Bayangkan sore yang gerah, amplifier berdengung pelan di pojok ruangan, dan kopi panas yang masih mengepul di tangan. Itulah suasana pertama kali aku “nyicip” karya terbaru TOILETKISS, unit trio hard rock/stoner punk asli Banyubiru, Semarang. Meski namanya bisa membuat alis terangkat, suara gitar dan drum mereka segera membuktikan: ini bukan sekadar candaan belaka.
Sejak dibentuk pada Desember 2021 oleh Irawan (lead guitar & vocal), Andi (bass), dan Gilang (drum), TOILETKISS memang terinspirasi nama besar seperti The Datsuns, Wolfmother, The Partisans, hingga Ramones. Cerita lucu di balik nama mereka — ketika sang vokalis tak sengaja menyaksikan adegan “dewasa” di depan toilet saat berlibur — justru menyuntikkan sentuhan rebellious yang pas untuk genre mereka. Buktinya, single kedua mereka, “Tua Bodoh!”, menampar stereotip tentang kolotnya generasi tua dengan amunisi riff gahar dan ketukan drum tak kenal ampun.
Lewat “Tua Bodoh!”, TOILETKISS mengangkat obrolan ramai ibu-ibu dan bapak-bapak yang gemar ngotot soal tudingan “anak muda sekarang maunya apa sih?”. Liriknya menyengat, nyaris sinis, tapi tetap jenaka — seolah mengajak kita tertawa sebelum sadar, “Eh, iya juga, ya?” Musiknya? Distorsi penuh tenaga, dipadu groove bass yang melesat, membawa nuansa panggung kelam tapi mengasyikkan. Saat chorus tiba, rasanya kepala ingin menggoyang tanpa kompromi, seakan semua keluhan kita menuangkan amarah ke speaker.
Tidak mudah memang menorehkan suara sepadat itu ke dalam format digital. Untungnya, TOILETKISS dibantu Shasha Aji dari Crypticalsins Recorded, yang menangani rekaman, mixing, dan mastering. Setiap dentuman drum Gilang terdengar bulat, setiap lick gitar Irawan memancar energi, dan denting bass Andi tak pernah tenggelam — semua terhidang prima. Sentuhan terakhir pada artwork oleh Setyo Rvm (Sibuksantai) juga tak kalah menggoda: tinta-tinta yang berserakan dipadu coretan kasar, menyiratkan kekacauan indah yang sama seperti musik mereka.
Kalau kamu pernah merasa muak dengan ocehan tetangga, sindiran halus keluarga, atau celoteh generasi tua yang seolah paling tahu arah hidupmu, maka “Tua Bodoh!” dari TOILETKISS bisa jadi pelampiasan yang sah. Dari detik pertama, kita disambut dentuman gitar berat yang kasar dan tanpa basa-basi — nuansa stoner punk yang membusuk di garasi, tapi justru nikmat buat telinga yang lapar energi mentah. Gitar mereka terdengar serampangan, tapi itu memang niat: distorsi kasar dan riff repetitif yang seolah berkata, “Nggak perlu teknikal, yang penting lo dengerin amarah gue.”
Di balik keributan itu, drum Gilang bekerja layaknya mesin beat down: tidak mewah, tapi keras kepala. Pukulan snare-nya terasa seperti mengetuk pintu akal sehat yang sudah lama tak dibuka, sementara hi-hat terbuka di bagian chorus memberi rasa “berantakan tapi hidup” — kayak obrolan di warung kopi jam dua pagi. Vokal Irawan pun bukan tipikal nyanyian bersih; ia lebih seperti teman nongkrong yang tiba-tiba naik darah, ngomong cepat, naik nada, dan nggak peduli suara sumbang. Separuh teriakan, separuh sindiran, tapi justru di situlah daya tariknya — vokal ini terasa jujur, kasar, dan personal.
Lagu ini juga nggak neko-neko dalam struktur. Dengan pola intro–verse–chorus yang sederhana, TOILETKISS tahu betul cara menjaga pendengarnya tetap fokus pada isi pesan: kritik frontal terhadap stereotip generasi tua yang sok bijak, tapi diam-diam lebih toksik dari yang mereka tuding. Produksi lagunya pun dibuat “kotor”, dalam artian penuh noise, saturasi, dan dinamika yang sengaja dibiarkan liar. Mixing-nya terasa seperti rekaman live di ruang sempit yang dindingnya penuh stiker band bawah tanah — tidak sempurna secara teknis, tapi justru autentik.
Menurutku pribadi, “Tua Bodoh!” tidak hanya lagu marah-marah atau protes keras, tapi semacam terapi kolektif yang membebaskan — terutama bagi kita yang kerap disudutkan oleh aturan lama dan ocehan generasi tua yang sok tahu. Lagu ini seperti ajakan untuk menertawakan absurditas zaman lewat teriakan lantang. Aku bisa membayangkan memakai headphone saat mood sedang jengkel, lalu memutar lagu ini dengan volume penuh: seketika beban terasa hilang, digantikan adrenalin murni. Ini bukan lagu yang kamu kunyah pelan-pelan sambil nyeruput teh — ini lagu yang kamu muntahkan bareng teman-teman, sambil lompat dan teriak, “Tuaaa… Bodoooh!” Dan kadang, cuma itu yang kita butuhkan untuk tetap waras. TOILETKISS, lewat nama nyeleneh dan kisah absurd mereka, membuktikan bahwa musik bisa jadi pelampiasan paling jujur, paling liar, tapi juga paling menyegarkan.
Kalau kamu butuh soundtrack untuk menyalurkan amarah atau sekadar mencari sensasi baru, cek “Tua Bodoh!” di semua platform streaming. Siapkan tenggorokan untuk ikut bernyanyi lantang — karena terkadang, menertawakan absurditas zaman memang cara terbaik kita merasa hidup.
[INTRO MAGZ/PUTI CININTYA ARIE SAFITRI]




