankan.

Llorona adalah lagu yang paling berat buat gue dengarkan, dan mungkin yang paling personal.

La Llorona dalam cerita rakyat Amerika Latin adalah perempuan yang menangis, sosok yang gentayangan dan menakutkan. Tapi seperti banyak cerita rakyat tentang perempuan di berbagai budaya, ada pertanyaan yang perlu diajukan: siapa yang menulis cerita ini, dan untuk kepentingan siapa? Para feminis Chicana di akhir abad ke-20 mulai mengajukan pertanyaan itu, dan menemukan bahwa Llorona bisa dibaca bukan sebagai monster, tapi sebagai simbol perlawanan terhadap patriarki dan kolonialisme. Perempuan yang menakutkan, karena ia menolak dibungkam.

Gue baru mengetahui pembacaan ini ketika mulai mencari tahu lebih dalam soal lagu ini. Dan yang langsung muncul adalah betapa familiar strukturnya. Di Indonesia, hampir semua hantu yang punya dendam adalah perempuan. Kuntilanak. Sundel Bolong. Perempuan yang mati hamil tanpa suami, perempuan yang membunuh anaknya, perempuan yang libidonya tidak terkendali. Laki-laki hampir tidak pernah menghantui dengan cara yang sama. Dan itu bukan kebetulan. Itu adalah cara sebuah sistem bercerita tentang siapa yang harus ditakuti, dan dengan demikian, siapa yang harus dijauhi.

SILAU memilih untuk berdialog dengan Llorona versi yang sudah direbut kembali itu. Dan pilihan itu membuat lagu penutup ini terasa seperti undangan untuk berdiri di sisi yang sama dengan mereka yang ceritanya selama ini ditulis oleh orang lain.

Benang merahnya dengan Jakarta dan neraka yang dibicarakan sepanjang EP ini mungkin memang tidak langsung terlihat. Gue sendiri sempat kebingungan. Tapi mungkin itulah poinnya: bahwa kekerasan yang dialami perempuan di bawah sistem yang carut-marut ini, dari yang sekecil cerita rakyat yang memonsterisasi mereka, sampai yang sebesar tragedi-tragedi keluarga yang dihancurkan oleh jeratan hutang dan keputusasaan, adalah bagian dari neraka yang sama. Neraka yang tidak pernah hanya soal satu kota, satu negara, atau satu kelompok.

Sebagai penutup EP, Llorona membingungkan. Tapi mungkin memang harus begitu.

SILAU (dok. SILAU)

Epilog: Pemanasan yang Terlalu Matang untuk Sekadar Pemanasan

SILAU menyebut Rantau sebagai “ancang-ancang.” Sebelum album penuh, mereka perlu membangun sistem kerja dan palet suara baru.

Mungkin itu memang niat awalnya.

Tapi yang tersisa setelah 22 menit ini bukan sekadar demonstrasi kemampuan. Yang tersisa adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah diselesaikan: apakah kepergian adalah pelarian atau pencarian? Apakah ada tanah yang benar-benar bukan milik mereka yang berkuasa? Dan jika neraka memang mengikuti kita kemanapun kita lari, apa yang seharusnya kita lakukan selain berhenti melarikan diri dan mulai, perlahan, membangun tempat berdiri?

Rantau tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi ia mengajukan mereka dengan cara yang sulit untuk diabaikan.

Rantau adalah EP yang melelahkan. Bukan dalam artian buruk, tapi dalam artian yang paling jujur: ia menguras sesuatu dari pendengarnya. Lebih mudah menikmatinya kalau tidak harus memikirkannya terlalu dalam. Tapi begitu lo mulai berpikir, sulit untuk berhenti.

Dua puluh dua menit terasa terlalu singkat untuk semua yang ingin dikatakan SILAU. Mereka menyebut ini sebagai ancang-ancang, pemanasan sebelum album penuh. Tapi yang tersisa setelah mendengarkannya bukan perasaan sedang menyaksikan sebuah band yang sedang berlatih. Yang tersisa adalah perasaan bahwa materi ini terlalu besar untuk sekadar muat dalam format EP. Ini seharusnya album panjang.

Dan mungkin itu yang paling menggelisahkan dari Rantau: ia berhasil membuat pendengarnya haus akan sesuatu yang belum ada. Neraka ini memang mengikuti kita kemanapun kita lari. Tapi setidaknya sekarang ada yang memotretnya dengan jujur.

SILAU dapat didengarkan di https://silau.bandcamp.com/album/rantau.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment