[REVIEW] Bagaimana Megan Santana Mendefinisikan Megan Santana dengan A MAN DOES NOT EAT THE SAME STEW TWICE

Ruangan itu terasa sempit, dengan wajah-wajah berbeda mengisi setiap sudut. Baik yang diundang maupun tidak, semua memijakkan kaki di lantai Niima Studio pada malam sesi dengar yang dipersembahkan oleh DSMJ Studios—sebuah malam yang dirancang untuk memberi pengalaman pertama terhadap album penuh Megan Santana bertajuk A MAN DOES NOT EAT THE SAME STEW TWICE.

Di antara kepala-kepala yang mengangguk mengikuti tempo, obrolan berhenti di tengah chorus, dan beberapa teriakan spontan muncul saat bar tertentu terasa terlalu tepat untuk diabaikan. Kompilasi lagu-lagu dalam album tersebut terasa seperti sebuah film—atau sebuah cerita—yang menggambarkan perspektif Megan Santana terhadap fase-fase hidupnya.

Album ini akhirnya diluncurkan pada 20 Februari 2026. Pada malam itu, karya yang sama meninggalkan arti berbeda ketika didengarkan sendirian.

Megan Santana (dok. Megan Santana)

Menit pertama disalurkan seperti sebuah kata pengantar—kutipan yang ditulis sebagai selamat datang. Suara tetesan air yang nyaring, ditemani tekanan angin yang biasa terdengar dari baling-baling kapal luar angkasa, memulai album ini pada trek pembuka: for it is not the same stew. Nada-nada yang beriringan perlahan menggambarkan ketenangan yang tak lama lagi akan hilang. Semua suara berdiri pada tempatnya masing-masing, dan hidangan pembuka ini disuguhkan oleh, “Welcome home, Columbia. Beautiful, beautiful,” meninggalkan kesan nyaman dan dimiliki—seperti kapal luar angkasa yang baru saja mendarat di bumi.

Telinga terasa familiar dengan beberapa frekuensi yang eksak sejak track pertama, membuat perpindahan antar lagu tidak terasa tergesa. Eksplorasi pada low-end dan penumpukan elemen suara menciptakan perbedaan cerita yang tetap beralur—seperti buku kompilasi cerpen dengan standar penulisan yang sama. Hal ini membuat Megan terlihat bukan hanya serius tentang ceritanya, tetapi juga peduli terhadap kenyamanan pendengarnya.

Kepekaan ini membuat seluruh album terdengar konsisten di luar ketidakkonsistenannya. Album ini adalah sebuah rumah, di mana setiap track memiliki arah masuk cahaya yang berbeda. Kamar depan lantai dua dengan cahaya lebih hangat terasa pada PRAY FOR YOUR DOWNFALL, sementara kamar terkecil yang tak memiliki jendela terasa pada BARBED WIRED TEETH. Adapun ketenangan halaman belakang rumah—dengan sinar matahari yang sedikit terfilter oleh tinggi bangunan—terasa pada OUT. Di luar beberapa dinamika yang terbangun tanpa resolusi, pemilihan tracklist ini tetap mengikat setiap lagu menjadi satu kunjungan yang utuh.

Megan mengisi hampir seluruh lagu dengan pengalaman-pengalaman yang ia lewati sebelum pembentukan album ini, membuat narasi yang dibangun terasa personal. Ia menceritakan hal-hal yang harus ia tinggalkan hingga hal-hal yang telah ia dapatkan, menumbuhkan pesan bahwa yang telah hilang tak dapat mendefinisikan apa yang kini dimiliki. Bahkan pada track kolaborasi—seperti MEGANON bersama Enon Xio dan PEDALS bersama BOBA FAT—Megan tak pernah meninggalkan fakta tentang dirinya.

Kenalkan aku Megan jangan segan panggil Tora

Penegasan ini terasa kuat pada track kelima bertajuk MSTB (Megan Santana Type Beat), di mana ia mendefinisikan dirinya bukan hanya sebagai musisi, tetapi juga sebagai manusia—seorang teman. Lagu ini menjadi homage kepada lagu pertamanya, TABLE OF GODS, serta kepada band Supple; dua titik penting yang turut membentuk Megan Santana. Di sini, posisi Megan saat ini—dan bayangan masa depannya—terlihat paling jelas.

I looked at me and thought “Goddamn, that’s how I’m supposed to smile,”
I looked at shoes and how I dressed, that’s how I used to style,
and I ain’t seen that hoodie in a while

Megan kerap menceritakan hal-hal yang membangunnya, dan pada lagu OUT, ia menerima bahwa dirinya yang lama tetap merupakan bagian dari dirinya. Penulisannya menjaga flow dan rima khas rap, namun pendekatan topik yang ia bawa membuat narasinya menonjol. Pendekatan ini tidak terasa seperti foto profil yang menggambarkan dirinya dalam sekali tatap, melainkan seperti ajakan untuk berkunjung ke ruang kosong yang telah ia dekorasi—khusus bagi pendengar.

I stand upon the castle that I built with my own hands
These people that I cherish, we sip wine and we break bread
but they won’t be there when I bleed from my head

Cerita-cerita tersebut ditutup oleh track kolaborasi bersama Noni. Dari judul yang terbaca berkomplemen dengan lagu pembuka—for it is not the same stew, and he is not the same man—lagu ini terdengar sebagai kesimpulan bahwa Megan Santana telah tumbuh dan berubah. Namun, dialog dua suara dalam liriknya justru memunculkan pertanyaan: apakah Megan telah benar-benar belajar dari pengalamannya, atau akan kembali menghancurkan dirinya dengan pola yang sama—kepeduliannya terhadap orang yang salah?

Mendengarkan album ini untuk kedua kali—sendirian, tepat pada waktu rilis—memberi kesimpulan yang berbeda: Megan Santana sedang mendefinisikan perspektifnya tentang Megan Santana. Jika dibandingkan dengan rilisan sebelumnya, pertumbuhannya terlihat jelas; bukan hanya dari sisi musikalitas, tetapi juga dari keberanian membiarkan identitasnya mengeras.

Setelah track terakhir selesai, satu visual tergambar: Megan Santana kecil berdiri di atas meja kantin sekolahnya, menyanyikan setiap kata dari lagunya. Sebagian terpesona, sebagian lainnya memandang sinis—namun semuanya hadir dan melingkari meja itu. Album ini tidak terdengar seperti upaya untuk memperluas pasar; ia terdengar seperti upaya memperjelas diri. Megan Santana tidak sedang menyesuaikan diri dengan lanskap, melainkan menandai wilayahnya di dalamnya.

A MAN DOES NOT EAT THE SAME STEW TWICE kini telah tersedia di berbagai platform musik digital, beserta video musik BARBED WIRED TEETH/MSTB yang dapat disaksikan melalui YouTube.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment