15 Februari 2026, tepat sehari setelah Hari Valentine. Sajama Cut mengadakan acara Recollecting yang kelima, bertempat di Coma Mbloc Space. Acara itu dimeriahkan oleh Mothrahead, Turbokidz, Aldrian Risjad, Pembacaan Puisi dari Rae Fadillah, Rimba, serta sang pembuat acara Sajama Cut. Sejujurnya ini adalah kali pertama gue menonton mereka semua. Kalau untuk mendengar sih yang sudah pernah cuma Aldrian Risjad, Rimba sebelum rilis Technicolor Meeting, serta Sajama Cut ⎼ itu pun masih berasa aneh untuk mendengar Sajama Cut dengan lirik yang tidak ada rimanya, diksi-diksi yang engga umum, serta engga ketebak arah liriknya kemana.
Acara dimulai dengan penampilan dari Mothrahead pada pukul 17.00. Band metal ini melakukan kick off dengan sangar. Penonton yang masih sedikit membuat sang vokalis dan gitaris bisa berlenggang bebas di depan stage sambil perform. Musiknya menurut gue cukup keren, gitar yang “njelimet”, vokal yang “teriak”, bassline yang cukup berasa, serta ada sentuhan “double pedal” di lagu terakhir yang ternyata itu dimainkan dengan bantuan synthesizer! Keren, efisien.

Selanjutnya adalah Turbokidz dan langsung disambung dengan pembacaan puisi oleh Rae Fadillah. Hari yang semakin sore dan mendekati maghrib ini memang cocok diisi dengan musik yang lebih cooling down serta monolog yang dipadukan dengan petikan gitar. Cukup syahdu untuk menyambut maghrib.

Pasca maghrib adalah penampilan dari Aldrian Risjad. Gue tau beliau itu solois, sebelum gabung ke Sajama Cut. Yang dibawakan kali ini adalah musik-musiknya dia yang menurut gue baru karena belum pernah gue dengerin sama sekali. Pertama kali denger, gue langsung bergumam “ah pantes gabung ke sajama, musiknya Sajama Cut Coded banget!”. Jujur, emang secara sound, musik, dan liriknya agak nyerempet Sajama Cut. Tapi, setelah gue ngobrol dengan bang Aldri langsung ya memang beliau cukup terpengaruh dengan album Godsigma (2020) dari Sajama Cut itu sendiri, jadi ya masuk akal kalau musiknya dia Sajama Cut Coded.


Hari semakin malam, Rimba pun melenggang ke stage. Alunan disko yang dibawakan membuat para penonton bergoyang dan bernyanyi bersama. Tapi yang gue perhatiin adalah Bass yang dimainkan oleh Marvin Muhammad, tidak berhenti sama sekali. Terus berjalan-jalan di 4 senar yang ada di alat musik tersebut. Tapi ternyata gitar dan drums yang dimainkan oleh Vari Rivano dan Ivando Jeremy pun tidak ingin kalah, mereka juga mempunyai beberapa waktu untuk menunjukkan skillnya. Rimba, jazz, disco, semua dihajar.




Sampai akhirnya penghujung acara, Sajama Cut. Lagu pertama langsung jagoan di album The Osaka Journals yaitu Alibi. Banyak penonton yang di depan stage bernyanyi, seraya Marcel Thee memberikan micnya untuk dipegang oleh para penonton. Selain itu, khasnya Marcel Thee adalah bernyanyi bersama penonton dengan cara turun ke stage, penonton dan vokalis berteriak bersama di lagu yang sedang dimainkan. Lalu ada satu titik dimana gue ngerasa harus ikutan untuk mendapatkan treatment yang sama, yaitu pas gue lihat ada penonton yang kepalanya dipegang dan diusap oleh Marcel Thee. Buat gue itu seperti “pembaptisan” untuk menjadi Cult (Fans Sajama Cut).





Akhirnya ada di lagu Fallen Japanese, gue mendapatkan “pembaptisan” tersebut, sangat senang tentunya. Sampai akhirnya ada hal yang bikin senang lagi yaitu saat “ada yang mau request lagu?” dan gue seraya berteriak “Semangkuk!!”, sebenarnya judul lagu itu adalah “Rachmaninoff dan Semangkuk Mawar Hidangan Malam”, tapi karena menurut gue susah mengucapkan Rachmaninoff, akhirnya gue teriakan Semangkuk. Itu juga dikabulkan oleh Marcel Thee, sungguh senangnya. Sampai akhirnya “Homili/Menatap Wajah Tuhan”, “Paintings”, “Adegan Ranjang”, dan ditutup oleh “Less Afraid” yang menandakan pertunjukan segera berakhir.
Pertama kali menonton performers tersebut secara live membuat hari itu sangat fun menurut gue. Gimana menurut lo yang ikutan nonton?



