
Pokta Collective hadir kembali untuk bermusik (paling tidak ya isi flyernya). 23 Mei 2026 di Studioland Txl, Pokta Homecoming dilaksanakan. Bersama band ghaib Presence, roster andalan Pokta yaitu Cubfires dan Tough Love, Sunne dengan ambience doomnya, hingga Zzuf turut memeriahkan acara tersebut.
Dengan panggilan ala google translate, diumumkan bahwa band pertama akan main. Presence. Jujur, ini adalah pertama kali gue mendengarkan Presence (DSP pun belum pernah). Jam 16.00 mereka main dan turns out vibe musik dengan waktu mereka bermain itu sangat-sangat cocok. Musiknya yang simple serta vokal dari Anya dan Dai yang kalem, membuat sore itu terasa semakin syahdu. Mereka membawakan 2 lagu yang sudah ada di DSP yaitu Left Behind dan Different December, serta ada beberapa lagu baru dan cover. Nyore nya berasa banget.

Jeda 15-20 menit serta sore sudah semakin orange, akhirnya mba google translate itu manggil lagi. Kali ini Cubfires yang main. Penonton sudah lumayan di venue. Cubfires, gue ngerasa nya permainan mereka sangat rapi untuk live. Suara vokal yang bersahut-sahutan dan gitarnya yang sampe 3 memenuhi venue di sore itu. Rata-rata yang dibawakan adalah lagu dari album Evolving Mess. Album ungu itu membantu langit untuk berubah warna dari orange (alias nutup hari ke malem).

Jeda panjang, maghriban sampai isya dan akhirnya penampil ke 3. Tough Love. Agak sayang karena 5-8 menit awal ada kendala teknis, tapi semuanya dibayar tuntas oleh band beatdown tersebut. Gue pribadi belum pernah mendengarkan Tough Love karena “cukup keras” untuk gue, tapi sampai akhirnya mereka membawakan lagu Runtuh. Lagu tersebut full instrumental dan terbagi jadi 2 bagian. Bagian pertama sekitar 1:15 menit untuk build up serta bagian kedua 1:45 menit untuk melakukan kontemplasi. Bagian kedua itu yang membuat gue amaze. Lalu mereka juga membawakan Ritus Pukul Tiga di Gandaria. Gue merasa lagu ini sangat personal untuk mereka serta anak anak Pokta Collective. Abis isya yang lumayan emosional.

Penampil ke 4, Sunne (dibaca san, bukan sune). Jam 20 lebih diambil alih oleh band doom. Malam semakin gelap dibawa menjadi lebih gelap lagi. Lagunya juga berasa cukup panjang, mungkin sekitaran 5-6 menit. Pas mereka main gue memejamkan mata, bukan karena ngantuk – tapi karena band ini harus lebih dinikmati musiknya dibanding stage actnya. Musik Atmospheric, Doom, Ambience, Post-Rock yang mengambil alih malam untuk menjadi lebih gelap lagi. Super Cool!

Penampil terakhir yang ditunggu-tunggu semua warga, ZZUF. Mereka memang bukan band yang sering manggung, tapi jarak dari Pondok Gede ke Studioland tampaknya bukan halangan untuk datang dan memainkan 13 lagu ciamik sebagai penutup malam. Set mereka berjalan ketat karena diburu waktu, maklum Studioland tidak bisa beres-beres terlalu larut, tapi itu sama sekali tidak mengurangi keseruan. Justru saat ZZUF bermain, penonton terlihat paling hidup. Semua larut, bernyanyi keras, dan bergerak tanpa banyak pikir. Bahkan ada seorang crowd surfer yang nyaris menendang kepala Pandu saat sedang bersenang-senang di atas lautan manusia. Di sela-sela lagu, Petir, gitaris segala band yang ada di dunia, beberapa kali memberikan kata sambutan yang nadanya mirip Pak RT sedang membuka rapat warga. Lalu ada momen ketika Pandu dan Petir berdiri berhadapan, saling mengadu keahlian bermain gitar. Walaupun, kalau menurut gue, Petir sebenarnya cuma sedang mencari alasan untuk pamer gitar barunya.
After all, ada yang gue perhatiin disini. Pokta kayaknya lebih niat nongkrongnya sih dibanding ngeband. Terbukti bahwa lebih banyak aktivitas permainan dan keseniannya dibanding musik. Ada yang bawa Beyblade, YoYo, sablon gratis, dll. Sementara musiknya ya cuma live performance sama sedikit mixtape dari Pokta untuk jadi backsound. Emang kayaknya bener juga kalau mereka tuh ngeband cuma kedok, nongkrong yang utama!



