Welcoming 2026 – Live at Studioland: Panggung Awal Tahun Versi Loide Records

No comments

“Awali tahun ini dengan musik!”

Mungkin begitu ujar Loide Records dalam mengadakan Welcoming 2026 – Live at Studioland. Acara yang dilaksanakan pada minggu ketiga di bulan Januari ini dimeriahkan oleh Ministry of, Parasupra, Jugo Djarot, Supple, serta kawan dari Yogyakarta yaitu The Bunbury. Mayoritas dari performer ini belum pernah gue tonton, serta gue sangat menantikan penampilan dari The Bunbury — band yang gue tunggu penampilannya dari 2024.

Perjalanan dari Bekasi menuju Studioland, Tangerang Selatan ini jauh banget dan makan waktu banyak. Banyak stop di KRL, pindah jalur, serta ramai. Untungnya cuaca hari itu lumayan mendukung, berawan dan agak gerimis dan hujan sedikit di sore hari. Sampai di venue, gue pun coba mencari personil The Bunbury. Selain karena kebutuhan konten, gue juga mau kenal mereka secara personal.

Akhirnya acara pun dimulai dan diawali dengan Ministry of. Dengan Setlist yang sudah settle serta beberapa lagu baru yang lumayan reguler dimainkan. Lalu adzan maghrib dan dilanjutkan dengan Parasupra. Penampilan mereka sangat rapi, musik dan sound yang dihasilkan pun menurut gue lumayan baru, serta teknik bernyanyi yang cocok untuk musiknya. Top dan enganging buat gue.

Sudah 2 performer melancarkan performancenya dengan format full-band, saatnya menurunkan tempo sedikit dengan acoustic set dari Jugo Djarot. Ditemani piano dan shaker, Jugo mengajak kita untuk santai dengan lagu-lagu “cinta” yang ia bawakan. Ada beberapa lagu yang relate sama gue dan berakhir menjadi lagu favorite serta heavy rotation gue selama bulan Januari. Pertama kali mendengarkan dan menonton Jugo Djarot gue merasakan seperti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, unreal aja rasanya bahwa ada musisi yang gue gatau, bagus banget, dan nyantol sampai sebulan.

Jugo Djarot (dok. Muhammad Reyhand Okta Paboli/Intro Magz)

Selanjutnya adalah band yang gue tunggu-tunggu, The Bunbury. Mirza dengan outfitnya yang “bebas” dan sebotol minuman berwarna di tangannya langsung mengubah vibes ruangan itu menjadi lebih ungu biru. Membawakan EP Alius Malicious, maxi-single “Jakarta Prayer”, serta beberapa lagu baru dari EP terbarunya “Romance Reigns”, mengajak kita kembali merasakan era kejayaan brit-pop. Gue merasa bahwa vokalnya Mirza itu The Smiths banget, lalu sound gitar yang pas banget dengan vokalnya membuat The Bunbury asik untuk didengarkan secara live. Gue sendiri excited banget pas Blue Haze dikumandangkan — gue sendiri punya kisah di lagu itu, jadinya ya ada suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan ketika mendengarkannya secara live. The Bunbury, one of the best performances I saw in 2026.

The Bunbury (dok. Muhammad Reyhand Okta Paboli/Intro Magz)

Setelah itu adalah penampilan penutup dari Supple. Band shoegaze asal Tangerang Selatan ini menutup Welcoming 2026 dengan setlistnya yang lumayan power, karena langsung diawali dengan lagu “Why I’m So”. Malam yang ditutup dengan shoegazing menjadikan Welcoming 2026 sangat berkesan buat gue. Gigs pertama di 2026.

Also Read

Bagikan:

Agmal Salim

Music Journalist Wannabe

Leave a Comment