Review Cutiotak “Jangan Lekas Dewasa”: Akhirnya Tumbuh Dewasa, Tapi Belum Berani Sepenuhnya

Satu risiko ketika band pop-punk yang selama ini dikenal lewat lagu-lagu jenaka tiba-tiba memutuskan menjadi sentimental. Perubahannya bisa terasa dewasa, atau justru terdengar seperti sedang memaksa pendengar menganggap mereka telah dewasa.

Untungnya, Jangan Lekas Dewasa lebih dekat ke kemungkinan pertama.

Setelah empat single yang banyak bermain di wilayah humor keseharian, Cutiotak akhirnya menurunkan tempo dan mengganti sudut pandang. Kali ini mereka berbicara sebagai orang tua yang melihat anaknya tumbuh terlalu cepat. Secara konsep, ini langkah yang masuk akal. Mengingat usia personilnya memang sudah berada pada fase kehidupan yang berbeda dibanding kebanyakan band pop-punk generasi baru, mereka tidak sedang pura-pura menjadi remaja lagi. Mereka memilih menulis dari pengalaman yang terasa lebih organik.

Masalahnya, konsep yang matang tidak otomatis menghasilkan lagu yang sama matangnya.

Secara musikal, Jangan Lekas Dewasa masih sangat nyaman berada di wilayah pop-punk era awal 2000-an. Progression chord-nya aman, tempo mid-tempo memberi ruang napas lebih lega dibanding rilisan mereka sebelumnya, sementara gitar tetap mempertahankan karakter bright khas pop-punk. Harmoni vokal menjadi salah satu nilai tambah terbesar lagu ini. Kehadiran Rori dan Erick sebagai vokalis utama memberi warna yang berbeda dibanding karakter vokal Macan yang selama ini lebih dominan. Perubahan ini membuat lagu terasa lebih kolektif sekaligus lebih hangat.

Namun justru karena memilih tempo yang lebih lambat, kelemahan Cutiotak mulai lebih mudah terlihat.

Hal pertama adalah soal melodi.

Kalau lagu-lagu cepat bisa ditopang energi, lagu reflektif hidup dan mati pada kualitas melodinya. Di sini, melodi Jangan Lekas Dewasa memang enak didengar, tetapi tidak cukup meninggalkan bekas. Setelah lagu selesai, yang lebih tertinggal adalah suasana hangatnya, bukan motif melodinya. Chorus memang nyaman dinyanyikan, tetapi belum mencapai level yang membuat pendengar spontan ingin memutarnya lagi hanya karena hook-nya begitu kuat.

Padahal, pop-punk terbaik hampir selalu menang di titik itu.

Lagu-lagu New Found Glory, The Starting Line, sampai beberapa karya awal Pee Wee Gaskins mampu membuat chorus tetap tinggal di kepala berjam-jam setelah lagu selesai. Jangan Lekas Dewasa belum sampai ke sana. Ia lebih mengandalkan rasa daripada daya ingat.

Produksinya juga cenderung bermain aman.

Mix terdengar bersih. Setiap instrumen punya ruang yang cukup, vokal terdengar jelas, dan tidak ada elemen yang saling bertabrakan. Namun justru karena semuanya terlalu rapi, lagu ini kehilangan sedikit sisi liar yang seharusnya menjadi DNA pop-punk. Tidak ada momen ketika gitar benar-benar mengambil alih emosi. Tidak ada ledakan dinamika yang membuat klimaks terasa benar-benar klimaks. Lagu ini berjalan mulus dari awal hingga akhir, tetapi juga terasa terlalu datar.

Ironisnya, justru lirik menjadi bagian paling kuat.

Alih-alih terjebak menjadi lagu motivasi atau lagu keluarga yang penuh klise, Cutiotak memilih pendekatan yang lebih sederhana. Mereka tidak sedang menggurui tentang menjadi dewasa, melainkan menunjukkan kecemasan orang tua melihat waktu bergerak terlalu cepat. Kesederhanaan itu membuat lagu terasa lebih manusiawi daripada dramatis.

Pilihan tema ini juga memperluas identitas Cutiotak. Selama ini mereka membangun citra sebagai band pop-punk dengan humor keseharian dan nostalgia awal 2000-an. Jangan Lekas Dewasa menunjukkan bahwa mereka mampu keluar dari persona “band lucu” tanpa kehilangan identitas sepenuhnya. Justru di sinilah perkembangan paling menarik dari single ini.

Tetapi masih ada satu persoalan besar yang menurut saya perlu mereka pikirkan menjelang album debut.

Identitas musikal.

Ini mungkin terdengar keras, tetapi justru karena seluruh personilnya adalah musisi yang sudah berpengalaman, ekspektasi terhadap karya mereka juga otomatis lebih tinggi.

Masalahnya, ketika Jangan Lekas Dewasa diputar tanpa memberi tahu siapa yang membawakannya, cukup sulit menemukan satu elemen yang membuat pendengar langsung berkata, “Oh, ini pasti Cutiotak.”

Tone gitar masih berada di wilayah pop-punk yang cukup generik.

Progression chord juga tidak terlalu berani keluar dari formula yang sudah akrab selama dua dekade terakhir.

Cara membangun klimaks pun masih mengikuti pola yang sudah sering dipakai banyak band pop-punk sebelum mereka.

Ini bukan berarti lagunya buruk.

Justru sebaliknya.

Masalahnya adalah lagu ini terlalu nyaman.

Dan rasa nyaman adalah musuh terbesar sebuah band yang sedang menuju album pertama.

Album debut seharusnya menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas, bukan sekadar membuktikan bahwa mereka mampu membuat lagu yang enak didengar.

Padahal modal Cutiotak sebenarnya sangat besar. Seluruh personilnya datang dari latar belakang musikal yang beragam, mulai dari session player, sound engineer, produser, hingga personel band lain. Pengalaman itu sebenarnya membuka peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih personal daripada sekadar mengulang pakem pop-punk nostalgia.

Yang mereka butuhkan sekarang adalah keberanian mengambil risiko.

Lebih berani menulis melodi.

Lebih berani membuat aransemen yang tidak selalu mengikuti ekspektasi genre.

Lebih berani terdengar seperti Cutiotak, bukan sekadar band pop-punk yang memainkan formula lama dengan sangat rapi.

Sebagai single penutup menuju album debut, Jangan Lekas Dewasa berhasil menjadi jembatan emosional yang hangat. Ia memperlihatkan sisi lain dari Cutiotak yang lebih reflektif dan lebih dewasa secara tema. Namun sebagai gambaran mengenai seberapa jauh identitas musikal mereka berkembang, lagu ini masih terasa sebagai langkah kecil, bukan lompatan besar.

Dan mungkin justru itu yang membuat saya penasaran terhadap album penuhnya. Karena kalau mereka berani keluar sedikit saja dari zona nyaman yang sudah mereka kuasai, Cutiotak punya peluang menjadi lebih dari sekadar band pop-punk nostalgia.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment