Logic Lost – Disposable Gods (2025)

Di antara kekuasaan, pemberontakan, dan kefanaan.

Di tengah lanskap musik eksperimental Indonesia yang kian meluas, Logic Lost kembali muncul dengan sebuah pernyataan yang keras, muram, dan politis. Melalui album terbarunya, Disposable Gods, proyek elektronik milik Dylan Amirio ini mengulurkan tangan pada kemarahan kolektif, menggali luka sosial dan sejarah pemberontakan, sambil menatap langsung wajah kekuasaan yang korup dan tak lagi bersembunyi.

Album ini akan dirilis pada 28 November 2025 oleh Avon Terror Corps, label asal Inggris yang dikenal sebagai rumah bagi para penjelajah sonik ekstrem. Sebagai pembuka, Logic Lost merilis single “Insurgents” pada 10 Oktober 2025, sebuah kolaborasi eksplosif bersama Rully Shabara (Senyawa, Setabuhan, Wusa) yang berfungsi sebagai teriakan dari mereka yang selama ini ditindas.

Logic Lost (dok. Dylan Amirio)

Dalam “Insurgents,” suara Rully bukan sekadar vokal; ia hadir seperti arwah yang menyeruak dari perut bumi, mengumandangkan perlawanan terhadap sistem yang menindas. Lapisan drone, distorsi metal, dan denyut techno membentuk lanskap sonik yang padat dan mengguncang, sementara vokal Rully menembus di antara kebisingan, seperti teriakan rakyat yang mulai terdengar setelah lama dibungkam. “Ini momen ketika masyarakat mulai melawan,” ujar Dylan. “Suara Rully di sana adalah suara kaum tertindas yang akhirnya bangkit.”

Konsep besar Disposable Gods tumbuh dari refleksi Dylan terhadap dunia yang semakin terang-terangan menormalisasi kesewenang-wenangan.

“Dalam iklim global saat ini,” ujarnya, “para penguasa dan pemangku ekonomi memeluk budaya impunitas—budaya yang membuat mereka nyaman memamerkan eksploitasi dan kesombongan. Mereka tidak lagi bersembunyi karena merasa kebal dari konsekuensi.”

Bagi Dylan, kekuasaan adalah seni yang gelap: seni mengeksploitasi insting dasar manusia—ketakutan, keserakahan, kedengkian, dan peng-‘lain’-an. Dari sinilah ia melihat para penguasa sebagai dewa-dewa palsu: fana, tapi merasa abadi. “Mereka menuhankan diri,” lanjutnya, “namun sebesar apapun mereka melihat dirinya, mereka tetap fana, dan karena itu bisa jatuh di tangan sesama fana.”

Dikembangkan selama tiga tahun, Disposable Gods memadukan unsur metal, digital hardcore, drone, dan techno dalam satu ruang sonik yang brutal dan ritualistik. Dylan mengaku ingin menciptakan karya yang terinspirasi oleh band-band metal dan hardcore yang dulu membuka matanya terhadap seni subversif; nama-nama seperti System of a Down, Godflesh, dan Sepultura.

Album ini juga menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin dan wilayah: selain Rully Shabara, hadir Wukir Suryadi (Senyawa), Deathless Ramz (Deathless), Lody Andrian (Gowa), dan Ferdian Maulana (Hakkon). Proses produksi dan mixing dilakukan bersama Deathless Ramz, sementara mastering dipercayakan kepada James Plotkin,nama yang identik dengan eksperimentasi ekstrem lewat proyek seperti Khanate dan Phantomsmasher.

Di balik narasi soniknya yang keras, Disposable Gods juga merekam denyut perlawanan global: dari Indonesia, Nepal, dan Bangladesh masa kini hingga Rumania dan Filipina di masa lalu, serta seruan terhadap genosida yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina. Album ini menjadi refleksi atas siklus abadi antara kekuasaan dan perlawanan—bahwa setiap tiran, sekuat apa pun mereka menindas, pada akhirnya hanyalah makhluk fana yang dapat digulingkan.

Daftar lagu Disposable Gods memperlihatkan perjalanan tematik yang menegangkan:

  • World of Prayer (feat. Gowa)
  • Insurgents (feat. Rully Shabara)
  • Fix Bayonets
  • Jurang Kuasa
  • Biadab (feat. Wukir Suryadi)
  • Trash Begets Trash
  • Fear of Razorblades
  • Without Sin

Setiap lagu menggambarkan peristiwa tertentu:

World of Prayer – Masyarakat yang hancur diperkenalkan: warganya tertindas dan penuh dengan keputusasaan. Sisa-sisa kekuasaan tampak di dunia yang terlihat hancur lewat hak yang dirampas, ketimpangan yang nyata, dan pemandangan yang porak poranda.

Insurgents – Keheningan pecah ketika yang tertindas bangkit. Massa membanjiri jalanan dalam aksi demonstrasi besar-besaran, dan kegundahan mereka akhirnya meledak menjadi dentuman suara.

Fix Bayonets – Ketegangan memuncak menjadi kekerasan. Aparat berbekal senapan menghadang dan menembaki tanpa henti, namun rakyat terus maju menembus rentetan peluru.

Jurang Kuasa – Massa semakin mendekati markas para pemimpin. Para penindas yang tersisa mulai melarikan diri sementara lingkungan mereka dilalap api.

Biadab – Para penindas meninggalkan benteng mereka dan terdampar di tempat asing, menyadari bahwa kini mereka sedang diburu. Arogansi mereka pudar saat mereka berusaha menerima kenyataan yang brutal.

Trash Begets Trash – Para penindas berhasil ditangkap, kusut dan hancur. Kabar tentang kejatuhan mereka menyebar, dan masyarakat merayakan berita tersebut.

Fear of Razorblades – Para mantan penguasa penindas dieksekusi.

Without Sin – Kebingungan muncul tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika vakum kekuasaan melebar, ketidakpastian merayap masuk. Suara-suara mengancam mulai terdengar sebagai calon pengganti.

“Insurgents” kini tersedia di Bandcamp, Nina Protocol, serta berbagai platform streaming seperti Apple Music. Sementara Disposable Gods akan dirilis sepenuhnya pada 28 November 2025 melalui Avon Terror Corps, dengan distribusi di Indonesia oleh Orange Cliff Records. CD edisi terbatas dapat dipesan melalui avonterrorcorps.bandcamp.com.

Lebih dari album, Disposable Gods adalah dokumen sonik dari zaman yang penuh amarah. Ia adalah sebuah upaya untuk memahami dan menantang wajah kekuasaan yang terus berubah. Melalui frekuensi bising, Logic Lost berbicara tentang kefanaan para “dewa” dunia, dan tentang keyakinan bahwa di balik semua kekacauan, pemberontakan selalu menemukan jalannya.

Tim Editor

Puti Cinintya Arie Safitri Avatar

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment