Sekian malam-malam tertentu ketika langit-langit kamar terasa lebih hidup daripada dunia di luar sana. Kita menatapnya terlalu lama, lalu tanpa sadar mulai memikirkan banyak hal: umur yang terus berjalan, masa depan yang belum jelas, atau kemungkinan bahwa hidup ternyata jauh lebih singkat daripada kecemasan-kecemasan yang terus kita pelihara.
“Sunken Ceiling”, single debut dari Diossoulo, lahir dari ruang kontemplatif semacam itu. Proyek solo milik Pradio Manggara Putra, yang selama ini dikenal sebagai vokalis dan gitaris IGMO, ini tidak terdengar seperti upaya membangun persona baru yang megah. Justru sebaliknya. Lagu ini terasa seperti seseorang yang duduk sendirian di kamar sempit, membiarkan pikirannya berjalan terlalu jauh sambil memandangi langit-langit yang perlahan runtuh di atas kepalanya sendiri.
Dio sendiri mengatakan bahwa ia memang sering melamun sambil melihat langit-langit kamar. Dari sana, muncul pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, waktu, dan kemungkinan bahwa umur manusia tidak akan pernah cukup panjang untuk memahami semuanya. Premis yang terdengar sederhana itu kemudian diterjemahkan menjadi trek akustik yang pelan, berkabut, dan nyaris seperti mimpi setengah sadar.
Produksi “Sunken Ceiling” terasa sangat rapuh dalam cara yang disengaja. Aransemen akustiknya tidak mencoba menjadi megah. Ambience yang mengelilingi lagu justru membuatnya terdengar seperti ruang kosong yang berdebu. Ada bunyi-bunyi yang terasa menggantung, seolah tidak pernah benar-benar selesai mendarat. Vokal Dio pun hadir seperti bisikan yang tidak ingin menggurui siapa-siapa. Ia terdengar lebih seperti seseorang yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
Di beberapa titik, lagu ini memang mengingatkan pada pendekatan folk muram ala Nick Drake atau spiritual melancholy milik Leonard Cohen. Tapi “Sunken Ceiling” tidak berhenti sebagai kumpulan referensi nostalgia. Ada sesuatu yang terasa sangat lokal dan personal di dalamnya. Sejenis kesunyian yang tidak romantis, tapi juga tidak sepenuhnya putus asa.
Perasaan pertama yang muncul waktu gue mendengar “Sunken Ceiling” adalah tenang. Tenang dalam arti yang aneh, karena lagu ini sebenarnya berbicara tentang hal-hal yang cukup eksistensial dan samar. Tapi justru dari kesamaran itu, Dio berhasil membuat lagu ini terasa nyaman untuk ditinggali beberapa menit.
Seketika gue teringat Adhitia Sofyan dengan bedroom-pop dan folk intimnya yang khas. Hanya saja, karakter vokal Dio terasa lebih berdimensi dan punya tekstur yang berbeda. Ada sesuatu yang lebih berkabut dan lebih “mengambang” dalam cara ia bernyanyi.
Yang menarik, lagu ini juga cukup cepat masuk ke telinga. Ia tidak datang dengan cara yang agresif atau terlalu ingin menarik perhatian. Justru sebaliknya, “Sunken Ceiling” terasa sangat sopan. Seolah lagu ini mengetuk pintu pelan-pelan lalu berkata, “Assalamualaikum, saya mau nyanyi.”
Dari bagian awal saja, atmosfernya sudah terasa sangat menari. Tapi semakin masuk ke bagian tengah, permainan gitarnya justru jadi bagian yang paling menarik perhatian gue. Ada nuansa twinkly yang biasanya lekat dengan gitar elektrik atau emo revival tertentu, tapi di sini dibawakan lewat gitar akustik dengan sangat halus.
Gue mendengarkan lagu ini malam hari, sambil duduk di bean bag, menyalakan sebatang kretek dan minum milk tea. Dan mungkin karena situasinya juga, lagu ini terasa seperti teman. Bukan teman yang banyak bicara, tapi teman yang duduk di sebelah lo sambil sama-sama bengong melihat langit berubah warna.
Kalau “Sunken Ceiling” punya warna, mungkin warnanya adalah pink senja yang lembut. Dan kalau lagu ini adalah cuaca, ia adalah sunset yang ditunggu-tunggu setelah hari yang terlalu panjang.
Banyak kekuatan “Sunken Ceiling” justru muncul dari cara Dio menulis liriknya. Ia tidak sedang menjelaskan sesuatu secara gamblang. Lirik-liriknya lebih terasa seperti potongan pikiran yang muncul ketika seseorang terlalu lama sendirian.
“Let the grains of wind flow
Let them come to the show
Along with softile of dust
Where some part’s turning rust”
Angin, debu, karat, bisikan, altar, bintang. Hampir semua citraan dalam lagu ini terasa seperti simbol pelapukan. Sesuatu sedang perlahan membusuk, memudar, atau bergerak menuju akhir. Namun Dio tidak pernah benar-benar menunjuk apa yang sedang hancur itu. Bisa hidupnya sendiri, bisa mimpi-mimpinya, atau bahkan waktu itu sendiri.
Bagian:
“In case, I am the night
I would bury the light”
terdengar seperti salah satu momen paling gelap dalam lagu ini. Ada kelelahan yang samar di sana. Bukan kelelahan yang meledak-ledak, melainkan kelelahan yang terlalu lama dipendam sampai akhirnya berubah menjadi bisikan pelan.
Namun yang menarik, “Sunken Ceiling” juga tidak sepenuhnya tenggelam dalam kesuraman. Lagu ini masih menyisakan ruang kosong untuk interpretasi. Bahkan ketika Dio berbicara tentang kehampaan, ia melakukannya dengan sangat lembut. Seolah ia tahu bahwa beberapa pertanyaan memang tidak perlu dijawab terlalu cepat.
Secara harfiah, “sunken ceiling” mungkin bisa dibayangkan sebagai langit-langit yang amblas, turun, atau runtuh perlahan ke bawah. Sesuatu yang seharusnya menjadi pelindung di atas kepala justru mulai mendekat dan menekan ruang hidup kita sedikit demi sedikit. Buat gue, metafora itu terasa dekat dengan kesepian sekaligus penerimaan. Seperti ketika seseorang sadar bahwa ada hal-hal dalam hidup yang perlahan runtuh, tapi ia terlalu lelah untuk melawan sepenuhnya.
Karena itu, lagu ini buat gue lebih dekat ke tema kesepian dan penerimaan dibanding sekadar kematian atau kecemasan. Ada rasa hampa di dalamnya, tapi bukan kehampaan yang panik. Lebih seperti seseorang yang duduk diam di tengah reruntuhan pikirannya sendiri sambil berkata, “yaudah, mungkin memang begini.”
Bagian yang paling ngena buat gue jelas:
“In case, I am the night
I would bury the light”
Ada sesuatu yang sangat gelap tapi juga jujur di bagian itu. Gue sering merasa kesepian di malam hari, dan lirik itu terasa seperti bentuk kemarahan yang dipendam terlalu lama. Semacam dorongan destruktif ketika kepala terlalu penuh dan lo ingin membakar semuanya karena kesal terhadap hidup, keadaan, atau bahkan diri sendiri. Bukan berarti benar-benar ingin menghancurkan sesuatu, tapi lebih ke rasa marah yang akhirnya cuma muter di kepala sendiri.
Dan justru karena lagu ini dibawakan dengan sangat tenang, bagian itu terasa makin kuat. Dio gak terdengar seperti orang yang sedang meledak-ledak. Ia terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup bersama pikirannya sendiri sampai kemarahan itu berubah jadi kontemplasi.
Menurut gue, Dio juga lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain. “Sunken Ceiling” terdengar seperti monolog batin yang kebetulan dibagikan ke publik. Kita sebagai pendengar cuma sedang mengintip isi kepala seseorang yang sedang melamun terlalu dalam.
Mungkin tafsir gue juga cukup berbeda dari maksud asli Dio, karena gue melihat lagu ini dari sudut pandang yang lebih penuh rage dan kemarahan. Sementara Dio sendiri terasa jauh lebih zen, lebih tenang, bahkan seperti menerima absurditas hidup dengan kepala dingin. Ada semacam energi ubermensch di sana. Bukan dalam arti superior, tapi seperti seseorang yang mencoba berdamai dengan kekosongan tanpa harus lari darinya.
Sebagai proyek personal, Diossoulo juga menarik karena ia membuka sisi Pradio yang mungkin tidak sepenuhnya bisa muncul di IGMO. Jika musik IGMO terasa besar, padat, dan penuh energi progressive rock, maka Diossoulo justru mengecilkan semuanya menjadi sangat intim. Tidak banyak lapisan bombastis di sini. Tidak ada kebutuhan untuk terdengar gagah. Yang tersisa hanya ruang kosong, gitar akustik, dan seseorang yang sedang mencoba memahami pikirannya sendiri.
Fakta bahwa Dio mengerjakan hampir seluruh proses lagu ini sendiri juga membuat “Sunken Ceiling” terasa makin personal. Produksi DIY-nya tidak terdengar steril. Justru ada ketidaksempurnaan kecil yang membuat lagu ini terasa manusiawi. Seperti catatan harian yang sengaja tidak dirapikan terlalu bersih.
Beberapa pendengar mungkin akan menganggap lagu ini terlalu “ngawang” atau terlalu lambat. Dan memang, “Sunken Ceiling” bukan tipe lagu yang menawarkan payoff instan. Lagu ini meminta pendengarnya untuk diam sejenak, membiarkan dirinya tenggelam dalam atmosfer yang samar, lalu menerima bahwa tidak semua hal harus dimengerti saat itu juga.
Menurut gue, kekuatan terbesar dari “Sunken Ceiling” adalah ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang besar, megah, atau clickbait. Lagu ini gak memaksa diri untuk jadi pusat perhatian. Dia cuma hadir, bercerita apa adanya, dengan cara yang jujur dan pelan. Justru di situ letak kekuatannya: kesederhanaan yang gak dibuat-buat.
Gue gak terlalu ngerasa ada bagian yang benar-benar “kurang maksimal” secara mencolok. Bukan berarti lagu ini sempurna, tapi lebih ke arah dia memang tidak mencoba untuk sempurna. Ada sesuatu yang sengaja dibiarkan apa adanya, dan itu bikin lagu ini terasa manusiawi.
Kalau soal memori, lagu ini agak sulit dihafalkan secara langsung. Tapi gue bisa kebayang kalau suatu saat hafal, ini bakal jadi tipe lagu yang bisa dinyanyiin sambil bengong, mungkin sambil ngeliatin angka rekening yang pelan-pelan mendekati nol.
Dari sisi penulisan, ada momen di mana gue agak keinget Sore, terutama ketika mereka menulis lirik-lirik bahasa Inggris yang terasa sederhana tapi punya nuansa melankolis yang khas. Ada kesamaan dalam cara membiarkan kata-kata mengalir tanpa terlalu dipoles jadi sesuatu yang terlalu “pintar”.
Produksinya sendiri menurut gue sudah intimate dengan cara yang tepat. Gue bahkan bisa ngerasa kayak Dio lagi main gitar di depan gue langsung. Ada jarak yang sangat dekat antara pendengar dan musiknya, seolah gak ada dinding studio di antara keduanya.
Secara identitas, ini jelas jauh dari IGMO yang lebih heavy dan padat. “Sunken Ceiling” terasa seperti alter ego Dio yang lebih pelan, lebih dalam, dan lebih sendirian. Bukan versi lain yang berusaha menyaingi IGMO, tapi versi yang memang hidup di ruang emosional yang berbeda.
Kalau dibandingkan dengan rilisan folk/ambient lain, posisi lagu ini menurut gue ada di tengah. Gak terlalu “menye” atau overly sentimental, tapi juga bukan folk yang penuh energi atau semangat seperti Iksan Skuter. Dia ada di ruang abu-abu yang cukup nyaman untuk ditinggali, tapi gak selalu mudah untuk langsung diingat.
Jujur, gue belum yakin apakah gue bakal terus ngikutin rilisan Diossoulo ke depan, karena gue gak terlalu dalam di ranah folk. Tapi gue juga gak menutup kemungkinan. Mungkin di hari-hari ketika kepala lagi penuh atau lagi pusing, gue bakal balik lagi nyari “Sunken Ceiling” di DSP gue.
Dan satu hal yang cukup pasti: gue sangat pengen lihat lagu ini dibawakan live. Karena gue ngerasa energi intimnya bakal beda banget kalau disaksikan langsung, mungkin jadi lebih rapuh, atau justru lebih menghantam pelan-pelan.
Di era ketika semua hal bergerak terlalu cepat dan orang-orang dituntut terus produktif, “Sunken Ceiling” memilih untuk berhenti sejenak dan bengong. Ia tidak mencoba menjadi lagu folk paling megah, paling puitis, atau paling kompleks. Lagu ini hanya ingin duduk diam bersama kegelisahannya sendiri.
Dan mungkin, justru karena itulah “Sunken Ceiling” terasa begitu manusia.




